B50 Resmi Berlaku, RI Stop Impor Solar dan Hemat Devisa Rp170 Triliun

Penulis: Shintya
Editor: Henni Rachma Sari
Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:03 WIB
B50 Resmi Berlaku, RI Stop Impor Solar dan Hemat Devisa Rp170 Triliun
B50 Resmi Berlaku, RI Stop Impor Solar dan Hemat Devisa Rp170 Triliun [Tim Media Presiden]

astakom.com, Jakarta - Indonesia resmi off dari ketergantungan impor solar! Selama puluhan tahun lamanya, impian soal kemandirian energi nasional jadi cita-cita besar bangsa. Bayangin aja, tiap tahunnya Indonesia harus ngandelin pasokan luar negeri dengan mengimpor sekitar 3 sampai 4 juta kiloliter solar. Ketergantungan ini nyedot alokasi devisa negara sampai ratusan triliun rupiah yang mengalir keluar negeri begitu aja.

Tapi sekarang lembaran baru resmi dibuka. Sejak program mandatory B50 diluncurkan secara resmi sama Presiden RI Prabowo Subianto awal Juli lalu di Karawang, Jawa Barat, peta ketahanan energi kita langsung berubah total. Untuk pertama kalinya dalam catatan sejarah, Indonesia sukses zero impor produk solar dan mandiri penuhi kebutuhan domestik.

Lewat B50, separuh isi tangki solar kendaraan kita sekarang murni bersumber dari bahan bakar nabati sawit hasil keringat petani Indonesia sendiri.

Dampak nyata dan suara pemerintah

Keberhasilan eksekusi kebijakan B50 ini jelas ngasih multiplier effect yang masif banget buat ketahanan ekonomi nasional. Sekitar Rp170 triliun devisa negara yang tadinya harus dibayarkan buat komoditas solar impor, sekarang berhasil diselamatkan dan sepenuhnya berputar di dalam perekonomian domestik. Sektor riil langsung gercep bergerak, dan rantai pasok dalam negeri jadi makin hidup.

Penyerapan bahan baku minyak kelapa sawit domestik gak cuma ngasih jaminan kepastian pasar buat para petani sawit di berbagai penjuru tanah air, tapi juga sukses nambah lapangan pekerjaan baru secara signifikan. Tercatat, penyerapan tenaga kerja melonjak tajam dari yang sebelumnya 1,8 juta orang jadi 2,1 juta orang.

Merdeka energi beri manfaat buat masyarakat

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, nangkep banget esensi dari transformasi historis ini. Menurutnya, lewat B50 Indonesia berhasil membangun sumber daya energi sendiri.

"Bayangkan kalau bahan bakar yang menggerakkan kendaraan kita berasal dari kebun petani Indonesia. Melalui B50, kita sedang membangun energi yang semakin mandiri dari sumber daya yang kita miliki sendiri dan untuk manfaat yang kembali kepada masyarakat Indonesia. Ini adalah tentang bagaimana energi yang kita gunakan hari ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia," kata Dwi dalam keterangan resminya dikutip astakom.com pada Sabtu (10/10/2026).

Kedaulatan energi yang berkelanjutan

Lebih lanjut, visi kemandirian energi ini juga dipastikan bukan cuma soal angka-angka makroekonomi yang keren di atas kertas, tapi bener-bener membawa kemanfaatan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat luas, khususnya pelaku usaha kecil dan petani lokal.

"Artinya, energi tidak hanya soal bagaimana kita memenuhi kebutuhan bahan bakar, tapi juga bagaimana manfaat ekonominya tetap berada di dalam negeri. Jadi, ketika kita berbicara kemandirian energi, ada manfaat yang ikut dirasakan oleh masyarakat," katanya.

Jadi kedaulatan energi bukan lagi sekadar wacana, tapi real action yang ngebuktiin kalau Indonesia mampu berdiri di kaki sendiri. Momen ini bikin Indonesia makin pede dan nge-gas menuju masa depan energi yang lebih mandiri lagi dan berkelanjutan. (Shanty/RaM)

Gen Z Takeaway

Indonesia resmi menerapkan B50 dan mengklaim berhasil menghentikan impor solar, sekaligus menyelamatkan devisa hingga Rp170 triliun. Kebijakan ini juga memperkuat penyerapan sawit lokal dan meningkatkan tenaga kerja dari 1,8 juta menjadi 2,1 juta orang. Jadi, B50 bukan cuma soal energi mandiri, tetapi juga peluang ekonomi yang manfaatnya bisa dirasakan petani dan masyarakat dalam negeri.

Mandatory B50 B50 Impor Solar Kementerian ESDM Ketahanan Energi Kedaulatan Energi

Infografis

Terkini