Selat Hormuz Panas, Pemerintah Ambil Jalur Sat-Set: Stop Tender BBM, Langsung Berburu Minyak Mentah!
astakom.com, Jakarta - Kondisi geopolitik di Timur Tengah lagi bikin deg-degan dunia Akibat konflik yang makin memanas, rantai pasok energi global ikut tersendat parah. Nggak mau ambil risiko stok nasional amblas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi mengambil langkah drastis menghapus model pengadaan bahan bakar minyak (BBM) via mekanisme lelang (tender) yang biasanya dipegang oleh PT Pertamina (Persero).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman blak-blakan menjelaskan kalau situasi pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah saat ini penuh ketidakpastian.
Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi yang sedang membara bikin Indonesia langsung kehilangan 25 persen pasokan minyak nasional. Padahal, minyak dari kawasan tersebut biasanya jadi andalan karena harganya yang cenderung lebih terjangkau dibanding wilayah lain.
Amankan cadangan energi
Karena jalur logistik utama terganggu, pemerintah harus putar otak demi mengamankan cadangan energi dalam negeri. Solusinya, alih-alih pasrah menunggu tender yang sepi peminat, pemerintah memilih jalan hunting alias blusukan langsung ke negara-negara yang punya cadangan minyak yang berlimpah.
"Kita lakukan hunting untuk menjaga agar stok nasional itu ada dan hunting ini tidak lagi mekanisme pengadaan seperti sebelumnya. Jika sebelumnya Pertamina itu melakukan lelang, maka sekarang lelang itu relatif pesertanya tidak ada," kata Laode dalam Rakor Inflasi bersama Kemendagri di Jakarta, dikutip astakom.com pada Senin (05/10/2026).
Konsekuensi harga lebih tinggi demi ketahanan energi
Langkah tanpa tender ini pasti punya konsekuensi tersendiri di sektor finansial. Karena dibeli langsung dari luar skema reguler demi menyelamatkan ketahanan energi, harganya berpotensi melambung lebih tinggi dibandingkan pengadaan normal biasanya.
"Jadi, kita harus cari negara-negara yang punya kelebihan stok, kita beli dengan harga akan bisa berpotensi lebih tinggi daripada harga kalau kita lakukan dengan pengadaan biasa," ungkapnya.
Jurus sat-set lewat BLU Lemigas
Sebelum kebijakan darurat ini digeber secara masif, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebenarnya sudah lebih dulu membocorkan langkah taktis berupa pembentukan Badan Layanan Umum (BLU) dari Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi Lemigas. BLU ini dipersiapkan untuk menjadi tangan kanan langsung pemerintah dalam mengeksekusi impor minyak mentah.
Dengan adanya BLU Lemigas, proses birokrasi yang panjang dan berbelit-belit bisa dipangkas habis supaya kerjanya makin sat-set. Menteri Bahlil menjelaskan bahwa mekanisme ini sangat efektif, terutama jika dimanfaatkan saat Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke negara produsen minyak.
BLU Lemigas
"Tujuannya agar memotong mata rantai daripada proses yang selama ini terjadi. Itu bisa G-to-G, kalau Presiden (Prabowo) katakanlah melakukan kerja sama dengan negara lain, terkait dengan crude, itu bisa langsung G-to-G dan ditindaklanjuti lewat G-to-B lewat negara gitu ya," jelas Bahlil saat ditemui di Kompleks DPR RI, Jakarta beberapa waktu lalu.
Melalui kombinasi langkah hunting langsung dan pemangkasan rantai pasok lewat BLU Lemigas ini, pemerintah berharap stabilitas energi nasional tetap terjaga dengan aman di tengah badai ketidakpastian global. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Selat Hormuz lagi panas, pemerintah pun nggak mau ambil risiko stok energi nasional ikut seret. Alhasil, mekanisme tender BBM yang minim peminat mulai ditinggalkan dan pemerintah memilih hunting langsung minyak mentah dari negara-negara yang punya surplus. Konsekuensinya, harga minyak bisa lebih mahal, tapi langkah ini dianggap perlu demi menjaga pasokan tetap aman. Di sisi lain, BLU Lemigas disiapkan buat memangkas rantai birokrasi dan bikin pengadaan crude lebih sat-set lewat skema G-to-G maupun G-to-B.









