Recap Pertemuan Presiden Prabowo dengan Sejumlah Tokoh Dunia yang Berkunjung ke Indonesia di 2024

Penulis: Hapsari
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 2 Oktober 2026 | 01:08 WIB
Recap Pertemuan Presiden Prabowo dengan Sejumlah Tokoh Dunia yang Berkunjung ke Indonesia di 2024
Ilustrasi pertemuan Presiden Prabowo dengan negara-negara yang pernah berkunjung ke Indonesia tahun 2024 (Generate AI - astakom.com)

astakom.com, Jakarta - Pelantikan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2024 bukan cuma menjadi agenda politik dalam negeri. Tapi momentum itu juga membuat Jakarta kedatangan sejumlah kepala pemerintahan dan utusan negara sahabat.

Sebanyak 19 kepala negara dan kepala pemerintahan serta 15 utusan khusus hadir dalam rangkaian pelantikan Presiden Prabowo-Gibran. Setelah pelantikan, Presiden Prabowo juga menerima sejumlah tokoh tersebut dalam pertemuan bilateral di Istana Merdeka.

Nama-nama yang datang cukup beragam. Ada Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, Wakil Presiden China Han Zheng, Wakil Perdana Menteri Australia Richard Marles, Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy, hingga Perdana Menteri Timor-Leste Xanana Gusmao.

Tapi, apakah pertemuan itu hanya seremonial aja? Ternyata nggak semuanya begitu. Ada pertemuan yang memang menghasilkan pembahasan strategis dan kemudian ditindaklanjuti melalui kerja sama konkret.

Berikut beberapa pertemuan yang paling relevan buat melihat arah hubungan luar negeri Indonesia pada awal pemerintahan Presiden Prabowo.

Singapura: dari pertahanan sampai investasi

Salah satu hubungan yang cukup penting bagi Indonesia adalah dengan Singapura. Pada 20 Oktober 2024, beberapa jam setelah dilantik, Presiden Prabowo menerima Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka. 

Pertemuan itu jadi salah satu agenda bilateral presiden dengan pemimpin negara sahabat yang hadir dalam pelantikannya.

Tapi, pembicaraan Indonesia-Singapura nggak berhenti di situ. Pada 6 November 2024, Lawrence Wong kembali datang ke Jakarta. Kali ini dalam kunjungan resmi pertamanya ke Indonesia sejak Prabowo dilantik sebagai presiden.

Pertemuan ini membahas sejumlah isu yang jauh lebih konkret. Di bidang pertahanan dan hukum, Indonesia dan Singapura berkomitmen melaksanakan Defense Cooperation Agreement atau perjanjian kerja sama pertahanan, termasuk pengaturan wilayah latihan militer.

Bagi Indonesia, isu ini penting karena kerja sama pertahanan nggak hanya menyangkut latihan militer, tetapi juga hubungan strategis dengan salah satu negara tetangga terdekat.

Di sektor ekonomi, Presiden Prabowo juga mendorong Singapura buat memperluas akses pasar bagi produk Indonesia. Pemerintah juga bahas soal peningkatan investasi Singapura di sejumlah sektor prioritas, seperti energi terbarukan, hilirisasi industri, ketahanan pangan, digital dan semikonduktor, kesehatan, hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara atau IKN.

Indonesia dan Singapura membahas interkoneksi listrik lintas batas, pengembangan hidrogen hijau di Sumatera, pembangkit listrik tenaga surya, serta tindak lanjut kerjasama carbon capture and storage atau penangkapan dan penyimpanan karbon.

Untuk pangan, kedua negara membahas transfer teknologi dan pertukaran keahlian, termasuk pertanian perkotaan serta pengembangan kawasan lumbung pangan. Pemerintah Indonesia juga menyatakan bakalan mempercepat penyelesaian nota kesepahaman mengenai keamanan pangan dan teknologi pertanian.

Jadi, kalau ditarik garis besarnya, hubungan dengan Singapura nggak hanya bicara soal tetangga dekat. Tapi ada kepentingan yang cukup luas, yakni investasi, energi, pangan, teknologi, pertahanan, perdagangan dan pengembangan SDM.

China: menjaga hubungan ekonomi sekaligus kerja sama strategis

Pertemuan lain yang tidak kalah penting adalah dengan Wakil Presiden China Han Zheng. Han Zheng datang ke Indonesia sebagai utusan khusus Presiden China Xi Jinping khusus buat menghadiri pelantikan Presiden Prabowo pada 20 Oktober 2024. 

Setelah pelantikan, ia bertemu langsung dengan Presiden Prabowo. China menyampaikan ucapan selamat dari Xi Jinping kepada Presiden Prabowo.

Saat pertemuan, Han Zheng menyampaikan bahwa China ingin memperkuat kepercayaan strategis dengan pemerintahan baru Indonesia, memperdalam kerja sama di berbagai bidang, dan meningkatkan koordinasi dalam isu internasional maupun regional.

Kepala negara sendiri menyampaikan bahwa China merupakan negara besar dengan pengaruh signifikan sekaligus mitra kerja sama penting buat Indonesia. Pemerintah baru Indonesia menyatakan ingin melanjutkan hubungan yang bersahabat dengan China dan memperdalam kerja sama yang saling menguntungkan.

Ada satu hal yang menarik dari pertemuan tersebut. China menyoroti agenda yang disampaikan Presiden Prabowo dalam pidato pertamanya, terutama soal ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan. 

Beijing menilai agenda tersebut sejalan dengan pendekatan pembangunan yang berorientasi pada masyarakat.

Tapi ada yang perlu dicatat kalau pertemuan Han Zheng dengan Presiden Prabowo pada 20 Oktober 2024 lebih tepat disebut sebagai penegasan arah hubungan dan komitmen strategis, bukan sebagai momen lahirnya satu proyek baru bernilai tertentu.

Artinya, hasil utamanya adalah memastikan hubungan Indonesia-China tetap berjalan dan memasuki pemerintahan baru tanpa putus arah.

Hal itu penting karena China merupakan salah satu mitra ekonomi dan investasi utama Indonesia. Berbagai kerja sama yang sudah berjalan, termasuk proyek infrastruktur dan perdagangan, membutuhkan kesinambungan hubungan politik tingkat tinggi.

Australia: pertahanan menjadi salah satu titik paling konkret

Kalau mencari pertemuan yang berkaitan langsung dengan pertahanan, Australia menjadi salah satu yang paling menonjol.

Pada 20 Oktober 2024, Presiden Prabowo menerima Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Australia Richard Marles di Istana Merdeka.

Menariknya, kerja sama pertahanan Indonesia-Australia sebenarnya sudah memiliki perkembangan penting sebelum pelantikan Presiden Prabowo.

Pada 29 Agustus 2024, ketika masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan sekaligus presiden terpilih, Presiden Prabowo bersama Richard Marles menandatangani Defence Cooperation Agreement atau DCA Indonesia-Australia. Perjanjian tersebut berada pada level traktat dan mencakup berbagai bidang kerja sama pertahanan.

Ruang lingkupnya cukup luas, mulai dari keamanan maritim, kontra terorisme, bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana, dukungan logistik, pendidikan dan pelatihan, sampai industri pertahanan.

Perjanjian itu juga membuka ruang buat aktivitas dan latihan bersama yang lebih kompleks, pertukaran personel pendidikan dan pelatihan, kerja sama sains dan teknologi, serta perlindungan hukum bagi personel masing-masing negara ketika melakukan kegiatan yang disepakati.

Karena itu, pertemuan Presiden Prabowo dan Marles setelah pelantikan bisa dilihat sebagai bagian dari kesinambungan hubungan pertahanan yang sudah dibangun sebelumnya.

Buat Indonesia, kerja sama ini relevan bukan hanya dari sisi militer. Keamanan maritim, penanggulangan bencana, peningkatan kemampuan personel, hingga industri pertahanan juga berkaitan dengan kepentingan nasional yang lebih luas.

Inggris: membuka babak baru di bidang ekonomi hijau dan keamanan

Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy juga menjadi salah satu pejabat asing yang bertemu Presiden Prabowo di Istana Merdeka pada 20 Oktober 2024. Kunjungan Lammy membawa agenda yang cukup jelas.

Pemerintah Inggris ingin membuka babak baru hubungan dengan Indonesia, terutama melalui pertumbuhan ekonomi hijau, keamanan, inovasi dan transisi energi bersih.

Inggris juga menyatakan ingin memperdalam kemitraan strategis dengan Indonesia sebagai negara G20 dan salah satu negara penting di kawasan Indo-Pasifik.

Bidang ekonomi hijau menjadi salah satu fokusnya, dalam kunjungan tersebut, Lammy juga dijadwalkan bertemu perusahaan Indonesia yang mendapat dukungan Inggris buat ngembangin inovasi hijau dan melihat langsung keahlian Inggris dalam mendukung pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia.

Jadi, hasil pertemuan Indonesia-Inggris pada momentum pelantikan lebih banyak berupa penguatan arah kerja sama.

Tidak ada satu proyek raksasa yang langsung diumumkan sebagai hasil pertemuan itu. Tetapi ada agenda untuk memperkuat kerja sama ekonomi hijau, keamanan, pertumbuhan ekonomi dan transisi energi.

Hubungan tersebut kemudian berkembang. Pada November 2024, Indonesia dan Inggris mengumumkan Strategic Partnership baru yang menjadi kerangka untuk memperluas kerja sama bilateral.

Timor-Leste: persoalan perbatasan menjadi perhatian utama

Kalau Singapura banyak berbicara soal ekonomi dan investasi, Australia soal pertahanan, China soal hubungan strategis, maka pertemuan dengan Timor-Leste memiliki isu yang sangat dekat dengan kepentingan wilayah Indonesia: perbatasan.

Pada 21 Oktober 2024, sehari setelah pelantikan, Presiden Prabowo menerima Perdana Menteri Timor-Leste Kay Rala Xanana Gusmao di Istana Merdeka. Pertemuan tersebut jadi salah satu agenda bilateral pada hari kedua Presiden Prabowo menjabat sebagai presiden.

Salah satu isu yang dibahas adalah penyelesaian perbatasan darat kedua negara.

Menurut laporan media resmi Timor-Leste, Xanana menyampaikan bahwa penyelesaian sejumlah persoalan perbatasan darat menjadi prioritas hubungan kedua negara. 

Dalam pertemuan itu, Presiden Prabowo meminta Menteri Luar Negeri Sugiono buat meninjau lagi kesepakatan yang berkaitan dengan persoalan perbatasan sebelum pembahasan teknis dilanjutkan.

Ini penting soalnya perbatasan Indonesia-Timor-Leste bukan sekadar garis di peta, tapi kawasan perbatasan berkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat, mobilitas orang dan barang, keamanan, serta hubungan sosial kedua negara.

Sebelumnya, Indonesia dan Timor-Leste telah menyepakati sejumlah bagian batas darat, termasuk segmen Noelbesi-Citrana dan Bijael Sunan-Oben. Karena itu, pertemuan Presiden Prabowo-Xanana lebih banyak menjadi momentum buat mendorong penyelesaian persoalan yang masih tersisa.

Dengan kata lain, hasil konkretnya pada saat itu belum berupa seluruh persoalan perbatasan yang langsung selesai. Tetapi ada dorongan politik agar pembahasan dan koordinasi teknis dilanjutkan.

Jadi, apa hasil kunjungan para tokoh asing itu?

Kalau semua pertemuan tersebut digabungkan, ada pola yang cukup terlihat.

  • Pertama, pertahanan dan keamanan menjadi salah satu agenda penting. Hubungan dengan Australia dan Singapura menunjukkan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo sejak awal memberi perhatian pada kerja sama keamanan kawasan.
  • Kedua, ekonomi dan investasi menjadi agenda besar. Dalam hubungan dengan Singapura, misalnya, pembahasannya masuk ke investasi, hilirisasi, energi, pangan, digital, semikonduktor, kesehatan hingga IKN.
  • Ketiga, energi dan ketahanan pangan mulai menjadi bagian dari diplomasi ekonomi Indonesia. Kerja sama dengan Singapura mengenai listrik lintas batas, energi terbarukan dan teknologi pertanian menjadi contoh konkretnya.
  • Keempat, hubungan dengan negara-negara besar tetap dijaga. Pertemuan dengan Han Zheng memperlihatkan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo ingin mempertahankan hubungan strategis dengan China sekaligus membuka ruang kerja sama baru.
  • Kelima, ada perhatian terhadap persoalan kawasan dan negara tetangga, termasuk penyelesaian perbatasan dengan Timor-Leste.

Jadi, kedatangan para tokoh dunia ke Jakarta pada awal pemerintahan Presiden Prabowo memang punya dua lapisan.

  1. Lapisan pertama adalah diplomasi, karena mereka datang menghadiri pelantikan dan menyampaikan ucapan selamat kepada presiden baru Indonesia.
  2. Lapisan kedua soal kepentingan nasional, setelah acara seremonial selesai, ada pembicaraan mengenai perdagangan, investasi, pertahanan, energi, pangan, teknologi, keamanan dan perbatasan.

Dan yang perlu digarisbawahi, tidak semua pertemuan langsung menghasilkan perjanjian baru. Sebagian merupakan penguatan hubungan dan komitmen untuk menindaklanjuti kerja sama yang sudah ada.

Kelihatan kalau diplomasi awal pemerintahan Presiden Prabowo nggak hanya soal siapa yang datang ke Istana. Tapi yang lebih penting yakni apa yang dibicarakan, mana yang menghasilkan dokumen atau tindak lanjut, dan sejauh mana pembicaraan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kerja sama nyata buat Indonesia. (hPs/aNs)

Gen Z Takeway

Begitu Presiden Prabowo Subianto resmi dilantik sebagai Presiden RI pada 20 Oktober 2024, Istana Merdeka langsung ramai oleh tamu dari berbagai negara. Ada perdana menteri, wakil presiden, menteri luar negeri, sampai utusan khusus yang datang ke Jakarta. Mereka bukan cuma hadir buat menyaksikan pelantikan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, tetapi juga bertemu langsung dengan Presiden RI. Kalau dilihat sekilas, agenda seperti ini memang terlihat sebagai diplomasi klasik, kayak datang, salaman, foto bersama, lalu pulang. Tapi kalau dibedah lebih dalam, sejumlah pertemuan ternyata membawa agenda yang cukup penting buat Indonesia. Ada yang membahas investasi dan energi, ada yang masuk ke pertahanan, ada pula yang menyentuh persoalan perbatasan. 

Presiden Prabowo Diplomasi Lawrence Wong singapura Presiden China 2 Tahun Presiden Prabowo Tamu negara Kunjungan Kenegaraaan

Infografis

Terkini