Mobilitas Meningkat, KAI Perkuat ‘Safety at Scale’ di Perlintasan Sebidang
astakom.com, Jakarta – Jumlah pengguna kereta api yang terus bertambah ikut membuat urusan keselamatan perlu diperkuat di berbagai titik perjalanan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah perlintasan sebidang, karena lokasi ini menjadi titik pertemuan langsung antara perjalanan kereta api dan aktivitas pengguna jalan.
Melansir keterangan resmi KAI pada Kamis, (01/10/2026), PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menerapkan pendekatan safety at scale untuk memperkuat keselamatan seiring meningkatnya mobilitas. Penguatan tersebut mencakup pengelolaan risiko, kesiapan sumber daya manusia (SDM), fasilitas, teknologi, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.
Sepanjang Januari-Juli 2026, KAI Group melayani 307,86 juta pelanggan atau meningkat 8,32 persen. Pada periode yang sama, KAI Commuter melayani 242,93 juta pelanggan, sementara KA jarak jauh dan lokal yang dikelola KAI mencapai 35,26 juta pelanggan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pertumbuhan jaringan perlu diikuti pendekatan safety at scale.
“Semakin tinggi intensitas perjalanan, semakin besar kebutuhan terhadap disiplin operasi, pengelolaan risiko, kesiapan SDM, teknologi, infrastruktur, dan kolaborasi di sepanjang jaringan,” ujar Anne.
190 titik jadi prioritas
Perlintasan sebidang menjadi salah satu area yang mendapat perhatian dalam penguatan keselamatan KAI. Untuk 2026, perusahaan menetapkan 190 titik sebagai lokasi prioritas yang tersebar di sembilan daerah operasi (Daop) dan empat divisi regional (Divre).
Penguatan di titik-titik tersebut mencakup sejumlah kebutuhan keselamatan, mulai dari gardu, rambu, peralatan keselamatan dan komunikasi, kesiapan petugas penjaga perlintasan yang tersertifikasi, hingga tahapan pemasangan pintu perlintasan.
KAI juga menggunakan pemetaan risiko untuk menentukan penanganan berdasarkan kondisi setiap lokasi. Dari 1.214 titik perlintasan sebidang yang dipetakan, sebanyak 43 lokasi masuk kategori risiko tinggi, 630 risiko sedang, 538 risiko rendah, dan tiga kategori sangat rendah.
“Pemetaan risiko membuat penanganan dapat disusun berdasarkan kondisi lapangan. Karakter lalu lintas jalan, status perlintasan, lingkungan, dan intensitas perjalanan kereta berbeda pada setiap lokasi,” jelas Anne.
Dengan pemetaan tersebut, penanganan perlintasan tidak dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk seluruh lokasi. Kondisi lalu lintas, lingkungan sekitar, status perlintasan, dan intensitas perjalanan menjadi bagian dari pertimbangan.
172 perlintasan ditutup
Selain meningkatkan fasilitas keselamatan, KAI bersama stakeholder juga melakukan penataan terhadap perlintasan sebidang yang masuk dalam target program.
Hingga rilis tersebut diterbitkan, sebanyak 172 lokasi perlintasan sebidang telah ditutup. Langkah ini menjadi bagian dari penanganan keselamatan pada titik yang mempertemukan jalur kereta dengan aktivitas pengguna jalan.
Penguatan juga diarahkan ke sistem internal perusahaan. Dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026, KAI menempatkan penguatan Train Safety & Security System, intelligent rail service and inspection, digitalisasi sistem pengelolaan infrastruktur, serta modernisasi sarana dalam tema Strengthening Operational and Organizational Foundations.
Artinya, pembenahan keselamatan tidak hanya menyentuh kondisi fisik di perlintasan. KAI juga memasukkan aspek operasional, teknologi, infrastruktur, dan sarana ke dalam pengembangan perusahaan.
Keselamatan butuh kolaborasi
Menurut KAI, penguatan keselamatan di perlintasan sebidang juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Aktivitas di sekitar jalur rel bersinggungan langsung dengan pengguna jalan sehingga fasilitas keselamatan perlu dibarengi perilaku yang sesuai aturan.
Kepatuhan terhadap rambu dan ketentuan di perlintasan serta koordinasi antarpihak menjadi bagian dari upaya tersebut.
“Teknologi dan fasilitas memberikan lapisan perlindungan. Disiplin pengguna jalan, kepatuhan terhadap rambu dan koordinasi antarinstansi melengkapi lapisan tersebut,” kata Anne.
KAI menilai pertumbuhan jumlah perjalanan perlu diikuti pengelolaan risiko yang semakin matang. Dengan begitu, peningkatan mobilitas tidak hanya berbicara soal kapasitas layanan, tetapi juga bagaimana perjalanan tetap dikelola dengan standar keselamatan yang kuat.
“World-class railway dimulai dari kemampuan tumbuh dengan aman. Ketika jumlah perjalanan meningkat, standar pengelolaan risiko juga harus semakin matang,” ujar Anne. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Kereta makin banyak dipakai, urusan safety juga nggak bisa ikut santai. KAI memperkuat 190 titik prioritas dan sudah menutup 172 lokasi perlintasan sebagai bagian dari penataan keselamatan, sementara pengguna jalan tetap punya peran penting dengan mematuhi rambu dan aturan di perlintasan.









