Kasus TBC Indonesia Diprediksi Turun pada 2026, Skrining dan Pengobatan Terus Diperkuat

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Henni Rachma Sari
Kamis, 1 Oktober 2026 | 15:03 WIB
Kasus TBC Indonesia Diprediksi Turun pada 2026, Skrining dan Pengobatan Terus Diperkuat
Gedung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Jakarta, Selasa (17/6/2026). [astakom/M Syauqi Amrullah]

astakom.com, Jakarta – Pemerintah terus memperluas penemuan kasus tuberkulosis (TBC) di tengah upaya menekan beban penyakit tersebut di Indonesia. Setelah memperkuat skrining melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga memperluas pemeriksaan aktif ke sejumlah kelompok dan wilayah berisiko. Langkah tersebut berjalan bersamaan dengan penguatan pengobatan dan pencegahan TBC.

Upaya itu sejalan dengan perkiraan terbaru pemerintah bahwa estimasi kasus TBC Indonesia pada 2026 turun menjadi sekitar 1,08 juta kasus. Angka ini merupakan estimasi beban kasus, bukan jumlah kasus yang telah terkonfirmasi atau ditemukan melalui pemeriksaan.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menyebut estimasi kasus TBC yang diidentifikasi oleh WHO menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Estimasi kasus terus menurun

Pada 2024, estimasi kasus TBC Indonesia berada di angka sekitar 1.092.000 kasus. Angka tersebut kemudian diperkirakan menjadi 1.090.000 kasus pada 2025 dan kembali turun menjadi sekitar 1.080.000 kasus pada 2026.

"Dalam waktu satu tahun, kita turunkan estimasi tuberkulosis yang diidentifikasi oleh WHO, jadi tadinya 1.090.000 menjadi 1.080.000," jelasnya dalam konferensi pers, Update PHTC/Program Prioritas serta Capaian dan Transformasi Layanan Kesehatan Nasional di Gedung Kantor Bakom, Jakarta Pusat, pada Rabu (30/09/2026).

Estimasi tersebut menggambarkan perkiraan beban TBC dan berbeda dengan angka notifikasi atau kasus yang berhasil ditemukan melalui sistem pelayanan kesehatan. Kemenkes sebelumnya juga menekankan bahwa peningkatan penemuan kasus tidak otomatis berarti jumlah penyakit bertambah, karena bisa menunjukkan semakin banyak kasus yang sebelumnya belum terdeteksi berhasil ditemukan.

Skrining diperluas lewat CKG

Salah satu cara pemerintah memperkuat penemuan kasus adalah mengintegrasikan skrining TBC dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Dari 20,6 juta orang yang telah menjalani skrining melalui CKG di sejumlah fasilitas dan lingkungan, termasuk puskesmas, sekolah, serta pesantren, ditemukan sekitar 360,7 ribu orang yang menunjukkan tanda dan gejala TBC.

Dari hasil tersebut, sebanyak 26,8 ribu orang diketahui merupakan kasus TBC baru. Temuan ini menjadi bagian dari upaya memperluas deteksi sehingga masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan dan pengobatan dapat segera ditindaklanjuti.

Pada 2026, perluasan penemuan kasus juga dilakukan melalui skrining menggunakan rontgen dada berbasis kecerdasan artifisial (AI), termasuk di pesantren dan permukiman padat penduduk. Kemenkes menyebut penemuan kasus secara dini menjadi salah satu kunci untuk menekan penularan dan kematian akibat TBC.

Selain memperluas deteksi, pemerintah juga mendorong pengobatan dengan durasi yang lebih singkat untuk kelompok pasien tertentu.

Durasi pengobatan dipangkas

Kemenkes menyebut pengobatan TBC sebelumnya dapat berlangsung sekitar sembilan hingga 20 bulan. Sejak 2024, durasi terapi untuk TBC resistan obat (TB RO) melalui regimen BPaL/M dapat dipersingkat menjadi enam bulan.

Pemerintah bersama TB Alliance juga tengah mengembangkan regimen obat baru yang memungkinkan durasi pengobatan dipersingkat lagi.

"Ini tadinya 6 sampai 9 bulan, itu terlalu banyak obat. Sekarang satu bulan saja. Ini satu bulan kita sedang melakukan terapi yang agresif untuk masyarakat," jelasnya.

Di sisi pencegahan, pemerintah turut melibatkan desa dan kelurahan melalui program Siaga TBC. Hingga saat ini, sebanyak 9.759 desa/kelurahan di 154 kabupaten/kota pada 29 provinsi telah menyatakan komitmen untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan TBC secara mandiri.

Pemantauan program juga dilakukan secara berkala dengan melibatkan pemerintah pusat dan daerah. Evaluasi mingguan menjadi salah satu mekanisme yang digunakan untuk melihat perkembangan upaya penanggulangan TBC.

"Kemudian monitoring bersama antara pemerintah pusat dan daerah setiap minggu. Kita melakukan setiap minggu evaluasi," pungkasnya. (deA/RaM)

Gen Z Takeaway

Upaya melawan TBC sekarang diperkuat dari sisi penemuan hingga pengobatan. Skrining diperluas supaya lebih banyak kasus terdeteksi, sementara terapi terus dikembangkan agar penanganannya makin efektif.

CKG Cek Kesehatan Gratis (CKG) program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tbc Kasus TBC Skrining TBC Tuberkulosis Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes)

Infografis

Terkini