Kemdiktisaintek Dorong Open Science UNESCO untuk Perkuat Ekosistem Sains Indonesia
astakom.com, Jakarta — Penguatan open science menjadi salah satu agenda Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dalam kerja sama dengan UNESCO. Isu ini dibawa Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan dalam Rapat Pleno Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), pada Senin (28/09/2026).
Melansir keterangan resmi Kemdiktisaintek, forum tersebut membahas sejumlah program sains dan teknologi yang dapat dikembangkan dalam kerangka kerja sama dengan UNESCO. Penguatan talenta STEM dan open science menjadi bagian dari agenda yang didorong untuk mendukung diplomasi sains dan teknologi Indonesia.
“Terutama yang dilakukan oleh Kemdiktisaintek adalah satu bagian dari program yang dilakukan UNESCO, yaitu open science, yang kemudian dijabarkan dalam beberapa program. Untuk diplomasi sains dan teknologi, ada beberapa hal yang kami dorong, termasuk penguatan talenta STEM serta isu open science,” ujar Wamen Fauzan.
Open science buka akses pengetahuan
Secara global, open science diarahkan untuk membuat pengetahuan ilmiah lebih terbuka, mudah diakses, dan dapat digunakan kembali. UNESCO menjelaskan cakupannya tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga meliputi data, sumber daya pendidikan, perangkat lunak dan perangkat keras, infrastruktur terbuka, serta keterlibatan masyarakat.
UNESCO menyebut Recommendation on Open Science diadopsi pada 2021 oleh 194 negara dan menjadi kerangka global untuk mendorong ilmu pengetahuan yang lebih terbuka, inklusif, serta dapat diakses.
Dalam konteks Indonesia, Kemdiktisaintek menyebut komitmen tersebut menjadi salah satu konteks untuk memperkuat open science dalam pengembangan ekosistem sains dan teknologi nasional.
Sejumlah program kementerian kemudian diarahkan untuk dapat dikembangkan melalui kerja sama tersebut. Program yang disebut antara lain Berdikari, Saintek Nusantara, Sentral Saintek, CTSA, Open Lab Mini, hingga Cakrawala Saintek untuk peningkatan reputasi internasional jurnal ilmiah.
Ada pula International Mathematics Competition, Asia-Pacific Broadcasting Union Robot Contest, Residensi Riset Sains dan Teknologi, serta Lindau Nobel Laureate Meetings.
Tiga jalur jadi fokus kerja
Selain daftar program tersebut, Kemdiktisaintek mengusulkan tiga jalur penguatan kerja sama dengan UNESCO. Fokusnya mencakup kebijakan dan tata kelola sumber daya, pengembangan talenta, serta riset dan inovasi.
Pada jalur riset dan inovasi, open science, kecerdasan buatan atau AI, dan kolaborasi dengan masyarakat menjadi bagian yang didorong.
“Usulan tersebut menjadi bagian dari portofolio kerja Kemdiktisaintek untuk periode 2026-2027,” jelasnya.
Berbagai program itu disebut dapat dikembangkan sebagai bagian dari diplomasi sains dan teknologi Indonesia melalui UNESCO. Kemdiktisaintek juga menyebut penguatan kerja sama tersebut diharapkan dapat memperluas jejaring internasional dan memberi manfaat bagi pengembangan ekosistem sains serta teknologi nasional.
KNIU perkuat koordinasi nasional
Pembahasan open science berlangsung bersamaan dengan penguatan kelembagaan KNIU. Rapat pleno tersebut merupakan rapat pleno pertama setelah terbitnya Peraturan Presiden Nomor 31 Tahun 2026 tentang KNIU.
Menteri Kebudayaan sekaligus Ketua KNIU Fadli Zon menyampaikan bahwa kementerian dan lembaga tetap menjalankan mandat serta kewenangan substantif masing-masing dalam pelaksanaan program dan konvensi UNESCO.
“Saya kira tiga hal yang perlu kita lakukan, bagaimana getting institution right, bagaimana intervention, terutama, dan yang ketiga getting coordination right supaya koordinasi kita tidak terjadi hal-hal yang tumpang tindih. Pada ujungnya kepentingan kita adalah kepentingan nasional,” ungkap Fadli.
Dalam penguatan kelembagaan tersebut, KNIU berperan sebagai fasilitator koordinasi, sinkronisasi, dan komunikasi antarpemangku kepentingan. Sinergi juga diperkuat melalui pembaruan data focal point antara kementerian/lembaga, Sekretariat KNIU, dan Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO.
“Visibility sangat penting, termasuk di dalam isu-isu penting yang ada di UNESCO dari K/L masing-masing. Harap jangan jadi follower, tapi mewarnai,” tutur Fadli.
KNIU selanjutnya mengusulkan pembentukan kelompok kerja bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, Kebudayaan, serta Komunikasi dan Informasi. Kelompok kerja khusus juga dapat dibentuk sesuai kebutuhan strategis nasional.
Selain itu, KNIU akan memetakan berbagai program dan jejaring UNESCO di Indonesia, termasuk UNESCO Chairs, UNESCO Global Geoparks, Memory of the World, dan program UNESCO lainnya sebagai basis data nasional.
Ke depan, KNIU juga akan mengembangkan portofolio nasional untuk menghimpun usulan program kementerian dan lembaga, menghindari duplikasi, serta menyelaraskan program dengan mandat UNESCO dan prioritas nasional. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Open science sederhananya bikin ilmu pengetahuan lebih terbuka dan bisa diakses lebih luas. Di Indonesia, agenda ini kini ikut dibawa Kemdiktisaintek dalam kerja sama sains dan teknologi bersama UNESCO.









