KNKT Ungkap 6 Faktor Utama Penyebab Kecelakaan Maut Kereta Api di Stasiun Bekasi Timur

Editor: Henni Rachma Sari
Selasa, 29 September 2026 | 11:33 WIB
KNKT Ungkap 6 Faktor Utama Penyebab Kecelakaan Maut Kereta Api di Stasiun Bekasi Timur
ilustrasi commuterline

astakom.com, Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) resmi merilis laporan hasil investigasi terkait kecelakaan maut antara KA 4B Argo Bromo Anggrek dan KA 5568A Commuter Line di Jalur I Stasiun Bekasi Timur, Daop 1 Jakarta, yang terjadi pada 27 April 2026. Insiden tragis yang menewaskan 16 orang dan melukai 91 orang lainnya ini dianalisis secara mendalam hingga menemukan enam faktor utama yang saling berkaitan.

Rangkaian kejadian bermula pukul 20.48 WIB saat KA 5181B Commuter Line menabrak taksi listrik di JPL 86 Jalan Ampera. Di saat yang bersamaan, KA 5568A berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Sempat bergerak 1,69 meter pada 20.49 WIB, KA 5568A mendadak berhenti kembali karena masinis melihat kerumunan massa di jalur hulu. Naas, pada 20.50 WIB, KA 4B melintas langsung di Jalur III Stasiun Bekasi hingga akhirnya bertabrakan dengan KA 5568A pada 20.52 WIB.

Berdasarkan laporan resmi KNKT, berikut adalah rincian enam faktor kritis penyebab kecelakaan tersebut:

  1. Hazard Persinyalan yang Tidak TerdeteksiSistem persinyalan tidak memberikan indikasi aspek kuning kepada Masinis KA 4B saat melaju dari Jalur III Stasiun Bekasi, padahal Sinyal Blok B104 di depannya beraspek merah akibat adanya KA 5568A. 

"Dalam kondisi tersebut, Masinis KA 4B tidak mendapatkan sinyal yang menunjukkan aspek kuning sebagai informasi bahwa sinyal yang akan dihadapi berikutnya menunjukkan aspek merah," jelas KNKT dalam laporan hasil investigasinya, Senin (28/09/2026).

  1. Masalah Komunikasi DaruratPenggunaan panggilan individual oleh Masinis KA 5181B—ditambah kualitas suara yang kurang jelas, bergema, dan bervolume kecil—membuat klarifikasi dengan PPKP Selatan memakan waktu hingga 3 menit 20 detik. Ketiadaan standar istilah darurat juga memperlambat penilaian tingkat kedaruratan. 
  2. Miskomunikasi Posisi KA 5568AInformasi tertahannya KA 5568A akibat kerumunan massa gagal sampai ke pengendali perjalanan. 

"Akibat dari kegagalan komunikasi tersebut, baik PPKP Selatan maupun PPKP Timur tidak menerima informasi mengenai situasi dan kondisi gangguan perjalanan KA yang ada di St. Bekasi Timur, sehingga PPKP tidak memiliki informasi yang memadai untuk membuat keputusan terkait pengendalian KA yang sesuai dengan kondisi pada saat itu," tulis KNKT.

  1. Ketiadaan Mekanisme Komunikasi Antar-PPKPTidak ada SOP yang mengatur pertukaran informasi langsung antara PPKP Selatan dan PPKP Timur. Hal ini mengakibatkan PPKP Timur memberikan instruksi yang kurang lengkap kepada Masinis KA 4B. 
  2. Gagal Mengidentifikasi Sinyal Pembantu UB104Asumsi masinis bahwa jalur aman (setelah melihat Sinyal Keluar J12 beraspek hijau), berkurangnya visibilitas malam hari, serta adanya light scattering pada kaca depan lokomotif membuat aspek Sinyal Pembantu UB104 terabaikan. 
  3. Ketiadaan Prosedur Pengereman Darurat di Jalur MelengkungSebab takut terjadi jackknife derailment saat melaju cepat di tikungan, masinis memilih full service braketerlebih dahulu sebelum emergency brake. Keputusan ini diambil secara subjektif karena belum ada Prosedur Operasional Standar (SOP) maupun pelatihan khusus mengenai teknik pengereman darurat di rel melengkung pada kecepatan tinggi. (RaM/aNs)

Gen Z Takeaway

Laporan hasil investigasi KNKT akhirnya spill enam pemicu utama kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur: mulai dari sistem persinyalan yang bermasalah (hazardsinyal kuning yang meleset), komunikasi darurat yang ribet dan kurang jelas, hingga miskomunikasi antar-PPKP yang bikin informasi tertahan. 

Kecelakaan Kereta Kecelakaan Kereta Maut Kecelakaan Kereta Api Insiden Kecelakaan Kereta stasiun bekasi timur KNKT

Infografis

Terkini