Viral Uang Purbaya-Perry Dikira Rare, BI: Masih Dicetak
astakom.com, Jakarta - Belakangan ini di media sosial lagi ramai banget membahas uang kertas rupiah emisi tahun 2026. Entah dari mana awal mula tren ini seliweran di FYP, tiba-tiba banyak orang yang ngerasa FOMO buat mengoleksi uang kertas yang ada tanda tangan Menteri Keuangan periode 2025-2026, Purbaya Yudhi Sadewa, dan Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2018-2026, Perry Warjiyo. Narasi yang berkembang kencang di sosmed bilang kalo uang edisi ini bakal jadi barang langka.
Alasannya cukup simpel tapi masuk akal buat netizen: masa jabatan Purbaya sebagai Menkeu tergolong sangat sebentar, yakni cuma satu tahun aja. Logika publik juga langsung jalan. Kalau menterinya cuma menjabat setahun, pasti uang yang dicetak dengan tanda tangannya punya kuantitas yang limited edition, kan? Sayangnya, spekulasi yang bikin para kolektor dadakan ikutan berburu ini langsung diklarifikasi sama pihak Bank Indonesia.
BI dengan tegas memastikan kalau uang kertas dengan kombinasi dua tanda tangan tersebut sama sekali tidak langka dan proses cetak ulangnya masih terus berjalan seperti biasa.
Bukan barang rare atau langka
Menanggapi kehebohan publik yang mulai overthinking soal kelangkaan uang itu, Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti speak up dan bilang kalau penerbitan uang kertas dengan tanda tangan pejabat terdahulu adalah hal yang sangat wajar.
Percetakan dilakukan demi memenuhi proyeksi kebutuhan uang kartal di tengah masyarakat, sekaligus mengikuti timeline pencetakan rutin dari bank sentral.Destry juga membagikan update mengenai peredaran uang emisi ini.
"Hari ini, kalau enggak salah, hari ini terbit yang seri baru, tanda tangan (masih) dari Pak Menteri Keuangan yang lama dan Bapak Gubernur juga yang sebelumnya. Jadi hari ini keluar, hari ini atau beberapa hari yang lalu, tapi itu sudah ada. Ada yang minta kolektor,” kata Destry dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, dikutip astakom.com pada Sabtu (26/09/2026).
Proses cetak uang ada timing-nya
Destry juga menekankan kalau urusan mencetak uang itu adalah rutinitas operasional berkala yang dijalankan bank sentral untuk menjamin ketersediaan fisik uang.
"Cetak uang itu kan hal yang normal. Setiap tahun kita cetak uang," kata Destry menegaskan.
Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa BI masih mencetak uang pakai tanda tangan pejabat lama padahal periodenya sudah lewat? Buat menjawab ini, kita harus paham sistem kerja mereka. Destry menerangkan kalau proses produksi uang itu tidak dilakukan secara impulsif atau serentak dicetak habis-habisan di awal atau akhir tahun. Semuanya terbagi ke dalam beberapa tahap mengacu pada kebutuhan riil di lapangan.
"Harus selalu yang tiap tahun itu ada masanya. Jadi mencetak itu nggak langsung jebret di awal tahun atau di akhir tahun, tapi ada tahapan-tahapannya. Karena biar gimana kan kebutuhan uang kartal itu masih ada," katanya.
Uang tunai dan jumlah yang beredar
Di era gempuran gaya hidup cashless dan QRIS yang makin masif, uang tunai nyatanya masih pegang peran penting di roda perputaran ekonomi kita. Destry menambahkan bahwa cash masih sangat vital untuk menopang transaksi masyarakat, terutama di daerah-daerah pelosok yang belum dapat akses sinyal internet stabil atau infrastruktur jaringan pembayaran digital yang optimal. Kehadiran fisik uang ini tetap wajib dipastikan ketersediaannya.
Lalu, bagaimana cara BI menentukan seberapa banyak uang yang harus dicetak agar tidak meleset dari kebutuhan? Ternyata, ada koordinasi yang sangat intensif antara BI dan pemerintah.
Mereka harus menyelaraskan target jumlah uang beredar (money supply) dalam satu periode berjalan. Biasanya, proses brainstorming dan perancangan angka ini dimatangkan menjelang pergantian tahun guna menentukan estimasi pasti seberapa banyak uang kertas maupun logam yang akan diterbitkan.
Proses pencetakan uang
Terkait teknis kolaborasi ini, Destry kembali memberikan insight langsung kepada publik.
"BI punya target money supply seperti ini, pemerintah punya target issuance seperti apa, nah itu kemudian kita diskusikan termasuk di situ adalah berapa banyak BI berencana untuk mengeluarkan uang kartal atau mencetak uang kertas dan uang logam," pungkas Destry.
Jadi, buat kalian yang sempat panik dan ikutan cari cuan dengan menimbun uang emisi 2026 karena mengira bakal jadi barang koleksi berharga fantastis, mending chill aja.
Bank Indonesia sudah memberikan jaminan penuh bahwa uang tersebut bukanlah barang langka dan peredarannya bakal terus dijaga sesuai kebutuhan masyarakat luas. (Shnty/RaM)
Gen Z Takeaway
Uang kertas emisi 2026 yang dibubuhi tanda tangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Perry Warjiyo ternyata nggak otomatis jadi barang rare, bestie. BI menegaskan pencetakan uang dengan tanda tangan pejabat lama masih normal karena produksi dilakukan bertahap sesuai kebutuhan uang kartal masyarakat. Jadi, buat yang sempat FOMO berburu karena mengira stoknya limited edition, mending jangan buru-buru nganggep bakal cuan besar karena uang tersebut masih dicetak dan diedarkan sesuai kebutuhan.









