Legislator Gerindra Darori Dorong Penanaman Pohon Produktif: Pulihkan Lingkungan dan Tingkatkan Ekonomi Warga
Reporter: Usman
astakom.com, Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai Gerindra, KRT. Darori Wonodipuro, mendorong penguatan program Perhutanan Sosial melalui penanaman pohon produktif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus fungsi ekologis.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memulihkan kondisi lingkungan sekaligus menciptakan sumber penghasilan berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan hutan di Kabupaten Karangasem, Bali.
Menurut Darori, kerusakan vegetasi di kawasan hulu sungai dapat meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor. Hilangnya tutupan pohon juga dapat mengurangi cadangan air tanah sehingga masyarakat berpotensi mengalami kesulitan air saat musim kemarau.
Karena itu, ia mengusulkan agar pelaksanaan Perhutanan Sosial lebih banyak diarahkan pada penanaman pohon produktif. Selain menjaga tutupan lahan, tanaman tersebut dapat menghasilkan buah yang bernilai ekonomi tanpa harus ditebang.
“Perhutanan sosial adalah melakukan penanaman pohon yang produktif; buah-buahan, ada nangka, ada durian, ada pete, ada juga macam-macam jambu, ada alpukat. Itu bagus karena pohon ini selain menghasilkan buah, juga bermanfaat berfungsi untuk menyerap air,” ungkap Darori usai Kunjungan Kerja Pengawasan Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu dan Jasa Lingkungan Perhutanan Sosial di Bali, berdasarkan keterangan yang diterima astakom.com, Selasa (22/09/2026).
Solusi jalan tengah
Tokoh Partai Gerindra dari Jawa Tengah ini menilai penanaman pohon buah dapat menjadi jalan tengah antara pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Warga tetap memperoleh penghasilan dari hasil panen, sementara keberadaan pohon terus dipertahankan untuk melindungi kawasan.
Model tersebut berbeda dengan penanaman kayu keras yang berpotensi ditebang ketika telah memiliki nilai ekonomi. Jika penebangan tidak dikendalikan, tutupan lahan dapat kembali berkurang dan memperbesar risiko kerusakan lingkungan, terutama di daerah perbukitan dan kawasan hulu.
Darori juga menyoroti peran penting pohon dalam menjaga tata air. Sistem perakaran tanaman dapat membantu menyerap air hujan, mengurangi aliran permukaan, serta mempertahankan ketersediaan air tanah.
“Kalau ada pohon, kalau terjadi hujan, itu 50 persen airnya akan terserap dan akan turun kembali air itu lewat pohon melewati akar, sehingga pada musim kemarau kita tidak terjadi kekeringan. Maka kita sarankan bahwa untuk mengatasi ini dibikin embung yang cukup besar di hulu sungai,” ucapnya.
Menurutnya, pembangunan embung berkapasitas memadai perlu dipertimbangkan untuk memperkuat cadangan air, terutama di daerah yang mulai menghadapi keterbatasan sumber air. Keberadaan embung dapat mendukung kebutuhan pertanian dan rumah tangga ketika curah hujan menurun.
Fungsi ekologis dan manfaat ekonomi masyarakat
Darori menegaskan bahwa penguatan fungsi ekologis kawasan harus berjalan beriringan dengan peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Ketika warga merasakan manfaat langsung dari tanaman yang dipelihara, mereka akan memiliki insentif lebih besar untuk menjaga keberadaan pohon dan kelestarian hutan.
Namun, pelaksanaan program tersebut membutuhkan sosialisasi dan pendampingan yang berkelanjutan. Masyarakat perlu memperoleh pemahaman mengenai keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan pelestarian kawasan.
Darori menilai pelaksanaan Perhutanan Sosial di Bali secara umum telah menunjukkan perkembangan positif. Meski demikian, masih terdapat sejumlah kendala yang harus diselesaikan, terutama menyangkut pendampingan, ketersediaan pupuk, dan distribusi bibit tanaman produktif kepada masyarakat.
“Sekarang sudah mulai alhamdulillah di Bali ini sudah cukup lancar jalan, walaupun ada kendalanya tadi mengenai pendampingan, mengenai pupuk, dan mengenai bibit. Tadi kami minta kepada Kementerian Kehutanan, Dirjen Perhutanan Sosial dan BPDASHL (Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai) dan Hutan Lindung untuk menyiapkan bibitnya,” lanjutnya.
Minta Kementerian Kehutanan salurkan bibit
Legislator Partai Gerindra itu meminta Kementerian Kehutanan bersama jajaran terkait memastikan kebutuhan bibit dapat tersedia dan tersalurkan kepada kelompok masyarakat.
Dukungan pupuk, edukasi, dan pendampingan juga harus diperkuat agar tanaman mampu tumbuh dan memberikan hasil secara optimal.
Selain dukungan teknis, Darori menilai program Perhutanan Sosial membutuhkan alokasi anggaran yang lebih besar. Ia menyatakan akan terus mendorong penguatan anggaran melalui fungsi pengawasan dan penganggaran Komisi IV DPR RI.
“Ini kendalanya juga kita mendorong sebagai Anggota Komisi IV, anggarannya harus diperbanyak, sehingga bisa mencukupi kebutuhan bukan hanya di Bali, tapi juga seluruh Indonesia. Karena masalah program ini sekarang sudah membudaya di masyarakat, dan ini terus terang akan menjadi program yang baik,” tegasnya. (aLf/RaM)
Gen Z Takeaway
Darori Wonodipuro mendorong Perhutanan Sosial diperkuat lewat penanaman pohon produktif seperti durian, nangka, dan alpukat yang bisa jadi sumber penghasilan sekaligus menjaga tata air dan mencegah kerusakan lingkungan. Ia juga meminta dukungan bibit, pupuk, pendampingan, serta anggaran diperbesar agar program ini makin optimal.









