Kasus Influenza A Melonjak, Pakar Ingatkan Anak Usia 0–17 Tahun Dua Kali Lebih Rentan Tertular
astakom.com, Jakarta — Tren kenaikan kasus influenza tipe A tengah menjadi perhatian serius di sektor kesehatan. Berdasarkan data pemantauan terbaru, dominasi penularan dipicu oleh varian Influenza A (H1N1) pdm09 yang mencatatkan 76 kasus, disusul A (H3N2) sebanyak 8 kasus, serta tipe B/Victoria sebanyak 2 kasus. Sementara itu, tingkat keterjangkitan COVID-19 dilaporkan masih berada pada level rendah dengan positivity rate sebesar 1,45%.
Di tengah lonjakan varian Influenza A tersebut, kelompok anak-anak menjadi salah satu populasinya yang paling rentan terpapar. Dokter Ahli Infeksi Anak, Prof. Anggi, mengungkapkan bahwa anak usia 0 hingga 17 tahun memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi terkena flu bergejala dibandingkan kelompok dewasa.
"Sistem kekebalan tubuh anak masih belajar mengenali virus," ujar Prof. Anggi menjelaskan penyebab tingginya kerentanan tersebut dikutip akun instagram idai_ig, Rabu (23/09/2026).
Selain faktor daya tahan tubuh yang belum matang, anatomi serta fisiologi anak turut memengaruhi risiko penularan. Tinggi badan anak yang relatif lebih rendah membuat mereka lebih gampang menghirup percikan virus dari orang dewasa yang sakit. Ditambah lagi, sistem pertahanan saluran napas anak belum berfungsi sesempurna orang dewasa.
Jalur penularan dan perbedaan flu dengan pilek biasa
Prof. Anggi memaparkan bahwa penularan virus flu pada anak dapat terjadi melalui dua cara, yakni secara langsung dan tidak langsung. Penularan langsung terjadi dari orang yang terinfeksi ke anak melalui percikan batuk atau bersin.
"Bisa tidak langsung yakni virus menempel di permukaan atau tangan lalu berpindah ke anak yang menyentuhnya," tutur Prof. Anggi.
Ia membeberkan bahwa virus flu mampu bertahan hingga 48 jam di permukaan keras seperti meja dan gagang pintu, serta berkisar 8 hingga 12 jam pada permukaan lunak seperti baju dan tisu.
Orang tua juga diimbau untuk cermat membedakan antara pilek biasa (common cold) dan flu. Pilek umumnya tergolong ringan, gejalanya muncul perlahan, dan hanya berfokus pada area hidung.
"Sedangkan untuk sakit flu gejala lebih berat, muncul mendadak. Batuk biasanya kering dan bisa sampai 14 hari disertai demam tinggi dan badan lemas," kata Prof. Anggi. "Anak tiba-tiba demam tinggi dan nyeri badan. Bisa dicurigai sebagai flu bukan pilek biasa."
Faktor risiko dan tanda bahaya yang wajib diperiksakan
Sejumlah kondisi dapat meningkatkan risiko penularan flu pada anak secara signifikan. Prof. Anggi menyebutkan faktor-faktor tersebut meliputi usia anak di bawah 5 tahun, rutinitas harian di daycare atau sekolah, riwayat gangguan tumbuh kembang atau neurologi, serta lingkungan tempat tinggal yang padat. Semakin banyak faktor risiko tersebut, orang tua dituntut untuk kian waspada sejak gejala awal muncul.
Orang tua wajib membawa anak ke dokter jika mendapati tiga sinyal utama, yakni:
- Aktivitas anak berkurang meskipun demamnya sudah turun.
- Asupan minum anak mulai berkurang.
- Anak tidak berkemih lebih dari 4 jam padahal sudah diberi banyak minum.
"Kalau sudah ada tanda-tanda tersebut jangan tunggu sampai parah. Tiga tanda ini adalah sinyal orang tua untuk periksa anak ke dokter," tegasnya.
Apabila anak menunjukkan tanda bahaya darurat (warning signs), orang tua harus segera melarikan anak ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit. Tanda-tanda darurat tersebut meliputi napas cepat disertai tarikan dinding dada, leher, atau napas cuping hidung; kondisi anak tampak kebiruan atau pucat; anak mengalami kejang; tanda dehidrasi berat seperti tidak mau minum sama sekali; serta anak gelisah, tampak sangat mengantuk, dan sulit dibangunkan.
"Salah satu saja tanda ditemukan langsung dibawa ke rumah sakit terdekat," ucap Prof. Anggi.
Guna mencegah penularan virus flu, langkah perlindungan utama yang dapat diterapkan antara lain membiasakan cuci tangan rutin dengan sabun, menerapkan etika batuk dengan menutup mulut memakai siku, menghindari kerumunan saat bergejala, serta memberikan imunisasi flu tahunan yang sudah bisa dimulai sejak anak berusia 6 bulan.(RaM/aNs)
Gen Z Takeaway
Kasus Influenza A (H1N1) lagi melonjak nih, dan ternyata anak usia 0–17 tahun 2x lebih rentan kena flu ketimbang orang dewasa gara-gara imunnya masih belajar dan tinggi badannya bikin gampang kehirup droplet! Bedain ya, kalau pilek biasa gejalanya pelan dan cuma di hidung, tapi kalau flu itu serangannya mendadak, demam tinggi, dan batuk kering sampai 2 minggu. Parents wajib alert: kalau anak lemas walau demam udah turun, kurang minum, atau gak kencing lebih dari 4 jam, langsung gas ke dokter. Apalagi kalau udah ada tanda napas sesak atau kebiruan, itu sinyal emergency buat langsung dilarikan ke IGD!









