Mendiktisaintek Tekankan Penguatan Keilmuan Strategis di Perguruan Tinggi

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Senin, 5 Oktober 2026 | 06:08 WIB
Mendiktisaintek Tekankan Penguatan Keilmuan Strategis di Perguruan Tinggi
Mendiktisaintek Tekankan Penguatan Keilmuan Strategis di Perguruan Tinggi [Dok. Kemendiktisaintek]

astakom.com, Jakarta – Penguatan pendidikan tinggi di Indonesia perlu berjalan beriringan dengan pengembangan bidang keilmuan yang strategis. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menilai fondasi sains perlu semakin diperkuat agar perguruan tinggi mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang kompetitif.

Melansir keterangan resmi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), pada Minggu (04/10/2026), Brian menyampaikan hal tersebut dalam Konferensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) ke-12 di Bali.

KONASPI ke-12 mengusung tema “Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045: Inovasi, Kolaborasi, dan Pendidikan Berkelanjutan”.

Besarnya ekosistem pendidikan tinggi Indonesia terlihat dari jumlah program studi yang tersedia. Pada 2025, terdapat 34.711 program studi atau meningkat sekitar 2,9 persen. Ekosistem tersebut mencakup 11,5 juta mahasiswa, 328 ribu dosen, serta 2,78 juta lulusan.

Sementara itu, bidang pendidikan memiliki 7.045 program studi dengan jumlah mahasiswa sekitar 3,13 juta orang.

Menurut Brian, besarnya potensi tersebut perlu diikuti dengan penguatan bidang keilmuan yang mampu menjawab perubahan dalam sains, teknologi, dan kebutuhan industri.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah bidang science, technology, engineering, and mathematics(STEM). Kelompok ini mencakup antara lain teknik, kesehatan, pertanian, serta matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA), dengan proporsi mahasiswa yang saat ini masih sekitar 28 persen.

Sains fundamental semakin penting

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan komputasi kuantum menjadi salah satu alasan pentingnya memperkuat fondasi sains di perguruan tinggi.

Penguasaan ilmu dasar dinilai menjadi modal bagi Indonesia untuk mengembangkan inovasi sekaligus menghadapi perubahan teknologi yang berlangsung cepat. Perguruan tinggi juga diharapkan tidak hanya mengejar perkembangan teknologi, tetapi membangun basis keilmuan yang menopang lahirnya inovasi.

“Kecuali satu, kita menguasai hard science. Kita menguasai fundamental science,” ujar Mendiktisaintek.

Dalam pengembangan pendidikan tinggi, Brian juga menekankan bahwa perhatian tidak semestinya hanya tertuju pada jumlah program studi. Kualitas dan kedalaman ilmu yang dikembangkan menjadi bagian yang tidak kalah penting.

“Yang perlu dikembangkan itu bukan prodinya, tapi keilmuannya,” jelas Mendiktisaintek.

Arah tersebut diharapkan dapat mendorong perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan adaptasi, sekaligus memperkuat kontribusi akademik terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perguruan tinggi kependidikan disorot

Penguatan bidang sains dan teknologi juga berkaitan dengan peran perguruan tinggi yang menyiapkan calon guru. Brian menilai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) memiliki posisi penting dalam menghadirkan pendidik yang mampu membangun ketertarikan siswa terhadap berbagai bidang ilmu.

Cara pembelajaran perlu terus dikembangkan agar sains dan teknologi dapat dikenalkan dengan pendekatan yang lebih menarik kepada anak-anak dan remaja.

“Kampus-kampus pendidikan, kampus-kampus yang nantinya akan melahirkan guru-guru yang inovatif. Kampus yang akan melahirkan inovasi-inovasi di bidang pendidikan,” ujar Brian.

Menurutnya, guru yang mampu menghadirkan inovasi pembelajaran juga perlu mendapat stimulus. Terobosan di ruang kelas diharapkan dapat membantu meningkatkan minat peserta didik terhadap sains fundamental dan bidang keilmuan lainnya.

Penguatan tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki bekal pengetahuan untuk berkontribusi dalam pengembangannya.

Perguruan tinggi didorong perkuat riset

Selain memperkuat pembelajaran, perguruan tinggi juga didorong meningkatkan kualitas riset dan inovasi. Hubungan antara kampus dan industri perlu dibangun lebih erat agar perkembangan teknologi serta kebutuhan dunia kerja dapat menjadi bagian dari pertimbangan dalam pengembangan pendidikan dan penelitian.

Kolaborasi yang lebih intens diharapkan dapat menghasilkan riset yang relevan dan memiliki manfaat nyata di luar lingkungan akademik.

“Kita ingin pendidikan kita berdampak, kita ingin riset inovasi kita juga kuat, dan tentunya adalah bagaimana pengabdian-pengabdian juga bisa memberikan dampak yang besar,” tegas Brian.

Penguatan sumber daya manusia di lingkungan kampus juga menjadi perhatian. Pimpinan perguruan tinggi didorong memfasilitasi pengembangan karier akademik dosen, termasuk meningkatkan jumlah profesor.

Kapasitas dosen yang semakin kuat diharapkan ikut menopang kualitas pendidikan serta memperbesar kemampuan perguruan tinggi dalam menghasilkan riset dan inovasi.

Pendidikan diarahkan memberi dampak

Penguatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat tersebut sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak. Perguruan tinggi diharapkan mampu mengembangkan kegiatan akademik yang tidak hanya menghasilkan capaian di lingkungan kampus, tetapi juga menjawab persoalan masyarakat dan kebutuhan daerah.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) I Wayan Lasmawan menyampaikan bahwa pendidikan memiliki peran dalam membangun kualitas sumber daya manusia sekaligus karakter. Nilai integritas, gotong royong, dan cinta tanah air disebut menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Lasmawan juga berharap KONASPI dapat menjadi salah satu rujukan dalam merumuskan kebijakan pendidikan berbasis bukti. Kolaborasi antarlembaga pendidikan tenaga kependidikan juga diharapkan dapat memperkuat kompetensi dan profesionalisme guru.

KONASPI ke-12 menjadi momentum untuk mempertemukan perguruan tinggi, pendidik, pemerintah, dan industri dalam memperkuat transformasi pendidikan. Sinergi tersebut diharapkan dapat mendorong inovasi pembelajaran, memperkuat riset sains dan teknologi, serta menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mendukung target Indonesia Emas 2045. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Pendidikan tinggi bukan cuma soal seberapa banyak prodi yang dibuka. Yang lebih penting adalah seberapa kuat ilmu yang dikembangkan, seberapa relevan risetnya, dan seberapa besar dampaknya. Dengan fondasi sains yang kuat, kampus bisa ikut menyiapkan generasi yang bukan hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga punya kapasitas untuk menciptakannya.

Keilmuan Strategis Mendiktisaintek Perguruan Tinggi pendidikan Brian Yuliarto KONASPI

Infografis

Terkini