Selain Nalar dan Akal, Dari Mana Umat Islam Menimba Ilmu?

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Sabtu, 3 Oktober 2026 | 06:02 WIB
Selain Nalar dan Akal, Dari Mana Umat Islam Menimba Ilmu?
Selain Nalar dan Akal, Dari Mana Umat Islam Menimba Ilmu? [Kemenag]

astakom.com, Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar ngajak mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) buat melihat dunia belajar dengan kacamata yang lebih lebar. Menurut beliau, ilmu dalam tradisi Islam itu gak melulu datang dari buku, dosen, atau materi di ruang kelas. Alam, intuisi, wahyu, ilham.

Pesan ini disampaikan Menag dalam Stadium General di acara Orientasi Mahasiswa Baru Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma), Jumat (02/10/2026). Menurut beliau, yang bikin pendidikan Islam beda dari yang lain adalah misinya mengejar divine knowledge, alias ilmu Allah.

Sumber ilmu selain buku

“Alangkah miskinnya manusia kalau gurunya hanya orang yang hidup. Sumber pelajaran dalam Al-Qur'an itu tidak hanya orang. Kita juga perlu belajar dari alam,” tutur Menag.

Pintu pengetahuan tradisi Islam

Menag merinci minimal ada 5 sumber yang masuk dalam tradisi keilmuan Islam.

1.Deduksi akal. Ini kemampuan manusia memakai nalar buat memahami masalah, lalu menarik kesimpulan dari situ.

2.Intuisi. Jangan remehin firasat, ya. Menag mengingatkan kalau intuisi adalah salah satu cara manusia menangkap tanda-tanda di sekitarnya.

"Namun, kemampuan tersebut dapat menjadi tumpul ketika nurani manusia tidak terasah," ungkapnya.

3. Wahyu. Dalam Islam, wahyu jadi sumber informasi sekaligus peneguh atau konfirmasi. Al-Qur'an menjadi rujukan utama yang jadi pijakan umat Islam dalam memahami hidup dan ilmu pengetahuan.

4.Ilham. Menag menegaskan bahwa ilham itu beda kelas dari wahyu. Wahyu adalah kebenaran yang pasti bagi para nabi, sedangkan ilham adalah pengalaman batin yang tingkat kepastiannya tidak setara. Makanya, ilham perlu diletakkan secara proporsional, gak boleh asal dipercaya mentah-mentah.

5.Mimpi. Menurut Menag, mimpi punya tempat tersendiri dalam tradisi Islam. Contohnya kisah Nabi Yusuf, dan peristiwa penyembelihan kurban yang bermula dari mimpi Nabi Ibrahim.

"Mimpi itu, alam bawah sadar itu superpower manusia. Para nabi dan wali memiliki kemampuan mengakses itu, sehingga mampu menemukan banyak kebenaran," ucapnya.

Menag menambahkan kalau banyaknya sumber ilmu ini membuktikan tradisi keilmuan Islam punya sudut pandang yang lebih luas dibanding pendekatan yang cuma mengandalkan satu metode. Karena itu, mahasiswa PTKI diajak membuka lagi berbagai pintu ilmu yang sudah tersedia dalam khazanah Islam.

“Al-Qur'an menyediakan semuanya,” ucap Menag.

Mekanisme validasi informasi

Beliau juga ikut menyoroti tradisi kritik hadis yang dibangun para ulama, salah satunya Imam Bukhari. Seleksi ketat dalam memverifikasi hadis jadi bukti bahwa keilmuan Islam punya mekanisme tersendiri buat menguji dan memastikan sebuah informasi benar-benar valid sebelum diterima sebagai ilmu yang sahih.

Pentingnya kepekaan kritis

Menag juga menaruh harapan agar para mahasiswa pascasarjana nggak cuma puas dengan ilmu dari buku dan ruang kuliah. Mereka diminta terus melatih kepekaan buat menelaah beragam sumber pengetahuan dengan kritis, tanpa melepaskan pijakan pada tradisi keilmuan Islam. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Belajar itu gak cuma sebatas hafalan materi dosen atau scrolling teks di ruang kelas! Khazanah Islam ngajarin kita buat tetap open-minded memilah informasi lewat berbagai pintu—mulai dari kepekaan nurani, pemikiran kritis, sampai belajar langsung dari alam sekitar. Intinya, stay sharp dan jangan pernah malas buat melatih intuisi serta memverifikasi setiap kebenaran secara mendalam sebelum asal telan bulat-bulat.

Menag Nasaruddin Umar Menag kemenag update PTKIN

Infografis

Terkini