Menag Minta PTKIN Tak Sekadar Meluluskan Sarjana, Tapi Bawa Perubahan
astakom.com, Jakarta – Agama Nasaruddin Umar baru saja melempar wanti-wanti penting buat seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Beliau menegaskan kalau kampus Islam nggak boleh cuma puas mencetak sarjana atau ilmuwan yang cuma jago teori doang di atas kertas. Lebih dari itu, kampus Islam wajib melahirkan sosok cendekiawan sejati yang beneran ngamalin ilmunya dan ngasih perubahan riil buat masyarakat luas.
Pesan tajam tapi adem ini disampaikan Menag pas ngasih arahan di momen Lustrum ke-XIII UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, bertajuk Refleksi 1 Tahun Mengabdi: Sinergi Mewujudkan UIN Malang Bereputasi Internasional di kampus UIN Malang.
Bukan Cuma Angka Lulusan
Menurut Menag, tolok ukur kesuksesan sebuah perguruan tinggi itu nggak cukup cuma dihitung dari berapa banyak mahasiswa baru yang masuk terus lulus tepat waktu. Hal yang jauh lebih krusial adalah nilai tambah serta dampak nyata yang ditinggalkan buat publik.
“Inputnya berapa yang masuk, outputnya berapa yang keluar. Tapi outcome-nya berapa? Apa nilai tambah yang kita berikan dengan mencetak sarjana sebanyak itu?” tutur Menag, Jumat (2/10/2026).
Bedanya Ilmuwan dan Cendekiawan
Biar makin jelas, Menag membedah hierarki peran tersebut. Seorang ilmuwan biasanya fokus pada penguasaan teori dan wawasan. Sementara seorang intelektual setingkat lebih maju karena nggak cuma paham teori, tapi juga jalanin ilmunya. Nah, kalau cendekiawan itu levelnya udah beda lagi, ilmu yang dipahami dan diamalkan itu wajib ngasih manfaat yang berasa langsung di tengah warga.
“Cendekiawan itu pintar, dia mengamalkan kepintarannya, tetapi kepintarannya juga dirasakan dampaknya oleh masyarakat,” ungkapnya.
Makanya, Menag mendorong banget kampus-kampus Islam buat melebarkan ukuran keberhasilan pendidikan mereka sampai ke tahap impact. Fokusnya bukan lagi sekadar seberapa banyak ijazah yang diterbitkan, tapi seberapa jauh para alumni itu bisa jadi game changer yang ngasih manfaat buat lingkungan hidup dan kehidupan sosial.
Pentingnya Terus Meluaskan Wadah Diri
Nggak cuma ngebahas soal kontribusi ke masyarakat, Menag juga mengingatkan pentingnya terus up-skill dan memperbesar kapasitas diri dalam menyerap ilmu pengetahuan. Beliau lalu mengutip doa Rabbi zidni 'ilma yang artinya,
“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” jelasnya.
Bagi Menag, Doa tersebut punya makna mendalam agar tiap individu terus meluaskan wadah dirinya, sehingga selalu siap menerima sekaligus mengembangkan ilmu yang makin luas
“Yang perlu kita syukuri adalah kapasitas. Yang lainnya datang dan pergi. Kita memohon kepada Allah, Rabbi zidni 'ilma, tambahkanlah ilmu,” ucap Menag.
Mencetak Lulusan Berdampak Real
Di akhir arahannya, Menag berharap UIN Malang terus konsisten membangun tradisi akademik yang sejalan sama penguatan akhlak dan kebermanfaatan. Hasil akhirnya, kampus nggak cuma melahirkan lulusan dengan IPK IPK-able atau berprestasi secara akademik aja, tapi juga mencetak cendekiawan yang beneran bawa perubahan positif buat masyarakat. (nAD/RaM)
Gen Z Takeaway
Kuliah di kampus Islam itu tujuannya bukan cuma buat ngejar ijazah, kelulusan tepat waktu, atau pamer IPK tinggi di LinkedIn semata. Menag ngingetin kalau value utama seorang sarjana itu ada pada dampak riil yang dibawain ke masyarakat—berubah dari sekadar smart jadi sosok cendekiawan yang beneran ngasih impact dan bawa positive change buat lingkungan sekitar.








