Spill Dampak PLTS 100 GWp: Pulau Terluar Kini Makin Terang dan Produktif
astakom.com, Jakarta - Pemerintah terus ngegaspol pemerataan energi dan transisi menuju energi hijau yang berkelanjutan salah satunya lewat program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt peak (GWp).
PLTS 100 GWp ini diketahui menjadi salah satu motor transformasi energi dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) pemerintah yang dipimpin sama Presiden Prabowo Subianto.
Kehadiran PLTS bisa dirasakan membawa perubahan nyata buat kehidupan masyarakat di pulau-pulau terluar Indonesia. Warga yang sebelumnya cuma menikmati listrik selama beberapa jam, sekarang dapat memperoleh pasokan energi sepanjang hari.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, nge-spill kalau perluasan akses listrik bukan cuma menghadirkan penerangan, tetapi juga membuka kesempatan buat masyarakat dalam meningkatkan produktivitas dan mengembangkan perekonomian.
Update program prioritas
Hal itu disampaikan Qodari dalam Konferensi Pers mengenai Update Program Prioritas/PHTC serta Capaian dan Transformasi Layanan Kesehatan Nasional di Jakarta, Rabu (30/09/2026).
“Kehadiran PLTS membawa perubahan nyata bagi masyarakat di pulau-pulau terluar Indonesia,” kata Qodari, dikutip astakom.com pada Kamis (01/10/2026).
Manfaat itu dirasakan masyarakat Pulau Sembur di Batam, Kepulauan Riau; Pulau Rengit di Belitung; serta Pulau Tiga atau Nusa Telu, Maluku Tengah. Akses listrik yang semakin merata ini memudahkan aktivitas keluarga sekaligus mensupport kehidupan ekonomi masyarakat pesisir.
“Seperti di Pulau Sembur, Batam, Kepulauan Riau; Pulau Rengit, Belitung; serta Pulau Tiga atau Nusa Telu, Maluku Tengah. Akses listrik kini semakin memudahkan aktivitas keluarga sekaligus mendukung kehidupan dan perekonomian masyarakat pesisir,” ungkapnya.
“Inilah wujud transformasi bangsa, dari wilayah dengan keterbatasan akses energi menuju masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan memiliki kesempatan ekonomi yang lebih luas,” katanya.
Listrik bawa perubahan besar
Qodari ngespill kalau Di Pulau Sembur, listrik 24 jam membawa perubahan besar buat warga setempat. Sebelum dapet pasokan listrik sepanjang hari, anak-anak mengalami kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah dan mengaji pada malam hari karena keterbatasan penerangan.
Sekarang anak-anak sekolah udah bisa belajar, mengaji, dan bermain dengan lebih nyaman. Kehadiran listrik juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Pulau Sembur yang mayoritas bekerja sebagai nelayan.
“Karzaman, nelayan Pulau Sembur, Batam, Kepulauan Riau, merasakan manfaat listrik 24 jam yang sebelumnya sulit dinikmati warga. Dahulu, anak-anak kesulitan mengerjakan PR dan mengaji pada malam hari karena keterbatasan penerangan; kini mereka dapat belajar, mengaji, dan bermain dengan lebih nyaman,” katanya.
Pasokan listrik dari PLTS ini memungkinkan warga mengoperasikan fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage dan mesin pembuat es. Fasilitas itu bantu nelayan menjaga kesegaran ikan hasil tangkapan dalam waktu lebih lama.
Nelayan juga dapat memperoleh es dengan harga lebih terjangkau tanpa harus mencarinya ke pulau lain. Dengan demikian, hasil tangkapan tidak harus segera dijual karena khawatir mengalami penurunan kualitas.
Tiga pulau yang mulai teraliri listrik dengan baik
“Bagi masyarakat Pulau Sembur yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan, pasokan listrik dari PLTS juga dapat mengoperasikan cold storage dan mesin pembuat es. Fasilitas ini memudahkan nelayan menjaga kesegaran ikan hasil tangkapan, memperoleh es dengan harga lebih terjangkau, serta mengurangi kesulitan mencari es dari pulau lain,” jelasnya.
Kemudian, perubahan yang signifikan juga dirasakan Sudarto, warga Pulau Rengit, Belitung. PLTS berkapasitas 78 kilowatt peak yang beroperasi di pulau tersebut membantu masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap generator set atau genset berbahan bakar minyak. Sebelum PLTS beroperasi, warga harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menyediakan bahan bakar genset.
Begitu juga manfaat listrik 24 jam turut dirasakan warga Pulau Tiga atau Nusa Telu di Maluku Tengah Hania. Sebelum PLTS beroperasi, masyarakat cuma dapet pasokan listrik dari mesin diesel mulai pukul 18.00 hingga 06.00 WIT.
“Kini, listrik tersedia sepanjang hari. Hania dapat menonton televisi dan mendengarkan musik pada siang hari, sesuatu yang dulu tidak mungkin dilakukan. Listrik 24 jam juga memudahkan pekerjaan rumah tangganya, terutama untuk menggunakan mesin cuci dan pompa air listrik,” katanya.
Menambah produktivitas
Qodari bilang kalau pengalaman masyarakat di ketiga pulau itu ngebuktiin kalo akses energi bukan hanya persoalan menyalakan lampu.
Ketersediaan listrik juga ngaruh banget ke pendidikan anak, pekerjaan rumah tangga, biaya hidup, kualitas hasil tangkapan nelayan, serta produktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
“Melalui program PLTS, pemerintah mendorong transformasi energi yang tidak hanya berorientasi pada penggunaan sumber energi bersih, tetapi juga menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Listrik 24 jam menjadi fondasi agar warga pulau terluar dapat hidup lebih nyaman, produktif, dan memiliki peluang ekonomi yang semakin luas,” katanya. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Program PLTS 100 GWp mulai nunjukin dampak nyata di pulau-pulau terluar Indonesia. Listrik 24 jam bukan cuma bikin warga bisa belajar, mengaji, dan menjalankan aktivitas rumah tangga dengan lebih nyaman, tapi juga bantu nelayan lewat cold storage dan mesin es. Jadi, transisi energi di sini bukan sekadar soal energi hijau, tapi juga soal bikin masyarakat makin produktif dan punya peluang ekonomi lebih luas.









