Apa Itu Monumen Pancasila Sakti? Menelusuri Sejarah dan Makna 1 Oktober di Baliknya
astakom.com, Jakarta - Kalau masuk bulan Oktober, nama Monumen Pancasila Sakti di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, pasti ramai diperbincangkan. Bukan tanpa alasan. Tempat ini punya kaitan erat sama salah satu peristiwa paling penting sekaligus kontroversial dalam sejarah politik Indonesia, yaitu rangkaian peristiwa pada 30 September hingga 1 Oktober 1965.
Bagi sebagian orang, nama Lubang Buaya mungkin langsung mengingatkan pada sebuah sumur tua dan tujuh Pahlawan Revolusi. Namun, sebenarnya kawasan Monumen Pancasila Sakti menyimpan lebih banyak cerita.
Di dalam kompleks tersebut terdapat patung tujuh Pahlawan Revolusi, museum, diorama, rumah yang berkaitan dengan peristiwa 1965, hingga sumur yang menjadi salah satu titik utama dalam sejarah tersebut.
Lantas, apa sebenarnya Monumen Pancasila Sakti? Mengapa dibangun di Lubang Buaya? Siapa saja tokoh yang diabadikan di sana? Dan bagaimana ceritanya sampai 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila?
Mengenal Monumen Pancasila Sakti
Monumen Pancasila Sakti adalah kompleks memorial sekaligus museum sejarah yang berada di kawasan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
Kawasan ini dibangun buat mengenang tujuh Pahlawan Revolusi yang gugur dalam rangkaian peristiwa 1965. Selain itu, kompleks ini juga menjadi sarana untuk menyampaikan narasi sejarah mengenai peristiwa yang pada masa pemerintahan Orde Baru disebut sebagai Gerakan 30 September atau G30S/PKI.
Pembangunan kompleks Monumen Pancasila Sakti mulai dilakukan pada Agustus 1967. Luas kawasan tersebut sekitar 14,5 hektare. Monumen kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1 Oktober 1973, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
Jadi, kawasan ini bukan hanya sebuah monumen dengan patung tokoh sejarah. Di dalamnya terdapat berbagai bangunan dan lokasi yang dibuat buat memberikan gambaran mengenai rangkaian peristiwa yang terjadi pada 1965.
Mengapa namanya Lubang Buaya?
Nama Lubang Buaya sebenarnya nama kawasan di Jakarta Timur. Tapi istilah itu terlanjur sangat lekat dengan peristiwa 1965. Salah satu lokasi yang paling dikenal di kawasan tersebut adalah sebuah sumur tua yang kemudian dikenal sebagai Sumur Maut.
Dalam catatan sejarah resmi yang digunakan oleh kompleks Monumen Pancasila Sakti, sumur tersebut menjadi lokasi ditemukannya jenazah tujuh Pahlawan Revolusi setelah sebelumnya dinyatakan hilang dalam rangkaian peristiwa 30 September 1965.
Sejak saat itu, Lubang Buaya tidak lagi sekadar dikenal sebagai nama sebuah wilayah, tapi berubah menjadi salah satu simbol penting dalam ingatan sejarah Indonesia tentang peristiwa 1965.
Meski begitu, pembahasan mengenai peristiwa 1965 tidak berhenti pada satu versi saja. Sejumlah penelitian sejarah setelah masa Orde Baru memberikan berbagai interpretasi mengenai aktor, latar belakang, serta kronologi peristiwa tersebut.
Karena itu, ketika berkunjung ke Monumen Pancasila Sakti, penting juga memahami bahwa apa yang ditampilkan di sana merupakan bagian dari narasi sejarah resmi yang berkembang pada masa tertentu.
Tujuh tokoh yang diabadikan
Salah satu bagian yang paling mudah dikenali dari kompleks ini adalah deretan patung tujuh Pahlawan Revolusi. Mereka adalah:
- Jenderal Ahmad Yani
- Letnan Jenderal R. Soeprapto
- Letnan Jenderal M.T. Haryono
- Letnan Jenderal S. Parman
- Mayor Jenderal D.I. Panjaitan
- Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo
- Kapten Pierre Andreas Tendean
Keenam jenderal dan satu perwira pertama tersebut gugur dalam rangkaian peristiwa 1965 dan kemudian mendapatkan gelar Pahlawan Revolusi. Patung ketujuh tokoh tersebut menjadi salah satu ikon utama kompleks Monumen Pancasila Sakti.
Patung-patung itu dibuat dari bahan perunggu dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Di belakangnya terdapat dinding besar yang dilengkapi relief serta lambang Garuda Pancasila.
Dinding tersebut memiliki tinggi sekitar 17 meter. Angka 17 dikaitkan dengan tanggal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945.
Ada pula relief yang menggambarkan sejumlah peristiwa perjuangan dan sejarah Indonesia dalam perspektif yang digunakan dalam pembangunan kompleks tersebut.
Apa yang terjadi pada 30 September 1965?
Buat lebih paham soal keberadaan Monumen Pancasila Sakti, kita perlu kembali ke tahun 1965. Pada akhir September 1965, terjadi sebuah gerakan yang kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September atau G30S.
Dalam rangkaian peristiwa tersebut, sejumlah perwira TNI Angkatan Darat menjadi korban penculikan dan pembunuhan. Enam jenderal dan satu perwira pertama kemudian ditemukan meninggal. Jenazah mereka ditemukan di sebuah sumur di kawasan Lubang Buaya.
Pada masa Orde Baru, pemerintah menggunakan istilah G30S/PKI dan menyampaikan narasi bahwa gerakan tersebut berkaitan dengan Partai Komunis Indonesia serta merupakan ancaman terhadap Pancasila.
Tapi, setelah terjadi perubahan politik pada akhir 1990-an, pembahasan mengenai peristiwa 1965 semakin terbuka. Berbagai sejarawan dan peneliti mengembangkan kajian dengan sudut pandang yang berbeda mengenai siapa aktor utama, apa motifnya, dan bagaimana sebenarnya rangkaian peristiwa tersebut berlangsung.
Artinya, sejarah 1965 merupakan topik yang kompleks. Narasi yang terdapat di Monumen Pancasila Sakti penting untuk diketahui, tetapi bukan berarti seluruh perdebatan sejarah mengenai 1965 selesai hanya dengan melihat satu sumber.
Lalu, mengapa 1 Oktober jadi Hari Kesaktian Pancasila?
Hati-hati ya. Hari Kesaktian Pancasila berbeda dengan Hari Lahir Pancasila. Hari Lahir Pancasila diperingati setiap 1 Juni, sedangkan Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap 1 Oktober.
Tanggal 1 Juni berkaitan dengan pidato Soekarno pada 1945 mengenai dasar negara. Sementara 1 Oktober berkaitan dengan rangkaian peristiwa 1965 dan perkembangan politik setelahnya.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pertama kali dilakukan di lingkungan Angkatan Darat pada 1966. Ketika itu, Jenderal Soeharto yang menjabat Menteri/Panglima Angkatan Darat mengeluarkan Surat Keputusan Nomor Kep-977/9/1966 tanggal 17 September 1966.
Melalui keputusan tersebut, 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila di lingkungan Angkatan Darat. Setahun kemudian, status peringatan tersebut diperluas. Presiden Soeharto menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967 tentang Hari Kesaktian Pancasila pada 27 September 1967.
Keppres tersebut menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila dan mengatur agar peringatannya dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia. Dalam narasi resmi pemerintah saat itu, peringatan tersebut berkaitan dengan keberhasilan menggagalkan gerakan yang disebut sebagai pengkhianatan G30S/PKI.
Karena itulah 1 Oktober kemudian memiliki makna sebagai momentum untuk menegaskan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa.
Jangan sampai tertukar dengan Hari Lahir Pancasila
Kalau dibuat simpel, perbedaannya seperti ini.
- 1 Juni → Hari Lahir Pancasila: Tanggal ini berkaitan dengan pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI yang membahas dasar negara.
- 1 Oktober → Hari Kesaktian Pancasila: Tanggal ini berkaitan dengan peristiwa 1965 dan kemudian ditetapkan sebagai hari peringatan nasional melalui Keppres Nomor 153 Tahun 1967.
Jadi, keduanya memang sama-sama berbicara tentang Pancasila, tetapi punya latar belakang sejarah yang berbeda.
Monumen Pancasila Sakti dan upacara 1 Oktober
Lebih dari setengah abad berlalu sejak peristiwa 1965. Namun, Monumen Pancasila Sakti masih menjadi salah satu tempat penting untuk mengenalkan sejarah Indonesia kepada masyarakat.
Bagi pelajar dan generasi muda, kawasan ini bisa menjadi ruang untuk melihat langsung peninggalan yang berkaitan dengan suatu periode penting dalam sejarah Indonesia. Pengunjung dapat melihat patung para Pahlawan Revolusi, sumur, rumah-rumah yang dipertahankan, relief, serta berbagai diorama.
Namun, ada satu hal yang juga perlu diperhatikan. Sejarah bukan hanya soal menghafal tanggal dan nama tokoh. Cara sebuah peristiwa diceritakan juga dipengaruhi oleh kondisi politik dan zaman ketika narasi tersebut dibuat.
Monumen Pancasila Sakti memberikan gambaran mengenai bagaimana peristiwa 1965 ditampilkan dalam narasi resmi negara, khususnya yang berkembang pada masa Orde Baru. Sementara itu, kajian sejarah setelahnya menunjukkan bahwa masih terdapat perbedaan pandangan mengenai berbagai aspek peristiwa tersebut.
Karena itu, mengunjungi museum ini bisa menjadi kesempatan untuk belajar sejarah sekaligus membandingkan berbagai sumber agar pemahaman yang didapat tidak berhenti pada satu sudut pandang.
Di tempat inilah para Pahlawan Revolusi dikenang dan kembali mengingatkan masyarakat pada salah satu bab penting dalam sejarah Indonesia. Jadi, ketika melihat upacara Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober, Monumen Pancasila Sakti bukan sekadar lokasi seremoni. Tempat itu memang dibangun buat jadi ruang memorial sekaligus pengingat sejarah. (hPs/aNs)
Gen Z Takeaway
Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya menyimpan jauh lebih banyak cerita daripada sekadar tujuh patung Pahlawan Revolusi. Di dalam kompleksnya terdapat Sumur Maut, Rumah Penyiksaan, Rumah Komando, dapur umum, relief, serta Museum Pengkhianatan PKI yang memiliki puluhan diorama. Semua bagian tersebut berkaitan dengan narasi sejarah mengenai peristiwa 1965 dan bagaimana negara kemudian membangun ingatan tentang peristiwa tersebut. Sementara itu, tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila melalui Keppres Nomor 153 Tahun 1967. Peringatan ini berbeda dengan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni. Buat generasi sekarang, belajar dari Monumen Pancasila Sakti bukan cuma soal hafal siapa tujuh Pahlawan Revolusi atau kapan G30S terjadi. Yang tidak kalah penting adalah memahami konteks zamannya, melihat berbagai sumber sejarah, dan memahami bahwa perjalanan bangsa Indonesia punya banyak lapisan cerita. Karena pada akhirnya, sejarah bukan cuma tentang apa yang terjadi, tetapi juga tentang bagaimana sebuah bangsa mengingat dan memaknainya.









