Bukan Cuma Ibadah, Imam Suriah Minta Gen Muda Indonesia Kuasai Digital!
astakom.com, Jakarta – Masjid itu sejatinya punya fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat buat sujud atau menunaikan ibadah ritual semata. Imam Besar Suriah, Sheikh Dr. Alaa al-Din al-Sayiq, menegaskan kalau masjid harusnya bisa jadi pusat kehidupan sosial masyarakat mulai dari tempat belajar, pusat layanan sosial, ruang penyelesaian masalah, sampai third place yang nyaman buat tumbuh kembangnya anak muda.
Pandangan mendalam ini disampaikan Sheikh Alaa al-Din di sela-sela gelaran International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta. Menurut beliau, selepas konferensi akbar tersebut, para imam masjid sudah sepatutnya mengambil peran yang lebih besar untuk menghidupkan kembali fungsi sosial masjid di tengah realitas kehidupan warga.
“Al-ma'mul ba'da hadza al-mu'tamar an ya'khudza al-imamu daurahu, wa an yuhawwala masjidahu ila halatin mujtama'iyyatin tabutstsu al-khaira fi kulli athraf al-mujtama',” tutur Syekh Alaa al-Din saat sesi interview bersama tim HKP, dikutip oleh astakom.com pada Senin (28/09/2026).
“Yang diharapkan setelah konferensi ini adalah agar imam mengambil perannya dan mengubah masjidnya menjadi ruang sosial yang menyebarkan kebaikan ke seluruh lapisan masyarakat.” Dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Sheikh Alaa al-Din membeberkan kalau sejak zaman Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, fungsi masjid emang enggak pernah sebatas tempat ibadah doang. Di era itu, masjid menjadi ruang dinamis yang bersentuhan langsung dengan beragam hajat hidup masyarakat. Segala urusan mulai dari menuntut ilmu, pelayanan kesehatan, bantuan sosial, penyelesaian konflik, hingga dinamika kehidupan sosial warga berpusat di sana.
Rumah kedua generasi muda
Nah, salah satu jalan utama buat menghidupkan kembali ruh masjid tersebut adalah dengan merangkul generasi muda. Menurut Sheikh Alaa al-Din, anak muda perlu punya ikatan emosional dan kedekatan yang erat dengan masjid, jadi kehadiran mereka di sana enggak cuma kelihatan pas jadwal salat berjemaah aja.
Ia menekankan kalau masjid sudah seharusnya dijadikan ruang aman dan nyaman buat anak muda berkumpul, bertukar pikiran, beraktivitas, serta membangun relasi sosial yang positif.
“An yakuna al-masjidu huwa baitahum ats-tsani,” ucapnya.
“Hendaknya masjid menjadi rumah kedua mereka.” Dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Lewat kedekatan tersebut, kehadiran masjid bakalan melebur secara alami dalam rutinitas keseharian anak muda. Mereka bisa hangout bareng teman dan saudara, berdiskusi banyak hal, sekaligus menjalankan berbagai agenda positif di lingkungan sekitar masjid.
“Huna yajtami'una bi ashdiqa'ihim bi ikhwanihim, yatabahatsuna wa yasharuna. Fa huna hadza makan, al-makan alladzi huwa al-masjid, yakunu baitahum ats-tsani wa yakunu fihi jami'u nasyathatihim,” ucap Syekh.
“Di sini mereka berkumpul bersama teman-teman dan saudara mereka, berdiskusi dan menghabiskan waktu bersama. Karena itu, masjid menjadi tempat yang menjadi rumah kedua mereka dan menjadi ruang bagi berbagai aktivitas mereka.” Dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Wadah bikin positive circle
Gak cuma itu, ia juga menyoroti peran penting masjid dalam membangun positive circle. Karena lingkungan pertemanan punya dampak yang sangat besar terhadap pembentukan karakter seseorang, masjid hadir sebagai wadah ideal untuk menumbuhkan persahabatan yang menentramkan dan saling mendukung.
“Falidzalika al-masjidu huwa makanu ash-shuhbati ash-shalihati wash-shadaqah,” ucapnya.
“Karena itu, masjid adalah tempat untuk membangun persahabatan dan pertemanan yang baik.” Dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Kuasai media, gandeng ulama
Kedekatan generasi muda dengan masjid ini juga harus berjalan beriringan sama kapabilitas mereka dalam mengarungi arus pesat teknologi. Sheikh Alaa al-Din paham betul kalau anak muda adalah kelompok yang paling adaptif dan berdampingan langsung dengan lanskap media digital saat ini.
Ia menilai kalau dinamika ruang digital emang harus diisi oleh ide-ide jernih dan gagasan positif dari anak muda. Jadi, generasi muda enggak boleh cuma berpuas diri jadi konsumen atau pengguna teknologi doang, tapi wajib ambil peran aktif sebagai penggerak nilai-nilai kebaikan.
“Hadzihi sahah yajibu an yanzila ilaiha syababuna ila al-media wa ya'maluna bi jidd, wa yakun lahum aham shay' marji'iyyah min al-'ulama' hatta la yakun hadha al-shab yatakallam illa 'an rusukh, wa yakun lahu fi hadha marji' wa masdar asas yattaki'u 'alayh.” jelasnya.
"Ini adalah ruang yang harus dimasuki oleh generasi muda kita, yaitu media, dan mereka harus bekerja dengan sungguh-sungguh. Hal terpenting adalah mereka harus memiliki rujukan (bimbingan) dari para ulama, agar para pemuda ini tidak berbicara melainkan dengan pemahaman yang kokoh, serta memiliki referensi dan sumber utama sebagai sandarannya.” Dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Namun, ia memberikan pengingat penting soal aksi anak muda di ruang digital harus berlandaskan pada fondasi keilmuan yang kokoh dan rujukan (source) yang jelas dari para ulama. Dengan begitu, kecanggihan teknologi bisa benar-benar jadi sarana efektif buat memperluas keberkahan sekaligus menghadirkan narasi yang edukatif di tengah publik.
Pujian untuk Indonesia
Refleksi Sheikh Alaa al-Din mengenai peran masjid dan potensi anak muda ini lahir setelah ia menyaksikan langsung dinamika kehidupan masyarakat Indonesia selama mengikuti IGIC 2026. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia sukses memberikan impresi yang sangat mendalam baginya. Ia secara khusus memuji keagungan akhlak, keramahan, ketulusan, keteraturan, kebersihan, hingga tingginya rasa hormat warga Indonesia terhadap ilmu pengetahuan dan sosok ulama.
“Alhamdulillah antum ta'lamun anna aham 'unsurin fi ad-din huwa al-akhlaq. Alhamdulillah hadza zhahirun fi akhlaqi ikhwanina fi Indunisiya, fi at-ta'amul, fi al-luthfi, fi makarim al-akhlaq. Fa Indunisiya al-yauma tumatsstilu wajhan musyriqan lil-Islam wal-muslimin,” ucapnya.
“Alhamdulillah, kalian mengetahui bahwa unsur terpenting dalam agama adalah akhlak. Alhamdulillah, hal itu terlihat dalam akhlak saudara-saudara kita di Indonesia, dalam cara mereka berinteraksi, kelembutan, dan kemuliaan akhlak.Indonesia hari ini merepresentasikan wajah yang cerah bagi Islam dan kaum Muslimin.” Dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Kesan manis tersebut menjadi salah satu poin krusial baginya dalam mengapresiasi cara Indonesia merawat harmoni kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Di penghujung sesi wawancara, Sheikh Alaa al-Din menitipkan pesan berharga khusus buat anak muda Indonesia. Ia mengingatkan betapa pentingnya posisi generasi muda sebagai benteng sekaligus pilar utama dalam menjaga keberlanjutan syiar agama dan membumikan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan sosial.
“Ya syababa Indunisiya, antum 'ala tsaghrin 'azhim, fakunu kama aradakum Allah khuddaman lihadzad-din, wa kunu kama aradakum Allah ahbaban li rasulihi shallallahu 'alaihi wa sallam,” ungkap Syekh.
“Wahai generasi muda Indonesia, kalian berada di posisi yang sangat penting. Maka jadilah sebagaimana yang Allah kehendaki, sebagai pelayan agama ini, dan jadilah sebagaimana yang Allah kehendaki, sebagai orang-orang yang mencintai Rasul-Nya.” Dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Pesan mendalam ini secara utuh mempertemukan dua ruang yang menjadi sorotan utama Sheikh Alaa al-Din yaitu masjid dan potensi anak muda. Masjid diharapkan mampu terus tumbuh sebagai pusat peradaban yang hidup di tengah warga, sementara anak muda hadir mengambil peran strategis di dalamnya termasuk memanfaatkannya untuk menyebarkan kebaikan dan nilai-nilai keagamaan melalui media digital.
Bagi Sheikh Alaa al-Din, partisipasi aktif generasi muda bukan sekadar urusan meramaikan masjid, tapi juga memastikan nilai-nilai kebaikan yang bersemi dari dalamnya bisa terus menjangkau masyarakat luas di tengah gempuran perubahan zaman. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Masjid itu bukan cuma tempat buat salat doang, tapi space paling ramah buat Gen Z nongkrong, produktif, dan bikin positive circle. Sheikh Alaa al-Din juga ngingetin kalau anak muda Indonesia kudu level up jadi pencipta konten positif di dunia digital dengan pegangan ilmu keagamaan yang kuat, bukan cuma sekadar konsumen medsos doang!









