Grand Mufti Kroasia Ungkap Rahasia Membangun Budaya Damai dari Rumah
astakom.com, Jakarta – Ngomongin perdamaian dunia tuh nggak melulu soal forum-forum internasional yang keliatan formal dan jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Justru, menurut Grand Mufti Kroasia, Aziz ef. Hasanović, perdamaian itu lahir dari hal-hal kecil di sekitar kita mulai dari pendidikan, keluarga, sampai teladan yang dikasih para pemimpin agama.
Mulai dari Diri
Dalam sesi International Grand Imams Conference (IGIC) 2026, Aziz menegaskan kalau proses membangun perdamaian itu wajib dimulai dari level individu dulu sebelum akhirnya naik kelas jadi budaya bersama. Sabtu (26/09/2026), ia menyampaikan pesan yang singkat tapi dalem banget.
“Perdamaian dimulai dari individu,” ungkap Aziz dikutip oleh astakom pada Senin, (28/09/2026).
Menurut dia, seorang imam punya pengaruh moral yang gede banget di tengah masyarakat. Jadi, peran imam bukan cuma soal mimpin ibadah doang, tapi juga gimana caranya dia membangun trust dan koneksi yang genuine sama warga sekitar.
Fondasi Hubungan
Aziz menyebut tiga hal penting yang jadi fondasi hubungan damai antarmanusia.
“Kepercayaan, martabat, dialog,” ucapnya.
Nilai-nilai ini, kata Aziz, nggak bisa cuma jadi wacana doang. Perdamaian itu harus real, harus kepraktik dalam interaksi kita sama orang lain, bahkan di lingkup yang paling deket sekalipun.
Peran Masjid
Buat Aziz, masjid punya posisi krusial dalam proses ini. Dari sanalah budaya damai bisa mulai ditanam lewat pendidikan dan pembentukan karakter jemaahnya.
“Perdamaian bermula dari masjid,” ucapnya.
Dari masjid, nilai-nilai itu kemudian nular ke lingkungan keluarga dan masyarakat luas. Makanya pendidikan jadi krusial, karena cara pandang kita ke orang lain itu dibentuk sejak kecil bukan tiba-tiba muncul pas udah gede.
Aziz kasih perhatian khusus buat generasi muda. Menurutnya, buat ngebentuk generasi yang bisa hidup berdampingan secara damai, butuh pendidikan yang nanemin sikap open-minded, saling menghormati, dan kemampuan berdialog yang sehat.
Ruang Keluarga
Keluarga pun jadi ruang penting setelah masjid dan pendidikan. Nilai-nilai yang didapat seseorang nggak cuma berhenti di tempat ibadah aja, tapi harus dibawa pulang dan dipraktikkan di rumah serta lingkungan sosial.
“Pendidikan, keluarga, pemuda, tetangga,” ucap Aziz saat menjelaskan ruang-ruang tempat budaya damai harus dibangun.
Proses ini pada akhirnya membentuk kepercayaan antarmanusia. Begitu trust ini tumbuh, masyarakat punya modal sosial yang kuat buat menghadapi perbedaan tanpa harus jadi sumber konflik.
Pendekatan Aziz ini nunjukkin kalau perdamaian sebenernya punya dimensi yang deket banget sama kehidupan kita sehari-hari. Peran imam, pendidikan, keluarga, dan lingkungan sekitar jadi bagian dari proses panjang membangun budaya damai yang nggak instan.
Pesan ini disampaikan Aziz dalam pembahasan IGIC 2026 yang ngebahas relasi antara peran imam, masjid, dan kehidupan sosial masyarakat. Harapannya, nilai perdamaian ini nggak cuma jadi pesan forum yang selesai begitu acara bubar, tapi beneran hidup dan dipraktikkan sehari-hari. (nAD/RaM)
Gen Z Takeaway
Bikin perubahan nggak usah tunggu gabung forum internasional atau nunggu aksi gede dulu. Peaceful vibes itu mulainya dari cara kita bersikap sehari-hari—mulai dari circle terdekat, cara kita respek sama perbedaan, sampai cara kita komunikasi di rumah dan lingkungan sekitar!









