Hujan Bikin Udara Lebih Bersih? Kenali Pemicu Alergi yang Bisa Muncul Setelahnya
astakom, Jakarta – Hujan sering bikin udara terasa lebih segar setelah panas seharian. Ternyata, ada alasan ilmiahnya. Air hujan dapat membantu membawa serbuk sari yang melayang di udara turun ke permukaan, sehingga kadarnya di udara cenderung lebih rendah saat hujan.
Namun, kondisi setelah hujan juga tetap perlu diperhatikan. Saat cuaca kembali hangat, beberapa pemicu alergi seperti serbuk sari dan spora jamur bisa kembali meningkat. Kondisinya pun bisa berbeda pada tiap orang, tergantung pemicu alergi dan lingkungan tempat tinggal.
Hal tersebut dijelaskan Cleveland Clinic dalam artikel kesehatan yang dilansir pada Minggu (27/09/2026). Artikel itu mengutip ahli alergi dan imunologi Katherine Weller, MD, mengenai hubungan antara cuaca dan perubahan kadar pemicu alergi.
Hujan bantu turunkan serbuk sari
Ketika hujan turun, air membawa sebagian serbuk sari dari udara ke permukaan. Karena itu, jumlah serbuk sari yang beterbangan biasanya lebih rendah ketika hujan.
“Hujan mencuci serbuk sari dari udara, sehingga hari-hari hujan cenderung memiliki kadar serbuk sari yang lebih rendah,” jelas Katherine Weller, MD.
Jadi, kalau hidung terasa lebih nyaman saat atau setelah hujan, salah satu kemungkinan penyebabnya adalah berkurangnya serbuk sari di udara. Meski begitu, efek tersebut tidak berarti semua pemicu alergi otomatis hilang.
Apalagi, kondisi udara bisa berubah lagi ketika hujan berhenti.
Cuaca hangat bisa ubah kondisi
Saat suhu kembali hangat, tanaman dapat kembali melepaskan serbuk sari. Cleveland Clinic mencatat bahwa hari yang hangat dan berangin biasanya memiliki kadar serbuk sari lebih tinggi.
Selain serbuk sari, kondisi lembap juga perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan meningkatnya spora jamur.
“Banyak kadar spora jamur berada pada tingkat tertinggi dalam kondisi lembap dan hujan,” jelas Weller.
Hal ini cukup relevan untuk kehidupan sehari-hari di Indonesia. Lingkungan yang lembap dapat membuat bagian rumah tertentu lebih mudah ditumbuhi jamur, terutama jika sirkulasi udaranya kurang baik.
Penelitian pada 380 siswa di sejumlah wilayah Jawa dan Sumatra juga menemukan bahwa 73,9 persen rumah yang diteliti memiliki kondisi lembap atau terdapat jamur. Studi tersebut menemukan adanya hubungan antara kelembapan atau jamur di rumah dengan penanda peradangan saluran napas.
Kenali pemicu di sekitar
Artinya, saat hujan sering turun, perhatian tidak hanya perlu diarahkan ke kondisi di luar rumah. Bagian dalam rumah juga penting untuk diperhatikan.
Dinding yang lembap, area yang sulit kering, atau bagian rumah yang mulai ditumbuhi jamur bisa menjadi tanda bahwa kelembapan perlu dikendalikan. Membersihkan area yang berjamur dan menjaga sirkulasi udara tetap baik dapat menjadi langkah sederhana untuk membantu mengurangi paparan.
Serbuk sari sendiri juga bukan hal yang sepenuhnya asing di Indonesia. Penelitian terhadap pasien dengan alergi pernapasan di Jakarta menemukan adanya sensitisasi terhadap sejumlah jenis serbuk sari, meski penelitian tersebut juga mencatat bahwa sebagian besar jenis pollen yang diuji bukan berasal dari tanaman asli Indonesia.
Karena itu, keluhan seperti bersin, hidung berair atau tersumbat setelah perubahan cuaca tidak selalu bisa langsung disebut sebagai alergi serbuk sari. Pemicu dan respons tubuh setiap orang bisa berbeda.
Jika keluhan alergi terus berulang, mengganggu tidur, aktivitas, sekolah atau pekerjaan, lebih baik di periksa ke dokter membantu mengetahui pemicunya. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
hujan memang dapat membantu menurunkan serbuk sari di udara, tetapi perubahan cuaca dan kondisi lembap setelahnya juga bisa memengaruhi pemicu alergi. Jadi, selain memperhatikan cuaca, cek juga kondisi rumah agar tetap kering dan nyaman.









