Menlu Sugiono di PBB: Saatnya Suara Global South Didengar Dunia!
astakom.com, Jakarta – Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono kembali menekankan sikap tegas Indonesia soal masa depan tata kelola dunia. Menurutnya, G77 harus benar-benar all-in memperjuangkan suara negara-negara Global South biar nggak sekadar jadi pelengkap dalam menentukan arah multilateralisme ke depan.
Statement ini disampaikan langsung oleh Menlu Sugiono di Pertemuan Tahunan ke-50 Menteri Luar Negeri G77, yang berlangsung di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB, New York, Amerika Serikat, Jumat (25/09/2026). Momennya juga cukup krusial karena bertepatan dengan tema besar yang diusung: “The Global South and the Future of Multilateralism.”
Bukan sekadar pelengkap
Dalam kesempatan itu, Menlu Sugiono blak-blakan menyampaikan dengan tegas.
“G77 harus memastikan bahwa suara Global South didengarkan dalam menentukan arah masa depan sistem multilateral.” tuturnya pada keterangan di situs Kemlu RI.
Statement singkat, tapi maknanya dalem banget intinya Global South nggak mau lagi cuma jadi angka statistik di sistem global yang didominasi negara maju.
Refleksi semangat Bandung
Menariknya, Menlu RI juga sempat flashback ke semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung 70 tahun silam. Buat dia, nilai kesetaraan dan hak tiap negara buat nentuin arah kerja sama internasional itu masih relate banget sama tantangan zaman sekarang.
Indonesia juga nggak lupa nyorot isu yang emang selama ini jadi PR bareng pembangunan. Menurut Menlu, negara berkembang butuh pembiayaan yang lebih terjangkau dan predictable, akses teknologi yang lebih luas, sampai kesempatan yang fair dalam perdagangan internasional. Semua ini dianggap penting buat terus didorong dalam agenda pembangunan global pasca-2030.
Modal penting negara berkembang
Sugiono juga menegaskan pentingnya kerja sama antarnegara Global South sebagai modal utama hadapi tantangan dunia yang makin kompleks.
“Kerja sama Selatan-Selatan dan triangular diperlukan untuk meningkatkan pertukaran pengetahuan, teknologi, dan kapasitas, sekaligus melengkapi kerja sama Utara-Selatan dan komitmen negara-negara maju,” ungkap Menlu Sugiono.
Buat Menlu RI, masa depan multilateralisme itu nggak bisa lepas dari tiga pilar: solidaritas, kesetaraan kedaulatan, dan kemitraan yang hakiki bukan yang cuma manis di pidato doang. Dengan kekuatan kolektif yang dimiliki, negara-negara Global South punya peluang besar buat ikut membentuk sistem multilateral yang tetap relevan dan bisa kasih dampak nyata ke masyarakat, bukan sekadar formalitas di atas kertas.
Deklarasi dan pemimpin baru
Perjumpaan akbar ini digelar di bawah kepemimpinan Uruguay selaku Ketua G77 tahun 2026. Hasilnya, forum ini berhasil mengesahkan Ministerial Declaration yang jadi sikap bersama negara-negara G77 dan RRT soal isu-isu besar seperti pembangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga ketahanan iklim. Nggak cuma itu, pertemuan ini juga resmi menetapkan Rwanda sebagai Ketua G77 berikutnya untuk periode 2027. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Indonesia lagi speak up di PBB lewat Menlu Sugiono! Intinya, negara-negara berkembang udah capek cuma dijadikan penonton di panggung dunia yang didominasi negara maju. Lewat semangat KAA Bandung, kita nuntut akses teknologi, perdagangan adil, dan dana pembangunan yang transparan biar kerja sama global itu beneran impactful, bukan sekadar gimmick atau wacana di atas kertas doang!









