Industri TPT Digaspol, Peluang Serap 4 Juta Tenaga Kerja dan Bidik Ekspansi 25%
astakom.com, Jakarta - Pemerintah terus nge-gaspol industri tekstil dan produksi tekstil (TPT) sebagai bagian dari upaya mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan aktivitas perekonomian di berbagai sektor.
Related sama hal itu, Presiden Prabowo Subianto juga menginstruksikan supaya industri ini terus diperkuat demi mendorong produktivitas perekonomian termasuk dalam kegiatan menyerap tenaga kerja.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bilang kalau arahan Presiden Prabowo itu menjadi perhatian pemerintah, karena industri TPT ini mencakup sektor dari hulu hingga hilir. Sektor ini harus terus diperkuat demi menjaga keberlanjutan industri di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kontribusi industri TPT
Lebih rinci lagi, Airlangga ngespill kalau sekarang sumbangan industri TPT terhadap perekonomian sebesar 0,97 persen. Selanjutnya, tenaga kerjanya tercatat sekitar 4 juta orang dan nilai ekspornya mencapai USD 12 miliar. Angka itu menunjukkan kalau sektor ini punya kontribusi penting bagi perekonomian nasional.
"Kemudian ini menjadi salah satu sektor padat yang strategis dan dalam arahan tadi terhadap Pak Presiden, kita sampaikan bahwa TPT ini tumbuhnya di atas pertumbuhan ekonomi, yaitu 5,6 persen," kata Airlangga dalam keterangannya di Istana Negara, dikutip astakom.com pada Rabu (23/09/2026).
Selesaikan masalah di sektor TPT
Makanya Presiden Prabowo pengen sektor TPT ini terus diperkuat. Salah caranya yaitu menyelesaikan berbagai permasalahan yang selama ini menghambat kinerja sektor TPT.
"Kemudian khusus persoalan yang dihadapi oleh tekstil, produk tekstil itu salah satunya adalah tentunya harmonisasi tarif dari hulu ke hilir. Karena di hulu kemarin ada beberapa tanggapan dari industri garmen terkait dengan biaya masuk antidumping," ujar Airlangga.
Dia menilai kalau permasalahan yang menghambat kinerja dan produktivitas industri TPT kayak persoalan biaya ini bisa diselesaikan dengan baik dan efektif, maka dia menaksir kontribusi dari sektor ini bisa lebih besar terhadap perekonomian dan membuka lebih banyak lapangan kerja Indonesia.
"Kita melihat bahwa utilisasi daripada pabrik tekstil itu masih sekitar 75 persen, sehingga masih ada ruang untuk melakukan ekspansi," katanya.
Lebih spesifikasi lagi
Lebih lanjut, pemerintah juga bakal membedakan industri TPT berdasarkan sektornya, seperti tekstil, pakaian, kulit, sampe alas kaki. Tujuan dari dibedakan sektor lebih spesifik ini yaitu supaya memudahkan dalam memetakan sektor mana yang paling membutuhkan penanganan dari pemerintah.
Contohnya, berdasarkan catatan pemerintah, neraca dagang tekstil bahan baku masih defisit. Hal ini disebabkan oleh impornya sebesar USD 8,4 miliar, lebih tinggi dibandingkan ekspornya yang cuma sampai USD 3,1 miliar.
Sedangkan di sisi lain, neraca perdagangan tekstil pakaian tercatat surplus. Ekspornya sebesar USD 8,7 miliar, jauh di atas impor yang sebesar USD 690 juta.
"Nah, tadi ada beberapa catatan terkait dengan hambatan. Yang pertama tentu terkait dengan kemudahan bahan baku untuk masuk. Bapak Presiden tadi meminta kita untuk mereview terkait dengan pertek dan yang lain," katanya.
Impor ilegal dimusnahkan
Nggak cuma persoalan itu, hambatan di hilir juga akan terus diatasi pemerintah, kayak soal impor ilegal yang membanjiri pasar dalam negeri. Bahkan untuk hal ini Airlangga ngespill kalau Presiden Prabowo meminta Kementerian Keuangan buat gercep menertibkan temuan-temuan yang kayak gitu supaya nggak terjadi lagi impor ilegal.
"Itu tadi juga diminta Pak Dirjen Bea Cukai untuk segera ditertibkan. Karena hal ini sangat mengganggu produsen-produsen garmen di dalam negeri," dia menjelaskan.
Dari sisi investasi, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P Roeslani ngespill kalau dia bakal ngasih arahan kepada perbankan, terutama Himbara, supaya memudahkan pelaku usaha TPT mendapatkan pinjaman.
"Agar Bank Himbara dan juga bank nasional lainnya memberikan pinjaman, terutama dalam rangka perbaikan mesin-mesin yang sudah cukup tua. Karena memang kita bicara masalah daya saing atau competitiveness dari produk tekstil garmen kita mungkin yang agak ketinggalan," kata Rosan.
Insentif: tax holiday dan tax allowance
Terus pemerintah juga berencana bakal ngasih tax holiday dan tax allowance yang selama ini sudah ada pada jenis investasi baru.
"Nah ini untuk tekstil akan dikonsider untuk diberikan kembali tax holiday. Ya itu salah satunya dan kami di Danantara juga akan menyiapkan satu daerah khusus untuk integrasi dari hulu ke hilir agar lebih efisien dengan menggunakan teknologi yang baik dan benar untuk membuat produk-produk kita juga mempunyai daya saing yang lebih baik," ujarnya. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Pemerintah lagi gaspol memperkuat industri TPT dari hulu sampai hilir karena sektor ini punya kontribusi besar, mulai dari serapan sekitar 4 juta tenaga kerja hingga ekspor USD12 miliar. Presiden Prabowo minta berbagai hambatan diberesin, termasuk tarif, bahan baku, impor ilegal, sampai mesin produksi yang sudah tua. Pemerintah juga siap dorong pembiayaan, tax holiday, dan kawasan industri terintegrasi supaya daya saing TPT makin naik. Intinya, ruang ekspansi masih terbuka karena utilisasi pabrik tekstil baru sekitar 75%.









