Qatar Turun Tangan! Bujuk AS-Iran Berunding Demi Selamatkan Selat Hormuz

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Henni Rachma Sari
Senin, 21 September 2026 | 14:10 WIB
Qatar Turun Tangan! Bujuk AS-Iran Berunding Demi Selamatkan Selat Hormuz
Qatar Turun Tangan! Bujuk AS-Iran Berunding Demi Selamatkan Selat Hormuz (Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari/ gemini)

astakom.com, JakartaQatar mengonfirmasi kalau tim mediasinya telah aktif membahas berbagai proposal selama hampir dua pekan demi mengupayakan pembukaan kembali pintu negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Qatar Turun Tangan

“Kami telah bertukar berbagai gagasan selama hampir dua pekan mengenai dimulainya kembali pembicaraan antara Washington dan Teheran,” tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari, menurut media Qatar yang dilansir dari Anadolu Agency, Senin, (21/09/2026).

Qatar bareng Pakistan selama ini memegang peran sebagai mediator utama yang menjembatani hubungan kedua belah pihak.

“Kami bekerja melalui tim mediasi dengan Teheran dan Washington untuk melihat apakah pembicaraan dapat dilanjutkan. Para mediator kami saat ini bergerak di antara berbagai ibu kota dengan harapan dapat mencapai kemajuan dalam jalur ini,” ucap al-Ansari.

Ia menegaskan kalau pihak Qatar telah mengantongi jaminan dari jajaran pejabat pemerintahan AS terkait komitmen Washington untuk mencapai titik temu atau kesepakatan.

Di sisi lain, al-Ansari menyoroti pentingnya “solusi regional yang menciptakan stabilitas dan pemahaman internasional yang melindungi jalur perairan seperti Selat Hormuz."

Ancaman Selat Hormuz

“Menempatkan jalur perairan di bawah kedaulatan satu negara dan menggunakannya sebagai senjata akan menciptakan preseden berbahaya bagi kita semua,” ungkapnya.

Konflik memanas setelah AS melancarkan operasi militer ke beberapa titik di wilayah Iran akibat kebuntuan perundingan mengenai navigasi di Selat Hormuz salah satu jalur penting dunia untuk pasokan energi dan perdagangan internasional. Langkah ketat tersebut tetap terjadi meskipun kedua negara sempat menandatangani nota kesepahaman pada pertengahan Juni lalu.

Merespons aksi militer tersebut, Iran membalas dengan menggempur area yang disebut sebagai fasilitas dan aset militer AS di beberapa negara Arab, termasuk Arab Saudi. Rangkaian serangan balasan ini berdampak pada jatuhnya korban sipil serta kerusakan fasilitas publik, yang berujung pada gelombang kecaman internasional dan desakan penghentian aksi militer.

Eskalasi Konflik Memanas

Kondisi makin keruh setelah AS dan Israel melancarkan aksi militer terhadap Iran sejak 28 Februari. Berdasarkan keterangan Teheran, ketegangan fisik ini telah merenggut lebih dari 3.000 jiwa, yang kemudian dibalas kembali oleh Iran melalui aksi balasan yang diklaim menewaskan warga Amerika dan Israel.

Di tengah situasi yang memanas, Departemen Luar Negeri AS merilis peringatan keamanan resmi pada Minggu. Peringatan tersebut menggarisbawahi bahwa kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah masih sangat dinamis dan menyimpan risiko eskalasi yang sulit diprediksi.

Pemerintah AS mengimbau seluruh warganya di kawasan tersebut untuk senantiasa waspada, serta meminta warga AS di lokasi lain untuk menghitung ulang rencana perjalanan menuju atau melintasi Timur Tengah. Imbauan senada turut disuarakan oleh sejumlah Kedutaan Besar AS di Uni Emirat Arab, Irak, dan Yordania pada hari yang sama.

Opsi Strategis Trump

Masih di hari Minggu, Presiden AS Donald Trump membeberkan arah kebijakannya terkait dinamika konflik ini saat diwawancarai oleh jaringan televisi Fox News.

“Pertanyaan saya adalah, jika dan kapan saya menghancurkan seluruh negara itu? Mereka sebaiknya berperilaku baik,” jelas Trump.

Trump menguraikan beberapa opsi strategis yang dimilikinya saat ini, mulai dari tindakan militer penuh terhadap Iran, membiarkan sektor perekonomian negara tersebut merosot tajam, hingga membuka opsi kompromi meja perundingan. Ia juga mengisyaratkan bahwa “hal-hal yang sangat besar akan terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama." (nAD/RaM)

Gen Z Takeaway

Drama geopolitik AS vs Iran makin panas sampai bikin jalur perdagangan vital dunia (Selat Hormuz) terancam lumpuh, tapi untungnya Qatar dan Pakistan gercep turun tangan jadi mediator demi nyari win-win solution. Situasi kawasan emang lagi unpredictable banget dengan statement keras dari Donald Trump, jadi pesan utamanya: isu keamanan global itu bukan cuma soal perang angka, tapi juga dampaknya langsung ke kestabilan pasokan energi dan ekonomi dunia yang bisa kerasa ke kehidupan kita sehari-hari.

Qatar selat hormuz Iran AS Negosiasi AS - Iran

Infografis

Terkini