Mensos Tinjau Penugasan 1.000 Personel TNI-Polri di Sekolah Rakyat Gresik
astakom.com, Jakarta — Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) meninjau langsung pelaksanaan penugasan program Taruna Bhakti Nusantara dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Gresik, Jawa Timur, Senin (03/08/2026).
Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan lebih dari 1.000 personel gabungan TNI dan Polri yang diterjunkan ke berbagai Sekolah Rakyat di Indonesia. Para personel tersebut bertugas memberikan pembinaan karakter, kedisiplinan, serta kepemimpinan bagi para siswa selama menempuh pendidikan berasrama.
Turut hadir dalam peninjauan tersebut Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, jajaran Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Gresik, serta pengelola SRT 1 Gresik.
Pembinaan karakter, bukan pelatihan militer
Dikutip dari laman Kemensos, Gus Ipul menegaskan, keterlibatan personel TNI-Polri di lingkungan Sekolah Rakyat sama sekali tidak ditujukan untuk pelatihan militer, melainkan membentuk kebiasaan hidup mandiri dan tertib pada anak-anak.
"Kami bersyukur semua personel sudah berada di lokasi masing-masing. Di sini mereka bertugas membimbing dan memberikan keteladanan untuk penguatan kedisiplinan serta kegiatan ekstrakurikuler," ujar Gus Ipul di Gresik, Senin (03/08/2026).
Materi pendampingan yang diberikan meliputi latihan baris-berbaris (PBB), kegiatan kepramukaan, pemeliharaan kebersihan diri dan ruang tidur, hingga membangun ritme belajar yang teratur di asrama.
Rekrutmen inklusif berbasis data terpadu
Siswa Sekolah Rakyat merupakan anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang terjaring melalui penjangkauan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) BPS, bukan melalui seleksi akademik. Sebagian dari mereka bahkan tercatat pernah putus sekolah atau belum pernah mengenyam pendidikan formal.
Selain fokus pada kedisiplinan, suasana toleransi juga menjadi penekanan utama di lingkungan sekolah. Arka Nanta Juanito Bolu, salah satu siswa SRT 1 Gresik asal keluarga nelayan, menceritakan perubahan positif yang dirasakannya setelah satu tahun tinggal di asrama.
"Di rumah saya dulu sulit disiplin, sekarang di Sekolah Rakyat jadi jauh lebih teratur. Pihak sekolah juga sangat toleran, bahkan Pak Kepsek mengantarkan langsung siswa yang non-Muslim untuk beribadah ke gereja," ungkap Arka.
Target 100 ribu siswa pada 2027
Secara nasional, total peserta didik di Sekolah Rakyat saat ini telah menembus angka 43.000 siswa dan diproyeksikan melebihi 45.000 siswa hingga akhir tahun 2026.
Pemerintah menargetkan perluasan kapasitas penerimaan hingga melebihi 100.000 siswa pada tahun 2027 mendatang, seiring penyelesaian infrastruktur gedung di daerah-daerah.
"Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, targetnya setiap kabupaten dan kota memiliki gedung Sekolah Rakyat berkapasitas 1.500 hingga 2.000 siswa untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA," pungkas Gus Ipul. (ACwan/aNs)
Gen Z Takeaway
Vibe-nya Sekolah Rakyat Gresik makin teratur berkat hadirnya 1.000+ personel TNI-Polri (Taruna Bhakti Nusantara) yang siap jadi mentor asrama! Eits, tapi tenang aja, ini bukan buat militerisasi, melainkan murni buat ngelatih soft skills, kedisiplinan, dan life skills anak-anak kurang mampu dari data DTSEN biar punya future yang lebih cerah. Mana toleransinya juga dapet banget, plus siap nampung sampe 100 ribu siswa tahun depan. Bener-bener level up buat pendidikan inklusif, no debate!









