Suahasil Spill Kinerja APBN September 2026, Pendapatan Negara Naik 25,5%, Defisit Masih Manageable
astakom.com, Jakarta - Kementerian Keuangan baru aja melaporkan kinerja Aggaran Pedapatan dan Belanja Negaraa di acara APBN KiTA hari ini, Jumat (09/10/2026). Dalam agenda ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Suahsil Nazara, ngespill kalau realisasi dan outlook asumsi dasar ekonomi makro 2026 tetap aman.
Dalam laporan yang dipaparkan oleh jajaran Kementerian Keuangan, realisasi dan outlook asumsi dasar ekonomi makro 2026 ada dalam kondisi Managable atau ter kelola dengan baik, sesuai desain yang telah ditetapkan dalam postur APBN.
Diketahui sampai dengan tanggal 30 September 2026 pendapatan negara tumbuh tinggi sebanyak 25,5 persen secara year-on-year (YoY) atau rentang tahunan. Angka yakni mencapai Rp2.341,5. Sedangkan tahun 2025 di bulan yang sama, pendapatan negara ada di angka Rp1.865,9.
Belanja negara naik
Selanjutnya, belanja negara juga mengalami peningkatan atau tumbuh sebanyak 19 persen YoY. Defisit juga masih di angka yang relatif terkendali yaitu 1,24 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto), dari batas yang ditetapkan dalam APBN yakni sebanyak 2,4 persen. Angka ini sama dengan defisit APBN sebesar Rp319,0 Triliun.
Lebih rinci lagi, penerimaan negara yang paling besar seperti biasa bersumber dari pajak dan bea cukai. Sampai per 30 September, penerimaan negara dari sektor perpajakan yakni sebesar Rp1.847,7 Triliun naik 21,8 persen dari pendapatan di rentang waktu yang sama tahun lalu atau YoY.
Pajak makin gacor
Lebih rinci lagi, sektor perpajakan terbagi menjadi 2 penerimaan yakni pajak dan bea cukai. Pajak berkontribusi sebesar Rp1.607,6 Triliun naik sebanyak 24,1 persen dalam rentang waktu YoY, dan kontribusi Bea Cukai terhadap penerimaan negara yakni Rp240,1 Triliun naik 8,5 persen dari periode sama pada tahun lalu.
Selanjutnya, untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak atau PNBP mengasilkan penerimaan negara sebanyak Rp492,3 Triliuntumbuh 41,7 persen secara YoY. Lalu Penerimaan hibah berkontribusi sebanyak Rp1,5 Triliun.
Untuk belanja negara, paling banyak dialokasikan untuk pemerintah pusat, diantaranya termasuk belanja kementerian dan lembaga juga belanja non kementerian dan lembaga, yakni dengan serapan anggaran sebanyak Rp2.061,3Triliun atau tumbuh sebanyak 29,6 persen. Diikuti dengan dana transfer ke daerah yang realisasi anggarannya mencapai Rp599,2 Triliun.
Ingetin Dirjen Pajak buat percepat restitusi
Menkeu Suahasil bilang kalau penerimaan negara yang mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu ini dipicu sama penyerapan pajak yang terus dipush sama pemerintah.
Selanjutnya, Suahasil juga mengingatkan kepada Dirjen Pajak soal restitusi pajak para pengusaha dan wajib pajak untuk segera dituntaskan, mengingat ini ada kaitannya sama cash-flow perusahaan.
"Betul ada manajemen restitusi, tetapi saya telah memberikan instruksi kepada Dirjen Pajak bahwa restitusi sebagai hak dari wajib pajak untuk industri-industri yang memang memerlukan cash-flow industri padat karya, UMKM, itu diberikan secepat mungkin diproses, hak dari para wajib pajak ini agar bisa dibayarkan," kata Suahsil dalam pemaparan APBN KiTA di Kantor Kemenkeu Jakarta Pusat, pada Jumat (09/10/2026). (Shnty/RaM)
Gen Z Takeaway
Aman, bestie! Kinerja APBN sampai 30 September 2026 masih terjaga, dengan pendapatan negara tembus Rp2.341,5 triliun atau tumbuh 25,5% secara tahunan. Sementara itu, belanja negara naik 19% dan defisit masih terkendali di level 1,24% terhadap PDB, jauh di bawah batas 2,4%. Menkeu Suahasil Nazara juga menegaskan restitusi pajak, terutama bagi UMKM dan industri padat karya yang membutuhkan arus kas, harus diproses secepat mungkin. Intinya, penerimaan negara lagi gaspol, tetapi hak wajib pajak juga harus tetap dipenuhi agar bisnis bisa terus bergerak.









