Menag Jajaki Kuliah Hybrid Al-Azhar: 2 Tahun di Indonesia, 2 Tahun di Kairo

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Henni Rachma Sari
Selasa, 29 September 2026 | 19:34 WIB
Menag Jajaki Kuliah Hybrid Al-Azhar: 2 Tahun di Indonesia, 2 Tahun di Kairo
Menag Jajaki Kuliah Hybrid Al-Azhar: 2 Tahun di Indonesia, 2 Tahun di Kairo! (Kemenag)

astakom.com, Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar menerima kunjungan Sekretaris Jenderal Dewan Ulama Senior Al-Azhar, Prof. Abbas Shouman, di kantor pusat Kemenag. Obrolan keduanya berkisar pada penguatan kerja sama pengembangan Bahasa Arab, tambahan kuota mahasiswa, peluang belajar jarak jauh (e-learning), sampai diplomasi keagamaan.

Ulama Masih Kurang

Menag menyebut jumlah ulama di Indonesia masih relatif sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Fasilitas untuk belajar agama Islam pun masih terbatas. Menurutnya, memahami bahasa Arab adalah fondasi utama untuk mendalami ilmu-ilmu keislaman, dan itu sebuah keniscayaan yang wajib dimiliki para calon ulama di Indonesia.

"Oleh karena itu saya mohon agar ke depan kerja sama semakin diperkuat, termasuk di bidang bahasa Arab. Kami membutuhkan guru-guru yang kuat dalam ilmu-ilmu Islam, sehingga kami ingin mengambil manfaat dan belajar dari Al-Azhar," tutur Menag, dikutip oleh astakom pada Selasa (29/09/2026).

Dana Aman, Regulasi Jadi Kendala

Menag menjelaskan kalau ekonomi Indonesia tumbuh 5,6%, salah satu yang tertinggi di antara negara G20. Jadi, urusan pendanaan kerja sama bukan masalah. Tantangannya ada di regulasi, karena Mesir tidak mengizinkan berdirinya cabang Universitas Al-Azhar di luar negeri. Di sisi lain, Mesir tetap jadi destinasi utama orang Indonesia untuk menuntut ilmu karena stabilitas keamanannya.

Karena itu, Menag berharap Al-Azhar mau memperluas kerja sama lewat skema pendidikan jarak jauh, dengan infrastruktur dan pembiayaan dari pihak Indonesia. Alternatifnya, Al-Azhar bisa memperbanyak kuota penerimaan mahasiswa Indonesia dan menambah utusan pengajar (mab'uts).

"Mesir menjadi tujuan utama bagi masyarakat Indonesia untuk menimba ilmu, jika memungkinkan kami berharap untuk membuka cabang Al Azhar di sini, atau menambah guru-guru bahasa Arab dari Al Azhar di sini, atau menambah kuota bagi penerimaan mahasiswa Indonesia di Al Azhar," papar Menag.

Skema Hybrid Al-Azhar

Prof. Abbas Shouman setuju kalau ketimpangan antara besarnya populasi muslim dan terbatasnya infrastruktur pendidikan harus segera dicarikan solusi lewat kerja sama yang lebih luas. Ia menyebut Al-Azhar membuka peluang belajar jarak jauh dengan sistem hybrid.

Dalam skema ini, mahasiswa menjalani 2 tahun pertama di negara asal, lalu 2 tahun berikutnya langsung di Kairo, Mesir. Ijazah yang diterima resmi dan setara dengan mahasiswa reguler yang kuliah 4 tahun penuh. Selain itu, ada juga program belajar bahasa Arab secara daring lewat Pusat Bahasa di bawah Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar.

Kuota Bebas, Beasiswa Terbatas

"​Terkait dengan penambahan jumlah kuota mahasiswa Indonesia di Mesir, secara prinsip, sebenarnya tidak ada pembatasan itu. Jadi, seberapa banyak pun, silakan saja. Hanya mungkin yang dibatasi adalah yang mendapatkan beasiswa full, dalam arti dia mendapatkan asrama, uang saku, dan uang kuliah. Itu yang jumlahnya terbatas. Untuk yang belajar, itu tidak ada pembatasan," paparnya.

Ia menambahkan kalau beasiswa penuh yang menanggung asrama dan uang saku memang terbentur anggaran negara Mesir. Meski begitu, kuota untuk mahasiswa Indonesia tercatat sebagai salah satu yang terbesar dibanding negara lain.

Untuk pengiriman utusan pengajar (mab'uts) ke Indonesia, Prof. Abbas memaparkan jumlahnya masih terbatas karena menyesuaikan alokasi anggaran dan APBN pemerintah Mesir. Sebagai jalan keluar, kedua pihak membuka opsi jalur kontrak. Lewat jalur ini, kader-kader unggulan lulusan Al-Azhar bisa didatangkan ke Indonesia dengan biaya yang ditanggung pemerintah Indonesia.

Menag, yang terpilih sebagai presiden The International Assembly of Mosque Imams (IAMI) dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026, juga menyampaikan rencananya. Ia akan meminta Sekjen PBB agar mengakomodasi suara para imam di Indonesia.

 "Sebab mereka menganggap bahwa peran imam itu sangat strategis termasuk dalam menggagas perdamaian dunia dan mengatasi konflik. Kami akan menyampaikan hal ini kepada Sekretariat Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai bentuk diplomasi keagamaan. Karena ada permintaan yang diajukan kepada organisasi islam untuk berpartisipasi dalam program internasional seperti penanggulangan terorisme dan ekstremisme," ungkapnya.

"Oleh karena itu, kami mengundang para pemimpin agama dan imam masjid di dunia Islam khususnya, dan di seluruh dunia umumnya, untuk bergabung dalam hal ini dan menyuarakan suara para imam dalam mewujudkan perdamaian dunia, dan kami akan mencatatkannya kepada Sekretariat Jenderal. Mari kita angkat suara perdamaian dari masjid-masjid dan rumah-rumah," tutup Menag. (nAD/RaM)

Gen Z Takeaway

Jadi intinya, mimpi kuliah di Al-Azhar makin kebuka lebar nih. Lewat skema hybrid, kamu bisa mulai kuliah 2 tahun di Indonesia dulu, baru lanjut 2 tahun di Kairo, dan ijazahnya tetap resmi serta setara sama mahasiswa reguler. Soal kuota, Al-Azhar bilang nggak ada batasan buat yang mau belajar, tapi beasiswa penuh (asrama, uang saku, uang kuliah) jumlahnya terbatas. Jadi, siapin bahasa Arab dari sekarang dan pantau info beasiswanya ya!

Al Azhar Kairo Menag Nasaruddin Umar Kementerian Agama Beasiswa Pendidikan

Infografis

Terkini