IGIC 2026: Ulama Maroko Ungkap Peran Penting Perempuan Bangun Perdamaian Dunia
astakom.com, Jakarta – Obrolan seputar peran imam dalam merakit kedamaian dunia di ajang International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 ternyata nggak cuma didominasi oleh para imam laki-laki.
Perspektif perempuan juga dapat panggung lewat Khadija Abu Zaid, sosok dari dewan lokal ulama di Syakirat (distrik Tabarak), Maroko. Ia menegaskan betapa krusialnya kepemimpinan agama dalam membentuk kedamaian, mulai dari inner peace hingga kehidupan bermasyarakat.
Melampaui ritual
Saat menyampaikan gagasan di depan para imam dan tokoh agama lintas negara di Jakarta, Khadija menyoroti dimensi spiritual yang menurutnya jadi pondasi paling utama dari sebuah perdamaian. Tugas seorang imam, tegasnya, jauh melebihi ritual memimpin salat karena mereka juga memegang peran kunci untuk membangun kedamaian batin serta mendampingi umat dalam membersihkan jiwa.
“Fungsi utama seorang imam, selain memimpin salat, adalah membangun ketenteraman spiritual, kedamaian batin, dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Perdamaian eksternal dan stabilitas sosial tidak akan tercapai apabila kedamaian tidak hadir dalam hati manusia,” tutur Khadija, dikutip oleh astakom pada Senin (28/09/2026).
Ia menambahkan, posisi imam pada dasarnya adalah melanjutkan misi kenabian dengan merangkul masyarakat menuju kebaikan, kebenaran, keadilan, serta penyucian jiwa. Maka dari itu, kiprah seorang imam nggak berhenti di urusan ibadah ritual semata, melainkan ikut membentuk karakter dan arah kehidupan sosial masyarakat.
Untuk memperkuat pandangannya, Khadija mengutip Surah Asy-Syams yang menaruh perhatian besar pada penyucian jiwa. Di surah itu, keberuntungan seseorang sangat bergantung pada kemampuannya menjaga kesucian jiwa, sedangkan kegagalan akan membayangi mereka yang membiarkan jiwanya terkontaminasi hal buruk.
Aksi nyata tauhid
Bagi Khadija, proses pembinaan spiritual ini sangat relatable dengan kepedulian terhadap sesama. Nilai keimanan dan tauhid sejatinya wajib dibuktikan lewat tindakan nyata dan rasa kasih sayang di tengah masyarakat.
Ia pun menyinggung bagaimana pesan Al-Qur'an pada periode Makkah senantiasa menyambungkan konsep tauhid dengan tanggung jawab sosial mulai dari berbagi makanan kepada yang membutuhkan hingga memberikan perhatian khusus untuk anak-anak yatim.
“Tauhid yang sejati membebaskan hati dari berhala-berhala yang ada dalam diri manusia, seperti kesombongan, kekikiran, dan fanatisme,” ungkapnya.
Dari sini kelihatan jelas kalau penyucian jiwa bukan cuma urusan personal antara manusia dan Tuhannya. Nilai-nilai spiritual justru teruji dari cara seseorang memperlakukan sesamanya dan bagaimana ia merespons berbagai problematika di lingkungan sekitar.
Dalam ranah kepemimpinan agama, imam bertindak sebagai jembatan yang menyatukan kedua hal tersebut yaitu pembinaan kerohanian jalan beriringan dengan penguatan rasa empati, kasih sayang, dan kepedulian sosial.
Inovasi murshidat Maroko
Point menarik yang dibawa Khadija juga sangat berkaitan dengan pengalaman Maroko dalam mencetak SDM di bidang keagamaan. Ia memaparkan keberadaan Mohammed VI Institute for the Training of Imams and Female Guides (Murshidat) di Rabat yang resmi beroperasi sejak 2015.
Lembaga yang berada di bawah naungan Universitas Al-Qarawiyyin ini nggak cuma mendidik kandidat imam laki-laki, tapi juga membina pembimbing agama perempuan alias murshidat. Murid-muridnya pun datang dari berbagai penjuru, mulai dari Maroko sendiri hingga negara-negara di benua Afrika, Eropa, dan Asia.
Model pendidikan ini jadi bukti nyata keterlibatan perempuan dalam membimbing kehidupan beragama masyarakat. Para murshidat dibekali pengetahuan yang setara dengan para imam, mengawinkan ilmu keislaman dengan pemahaman mendalam atas dinamika masyarakat modern.
“Pendidikan tersebut mengintegrasikan ilmu-ilmu Islam dengan ilmu kemanusiaan, seperti sosiologi dan psikologi, serta teknologi. Para pembimbing agama dibekali agar mampu menyebarkan moderasi, toleransi, dan membangun keterlibatan yang konstruktif dalam masyarakat modern,” ungkap Khadija.
Terobosan dari Maroko ini membuktikan kalau pengelolaan kehidupan keagamaan bisa berjalan harmonis lewat kolaborasi laki-laki dan perempuan. Pondasi spiritual diperkokoh melalui penyucian jiwa dan pembentukan akhlak, sementara kesiapan menghadapi tantangan zaman ditopang oleh penguasaan ilmu pengetahuan yang luas.
Perdamaian berkelanjutan
Hadirnya Khadija di forum IGIC 2026 sukses memperluas sudut pandang dalam diskusi para imam dunia. Dialog mengenai fungsi masjid, kepemimpinan agama, dan kedamaian kini tak lagi berputar pada tugas-tugas imam laki-laki saja, tetapi juga memberi tempat bagi pemikiran serta pengalaman perempuan dalam merumuskan kepemimpinan agama yang relevan dengan tantangan zaman.
Pada akhirnya, di mata Khadija, mewujudkan kedamaian global tidak cukup hanya dengan mengandalkan diplomasi antarnegara atau antarkelompok. Perdamaian yang sesungguhnya selalu berawal dari individu yang memiliki ketenangan jiwa, sanggup mengikis sifat sombong dan fanatisme, serta mampu menerjemahkan keyakinannya menjadi aksi nyata buat sesama. (nAD/RaM)
Gen Z Takeaway
Perdamaian dunia tuh nggak cuma urusan diplomasi antarnegara, tapi dimulai dari inner peace dan empati nyata ke sesama. Lewat hadirnya para pembimbing agama perempuan (murshidat), kepemimpinan spiritual makin inklusif dan relevan buat ngadepin dinamika zaman tanpa kehilangan nilai moderasi.









