Egyptian Family House, Model Dialog Lintas Agama Mesir yang Jadi Contoh Dunia
astakom.com, Jakarta – Gimana caranya para tokoh agama dari keyakinan berbeda bisa duduk bareng dan saling ngobrol? Mesir punya jawabannya lewat Egyptian Family House, praktik yang dipaparkan dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026. Model ini mempertemukan para tokoh agama untuk membangun komunikasi dan kerja sama di tengah masyarakat yang kaya akan keragaman keyakinan.
Sekretaris Jenderal Council of Senior Scholars Al-Azhar sekaligus Wakil Grand Imam Al-Azhar Kairo, Abbas Shouman, menegaskan kalau pengalaman Mesir membuktikan dialog antarpemeluk agama bisa dirajut lewat lembaga yang mempertemukan para pemimpin agama.
Menurutnya, Egyptian Family House adalah salah satu pengalaman yang layak dipelajari untuk membangun hubungan antarkelompok keagamaan.
Tolak ukur kerukunan
“Egyptian Family House merupakan model kerja sama antara umat Islam dan Kristen di Mesir,” tutur Abbas pada sesi IGIC 2026 bertema Harmony of Mosques and Religious Diplomacy, dikutip oleh astakom pada Senin, (28/09/2026).
Abbas menyebut pengalaman tersebut tidak berjalan sendirian. Al-Azhar juga sudah lama menjalin komunikasi dengan lembaga-lembaga gereja lewat dialog yang berlangsung berkelanjutan.
Langkah nyata Al Azhar dan Vatikan
“Kami menjalin dialog dengan Vatikan dan gereja-gereja,” ucapnya.
Komunikasi lintas agama ini, jelas Abbas, jadi bagian dari usaha membangun pemahaman bersama di tengah masyarakat dengan latar belakang keagamaan yang beda-beda.
Ia menilai pengalaman ini cocok banget buat masyarakat yang kehidupan sosialnya dipenuhi keberagaman agama. Dialog, menurutnya, menjadi wadah buat saling memahami sekaligus mencari titik temu dalam kehidupan bersama.
Solusi konkret negara
Dalam penjelasannya, Abbas juga menempatkan pengalaman Mesir sebagai salah satu rujukan bagi negara-negara bermasyarakat multireligius. Dengan adanya mekanisme dialog, para pemimpin agama bisa berkomunikasi langsung saat menghadapi persoalan yang menyangkut kehidupan bersama.
“Ini adalah model bagi masyarakat multireligius,” jelasnya.
Pengalaman itu menunjukkan kalau hubungan lintas agama tidak cuma dibangun lewat pernyataan bersama, tetapi juga lewat perjumpaan dan komunikasi antarlembaga keagamaan.
Dalam konteks ini, forum imam besar dunia menjadi ruang tukar pengalaman soal praktik keagamaan yang tumbuh di berbagai negara. Setiap negara punya cerita berbeda dalam mengelola keragaman, termasuk dalam membangun komunikasi antara komunitas Muslim dan pemeluk agama lain.
Bukti nyata damai lintas agama
Paparan Abbas menggambarkan kalau praktik dialog bisa dikembangkan lewat institusi yang menyediakan ruang komunikasi antarpemimpin agama. Pengalaman ini menjadi salah satu materi yang mencuat dalam pembahasan harmoni masjid dan hubungan lintas agama di IGIC 2026.
Lewat pertukaran pengalaman tersebut, para peserta tak hanya membahas konsep harmoni, tetapi juga mengenal praktik yang sudah berjalan di sejumlah negara sebagai bahan belajar bersama. Gak cuma teori, tapi juga bukti nyata. (nAD/RaM)
Gen Z Takeaway
Toleransi tuh gak cukup cuma sebatas posting template quotes manis di medsos, tapi butuh aksi nyata dan ruang nongkrong bareng buat ngobrol langsung. Lewat Egyptian Family House, Mesir ngebuktiin kalau perbedaan keyakinan bukan alasan buat walk out, melainkan modal buat duduk bareng, saling pahami sudut pandang, dan cari common ground. Respect itu diciptain lewat komunikasi intens, bukan sekadar asumsi!









