Delegasi Brasil: Jakarta Layak Jadi 'Ibu Kota' Imam Perdamaian
astakom.com, Jakarta – Jakarta lagi dilirik serius buat jadi pusat jejaring imam perdamaian sedunia, dan Masjid Istiqlal diusulkan bakal jadi markas tetapnya. Ide ini dilempar langsung oleh Sheikh Muhammad Abdullah Al-Maghribi, delegasi asal Brasil, dalam gelaran International Grand Imams Conference atau IGIC 2026 yang berlangsung di Jakarta.
Menurut Sheikh Muhammad, Indonesia punya "posisi strategis banget buat nyatuin para imam dan tokoh agama dari berbagai belahan dunia. Bukti nyatanya kelihatan dari siapa aja yang hadir di IGIC ada perwakilan Al-Aqsa, Al-Azhar, Maroko, Asia Timur, kawasan Teluk, Eropa, sampai Amerika. Jaringan seluas itu, katanya, bisa dibangun dari Jakarta.
“Kita berkumpul hari ini di Indonesia, negara dengan populasi Muslim yang besar dan memiliki lebih dari seratus ribu masjid. Sangat tepat Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan global ini,” tutur Sheikh Muhammad selaku Direktur Komunikasi Internasional di World Sufi Mosque, dikutip oleh astakom.com pada Minggu (27/09/2026).
Markas permanen di Istiqlal
Buat Sheikh Muhammad, momentum ini sayang banget kalau cuma berhenti pas konferensi kelar. Makanya dia usul Jakarta resmi disematin gelar Global Capital of Imams of Peace, lengkap dengan sekretariat permanen di Masjid Istiqlal yang jadi titik temu kolaborasi imam-imam dunia soal isu perdamaian dan kehidupan beragama.
Peran modern imam masa kini
Gagasan ini lahir dari pandangannya soal tanggung jawab imam zaman now yang makin luas. Ia membaca konsep imamah dalam Al-Qur'an lewat tiga dimensi yaitu amanah kepemimpinan, metodologi memberi petunjuk, dan tujuan akhirnya yaitu terciptanya Dar As-Salam, kehidupan yang penuh kedamaian.
Dari situ, dia merinci minimal empat role yang wajib dipegang imam masa kini jadi pemimpin spiritual, pemimpin sosial, jembatan diplomasi lintas agama, sekaligus mampu ngomongin wacana keagamaan yang nyambung sama realita kekinian.
Soal peran sosial, Sheikh Muhammad bilang imam bisa turun tangan sebagai penengah kalau ada masalah di tengah masyarakat. Posisinya yang deket sama umat bikin imam punya modal buat nge-bridge kesenjangan sosial, termasuk gap ekonomi antarkelompok.
“Imam harus berperan sebagai mediator sosial yang menjembatani kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin,” tegasnya.
Inspirasi toleransi lintas agama
Dia juga cerita pengalaman komunitas Muslim di Brasil, negara yang mayoritas warganya Katolik. Di sana udah ada dewan spiritual yang mempertemukan komunitas Muslim dengan berbagai komunitas Kristen mulai dari Katolik, Ortodoks, Maronit, Sunni, sampai Syiah demi memperkuat hidup berdampingan secara damai. Buat Sheikh Muhammad, ini bukti kalau imam bisa ambil peran diplomatik dalam dialog lintas iman tanpa harus terseret konflik antar kelompok.
Sheikh Muhammad juga nyoroti pentingnya cara imam nyampein pesan agama biar nggak stuck di perdebatan klasik yang itu-itu aja. Prinsip dasar akidah dan fikih tetap jadi fondasi, tapi dia dorong para imam buat lebih concern sama fiqh al-waqi' alias fikih realitas, biar bisa lebih peka baca dan bantu selesaikan persoalan masyarakat hari ini.
“Akidah dan fikih memiliki prinsip-prinsip yang tetap, tetapi kita harus memberikan perhatian pada fiqh al-waqi’ untuk menjawab persoalan masyarakat kontemporer,” ucapnya.
Pendekatan kayak gini dianggap penting biar pesan agama tetap relevan sama perubahan sosial dan bisa kasih solusi nyata buat problem yang dihadapi umat sekarang.
Rekomendasi strategis aksi global
Selain usul sekretariat permanen di Istiqlal, Sheikh Muhammad juga ngasih beberapa rekomendasi lanjutan buat ditindaklanjuti jejaring imam internasional:
- Bikin badan mediasi imam internasional yang siap turun kalau ada konflik di komunitas Muslim
- Masukin kurikulum fikih perdamaian ke kampus-kampus Islam di berbagai negara
- Bangun platform digital berisi panduan khutbah Jumat, fokus ke pesan damai dan lawan ujaran kebencian
- Bikin penghargaan internasional buat imam yang sukses membangun harmoni sosial
- Bentuk dewan yang kasih dukungan dan panduan buat masjid-masjid komunitas Muslim minoritas di negara-negara Barat
Semua wishlist itu, kata Sheikh Muhammad, muncul dari kebutuhan memperluas peran imam menghadapi tantangan masyarakat kontemporer. Jadi imam sekarang bukan cuma pemimpin ritual doang, tapi juga pemimpin spiritual, mediator sosial, penggerak dialog lintas iman, sekaligus pembawa pesan damai di ruang publik. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Imam zaman now udah bukan sekadar memimpin sholat di masjid doang, guys! Di era modern ini, peran imam makin upgraded jadi mediator sosial, pembawa pesan damai lintas agama, hingga solutif menjawab isu kekinian lewat fikih realitas. Jakarta yang dilirik jadi hub utamanya makin membuktikan kalau Indonesia punya posisi super strategis dalam menjaga toleransi dan perdamaian dunia.









