Maraton Diplomasi di PBB, Menlu Sugiono Incar Kursi Dewan Keamanan

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Henni Rachma Sari
Kamis, 24 September 2026 | 17:17 WIB
Maraton Diplomasi di PBB, Menlu Sugiono Incar Kursi Dewan Keamanan
Maraton Diplomasi di PBB, Menlu Sugiono Incar Kursi Dewan Keamanan (Tangkapan Layar MoFA Indonesia terkait Press Briefing Menlu RI pada Sidang Majelis Umum PBB Ke 81 di New York)

astakom.com, Jakarta – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia memaparkan berbagai agenda strategis dalam High Level Week Sidang Majelis Umum (SMU) PBB sesi ke-81 di New York, Amerika Serikat. Selain bersiap menyampaikan National Statement pada Sabtu (26/9/2026) sore.

Menlu juga secara intensif menggelar marathon diplomasi bilateral serta menggalang dukungan bagi pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029–2030.

Langkah diplomasi ini krusial bagi publik karena menyangkut peran aktif Indonesia dalam menjaga stabilitas keamanan dunia, penyaluran bantuan kemantuan, serta penguatan posisi tawar negara-negara berkembang (Global South) di tengah situasi geopolitik global yang kian tidak menentu.

Pesan utama Indonesia

"National Statement Indonesia akan membawa pesan utama tentang pentingnya membangun ketahanan global yang ditopang oleh ketahanan nasional dan kawasan yang kuat, dan di tengah situasi dunia saat ini yang begitu tidak menentu dan tidak pasti, membangun ketahanan bersama merupakan langkah penting dalam mengatasi tantangan-tantangan global" tutur Menlu Sugiono pada rilis yang diterima oleh wartawan astakom pada Kamis, (24/09/2026).

Kawal kemerdekaan Palestina

Dalam 2 hari pertama rangkaian sidang yang dipimpin Presiden SMU PBB ke-81 Dr. Khalilur Rahman, diplomasi Indonesia fokus mengawal kemerdekaan dan perdamaian di Palestina.

"Saya juga akan menyampaikan pandangan Indonesia mengenai perdamaian dan keamanan internasional, mengenai isu Palestina, kemudian penguatan sistem multilateralisme, reformasi PBB, serta penguatan peran Global South" jelasnya

Menlu menghadiri pertemuan tingkat menteri Group of Eight Arab and Islamic Countries (Indonesia, Qatar, Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Arab Saudi, dan UEA) guna memastikan proses perdamaian membawa dampak nyata bagi warga sipil.

"Perhatian utama kami adalah memastikan proses perdamaian menghasilkan perubahan nyata di lapangan, yang juga berarti terus mendorong gencatan senjata permanen, memastikan bantuan kemanusiaan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan, serta mempercepat pemulihan dan rekonstruksi Gaza" sambungnya.

Selain itu, Menlu menghadiri forum 'The Road Ahead One Year After The New York Declaration' guna mengeksekusi roadmap solusi dua negara dan perdamaian Gaza yang disepakati tahun lalu agar tidak sebatas wacana.

Dorong Kolaboras MIKTA

Di forum MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia), Indonesia mendorong pentingnya peran middle powers di tengah kondisi multilateralisme yang makin kompleks. Menlu menghimbau agar perbedaan pandangan antar-negara dapat dijemput dengan kolaborasi yang membumi.

"Saya menyampaikan bahwa di tengah berbagai perbedaan yang ada, MIKTA harus dapat menjadi kekuatan yang mampu menjembatani berbagai perbedaan dan kekuatan tersebut dan mendorong kerjasama yang konkret antar bangsa" paparnya.

Langkah memperluas jaringan diplomasi juga dilakukan melalui pertemuan tingkat menteri ASEAN dan Pacific Alliance (Meksiko, Kolombia, Peru, dan Cili) untuk memperkuat kemitraan konkret di sektor pendidikan, pariwisata, digitalisasi, hingga pengembangan smart cities.

Bidikan kursi PBB

Di sela-sela agenda utama, Menlu melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu Jerman, Menlu Inggris, Menlu Belanda, kandidat Sekjen PBB asal Kosta Rika, serta pertemuan trilateral bersama Belanda dan UN Under Secretary General Jean-Pierre Lacroix. Pertemuan pull-aside juga dilakukan dengan perwakilan Brunei, Kirgistan, Mongolia, Kanada, Kolombia, Uni Eropa, dan Rumania.

Seluruh ruang dialog tersebut dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkuat posisi diplomasi Indonesia di panggung internasional, termasuk mengamankan tiket ke dewan elit PBB.

"Saya juga menggunakan berbagai pertemuan tersebut untuk menggalang dukungan bagi pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029-2030." ungkapnya

Menlu menegaskan bahwa agenda diplomasi di New York masih akan berlanjut beberapa hari ke depan, mencakup isu-isu krusial seperti lingkungan, pembangunan, perlindungan pekerja kemanusiaan, hingga peacebuilding.

"Dan rekan-rekan yang saya hormati, rangkaian kegiatan di New York ini masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Saya akan mengikuti berbagai pertemuan yang membahas isu perdamaian dan keamanan, Palestina, pembangunan, lingkungan, perlindungan pekerja kemanusiaan hingga peace building" tegasnya. (nAD/RaM)

Gen Z Takeaway

RI lagi spin the wheel abis-abisan di New York buat ngamankan posisi elit di DK PBB periode 2029–2030, sambil tetep stay grounded ngebela kemerdekaan Palestina dan ngerangkul negara-negara berkembang biar suara Global South makin slay dan terdengar di panggung dunia!

DK PBB 2026 Sidang umum ke-81 PBB Sidang umum PBB Menlu Sugiono

Infografis

Terkini