Raja Yordania Sentil Dunia: Cuma Pelihara Konflik Palestina, Bukan Menghentikannya!

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 23 September 2026 | 15:01 WIB
Raja Yordania Sentil Dunia: Cuma Pelihara Konflik Palestina, Bukan Menghentikannya!
Raja Yordania Sentil Dunia: Cuma Pelihara Konflik Palestina, Bukan Menghentikannya! [Ilustrasi/Gemini AI])

astakom.com, Jakarta – Raja Yordania Abdullah II akhirnya speak up soal isu yang udah lama banget jadi PR dunia internasional, konflik Palestina-Israel. Menurutnya, selama ini komunitas global tuh lebih milih tundamsama masalahnya doang, alias sekadar ngatur-ngatur biar nggak makin parah, ketimbang benar-benar cari solusi biar konflik ini kelar.

Di pidatonya pas Sidang Majelis Umum PBB sesi ke-81 di New York, Amerika Serikat, Selasa (22/09/2026), Raja Abdullah nggak segan-segan kasih statement tegas. Dia bilang udah bertahun-tahun dirinya wanti-wanti soal bahaya kalau konflik ini terus dibiarin ngambang tanpa penyelesaian yang jelas.

Global cuma nge-ghosting solusi

“Selama beberapa dekade saya berdiri di hadapan majelis ini dan memperingatkan bahaya dari membiarkan konflik Palestina-Israel tidak terselesaikan. Namun, komunitas internasional memilih untuk mengelola konflik tersebut, bukan menghadapinya,” tegas Abdullah,  dilansir Anadolu Agency pada Rabu, (23/9/2026).

Darurat jadi legal

Yang bikin makin miris, kata dia, setiap pelanggaran baru yang dilakukan Israel itu awalnya keliatan cuma sementara aja semacam "numpang lewat" doang. Tapi lama-lama malah jadi permanen, dan ujung-ujungnya malah dilegitimasi jadi kebijakan resmi. Gimana sesuatu yang harusnya darurat malah jadi normal.

“Yang sementara menjadi permanen, dan yang permanen menjadi kebijakan,” ungkap Raja Abdullah.

Pemindahan paksa

Nggak cuma itu, Raja Abdullah juga dengan tegas nyebut kalau pemindahan paksa warga Palestina di Tepi Barat itu udah masuk kategori "kejahatan perang." Dia gambarin situasi di sana bukan sekadar eskalasi biasa, tapi udah jadi "perubahan mendasar" yang serius banget dampaknya.

Menurut dia, Israel terus-terusan memperluas permukiman di Tepi Barat, dan bikin warga Palestina kayak dipaksa hidup dalam kondisi "penundukan" alias serba tertekan dan nggak punya kontrol atas nasib sendiri.

Gaza: 300 hari, 300 nyawa kecil

Perluasan permukiman, kekerasan yang terus terjadi, sampai pemindahan paksa warga Palestina, kata Raja Abdullah, semua itu bukan kejadian yang berdiri sendiri-sendiri. Semuanya "unsur dari satu kebijakan" besar yang tujuannya jelas, maksa warga Palestina angkat kaki dari tanah kelahiran mereka sendiri.

Yang paling nyesek, Raja Abdullah juga ungkap fakta pilu, setidaknya 300 anak Palestina meninggal dunia dalam 300 hari pertama masa gencatan senjata di Gaza. Dari rentetan serangan Israel di sana, dia juga nyebut kalau rumah sakit lapangan milik Yordania pun ikut jadi sasaran. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Realitanya, dunia tuh playing safe doang—cuma masang plester di luka bacok ketimbang nyembuhin akarnya. Kalau darurat dibiarin jadi policy resmi dan displacement digas, standar kemanusiaan global emang fix hipokrit. Reminder buat kita: apathy is a choice, and silence is complicity.

Yordania Raja Yordania Sidang umum PBB Sidang umum ke-81 PBB palestina

Infografis

Terkini