Spill Titik Karhutla yang Muncul di Berbagai Wilayah Indonesia Sepanjang September 2026
astakom.com, Jakarta - Karhutla masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia sepanjang September 2026. Selain pemantauan hotspot melalui satelit, sejumlah kejadian kebakaran juga dilaporkan di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Melansir dari keterangan resmi Kementerian Kehutanan dan BNPB yang dihimpun astakom.com hingga Senin (21/09/2026), kondisi hotspot dan kebakaran di lapangan masih dinamis. Beberapa kejadian mencatat luasan lahan terbakar hingga ratusan hektare.
Hotspot sendiri merupakan indikator anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit, sehingga tidak otomatis menunjukkan satu kejadian kebakaran. Berikut sejumlah titik dan kejadian karhutla yang tercatat sepanjang September 2026.
Hotspot masih terpantau
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan, hingga Minggu (20/09/2026) pukul 23.59 WIB terdapat 1.532 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence secara nasional.
Pada pemantauan enam provinsi prioritas hingga pukul 21.05 WIB, Kalimantan Tengah mencatat 968 hotspot, Sumatera Selatan 285 titik, Kalimantan Barat 98 titik, Kalimantan Selatan 39 titik, Jambi 26 titik, dan Riau satu titik.
Data tersebut bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan satu kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar. Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot sehingga tetap perlu diverifikasi melalui groundcheck dan kondisi di lapangan.
Titik kebakaran tersebar
Di Jawa Timur, karhutla di kawasan Gunung Butak, Kabupaten Malang, yang terjadi sejak 4 September tercatat membakar sekitar 478 hektare. Pada 13 September, tim gabungan masih memantau lima titik api, yakni empat di wilayah Blitar dan satu di Pujon Kidul.
Di Jawa Tengah, BNPB juga melaporkan sejumlah kejadian. Kebakaran di Klaten pada 12 September mencapai sekitar 39,25 hektare, sedangkan karhutla di kawasan Gunung Asu, Banyumas, pada 15 September tercatat sekitar 12,8 hektare.
Berlanjut ke Sulawesi, karhutla di Tojo Una-Una pada 12 September membakar sekitar 35 hektare. Di Poso, kebakaran berdampak pada sekitar 20 hektare lahan perkebunan dan 30 hektare lahan gambut serta satu fasilitas pendidikan. Sementara di Sidenreng Rappang, kebakaran mencakup sekitar 15,5 hektare.
Di Papua Tengah, karhutla di Kabupaten Nabire pada 19 September melanda enam kampung di dua distrik dengan total lahan terbakar sekitar 172 hektare, termasuk area gambut.
Pada periode yang sama, kebakaran di kawasan Kaki Gunung Klabat, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, mencapai sekitar 60 hektare. Hingga 20 September, sekitar 10 hektare masih dalam proses pemadaman oleh satgas darat.
Sementara itu, laporan BNPB pada 21 September juga mencatat karhutla di Pekalongan seluas empat hektare, Mamuju Tengah dua hektare, serta Kebumen lima hektare. Kebakaran di lokasi-lokasi tersebut dilaporkan sudah berhasil dipadamkan pada hari yang sama atau sehari setelah kejadian.
Jepang bantu operasi udara
Penanganan karhutla juga diperkuat melalui dukungan Jepang. Kapal JS Kunisaki bergerak menuju perairan lepas Ketapang, Kalimantan Barat, untuk mendukung kegiatan bantuan bencana internasional di Indonesia. Sebelumnya, helikopter CH-47 milik Pasukan Bela Diri Darat Jepang telah memulai kegiatan pemadaman di sekitar Pontianak.
Di dalam negeri, pemerintah juga mengerahkan operasi darat, water bombing, patroli udara, pembasahan, pendinginan, dan Operasi Modifikasi Cuaca sesuai kondisi wilayah dan cuaca. Hingga 20 September, pemerintah menyebut telah mengerahkan 64 pesawat dan helikopter serta 54.394 personel gabungan untuk penanganan karhutla.
Bisa dipantau lewat SiPongi+
Perkembangan hotspot karhutla juga dapat dipantau masyarakat melalui SiPongi+, platform resmi Kementerian Kehutanan. Situs ini menyediakan peta hotspot, grafik hotspot, informasi indikasi luas kebakaran, serta data terkait penanganan karhutla.
Namun, data hotspot tetap perlu dibaca dengan konteks. Titik panas merupakan hasil deteksi satelit dan bukan otomatis berarti terdapat satu lokasi kebakaran. Untuk memastikan kondisi sebenarnya, data tersebut perlu dikaitkan dengan hasil verifikasi dan laporan petugas di lapangan.
Untuk data luasan, BNPB juga mencatat sejumlah wilayah memiliki akumulasi lahan terbakar sejak awal 2026 dalam jumlah besar. Angka akumulatif tersebut merupakan data tahun berjalan dan tidak dapat dianggap sebagai luasan yang terbakar khusus selama September. (deA/aNs)
Gen Z takeaway
Hotspot dan karhutla memang saling berkaitan, tetapi satu hotspot bukan berarti satu kebakaran. Kalau ingin ikut memantau, masyarakat bisa mengecek SiPongi+ untuk melihat perkembangan hotspot dan informasi kebakaran. Tetap cek laporan resmi karena kondisi di lapangan bisa berbeda dari hasil pemantauan satelit.









