BEI Gercep Temui MSCI, Jeffrey Minta Penjelasan soal Keputusan Konsultasi Standalone Market
astakom.com, Jakarta - Menindaklanjuti yang terjadi di hari Jumat kemarin yakni keputusan MSCI yang menempatkan pasar Indonesia di dalam konsultasi Standalone Market.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik bilang kalau Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal melakukan pertemuan khusus secara online sama pihak MSCI buat meminta penjelasan mengenai alasan MSCI memberikan keputusan itu.
"Terkait itu, nanti siang kami akan meeting online dengan MSCI, pukul 03.30 (sore) nanti. Kami segera minta waktu untuk ketemu dengan MSCI. Nanti setelah pertemuan, saya update," kata Jeffrey dalam keterangannya kepada awak media, di kantor BEI Jakarta pada Senin (19/10/2026).
BEI sampe OJK kaget
Jeffrey ngespill kalau sebenernya pihaknya kaget pas tahu keputusan yang dirilis oleh MSCI Jumat subuh kemarin itu. Dia bahkan ngekonfirmasi kalau bukan cuman BEI yang kaget, tapi OJK dan para partisipan MSCI juga sebagian besar nggak ada yang tahu.
"Tidak ada yang tahu. Jadi jangankan Bursa dan OJK, para partisipan MSCI sebagian besar tidak ada yang tahu. Komunikasi kami dengan para investor global, semuanya tidak tahu. Dan tidak menyangka juga akan ada pengumuman seperti itu. Nah tentu karena ini adalah sesuatu yang tidak terduga, tentu market akan bereaksi dalam kepanikan," katanya.
Lakuin penyesuaian ARB
Jeffrey akui, saat ini para investor menghadapi kebingungan dan ketidakpastian yang tinggi, makanya BEI mengambil keputusan buat melakukan penyesuaian ARB atau Auto Rejection Bawah (ARB) Efek bersifat Ekuitas.
Auto Rejection Bawah (ARB) adalah mekanisme pembatasan maksimal penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan yang ditetapin sama BEI.
"Nah untuk mencegah investor mengambil keputusan dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi, ketakutan, kepanikan. Makanya hari ini kami mengambil kebijakan untuk menyesuaikan auto rejection bawah menjadi 7%," kata Jeffrey.
"Kami tahu itu bukan sesuatu yang umum dilakukan, tetapi tujuan kami yang tadi itu. Supaya investor tidak mengambil keputusan di dalam ketidakpastian yang sangat tinggi, kebingungan apalagi ketakutan. Tentu kebijakan ini akan kita review," ungkapnya.
Efektif redam kepanikan
Dia menyebutkan kalau kebijakan ARB itu cukup efektif buat meredam kepanikan yang terjadi di pasar. Hal ini tercermin dari indeks yang turun sebanyak 5 persen, bahkan nggak nyampe 7 persen.
"Nah tetapi dari review kita pagi sampai siang tadi, kebijakan itu cukup efektif untuk bisa meredam kepanikan. Tadi terpantau indeks kita turun sekitar 5%, artinya kan tidak menyentuh angka 7%. Nah tentu dengan begitu investor akan bisa lebih cermat untuk melihat perkembangan informasi," katanya.
"Kalau yang lebih baik adalah kembali melihat fundamental. Tetapi tentu dengan mengases seluruh kondisi dan situasi yang ada, itu yang kami harapkan. Sembari kami tentu akan berkomunikasi dengan MSCI untuk mendapatkan klarifikasi apa sebenarnya yang menjadi pertimbangan MSCI," ujarnya. (Shnty/RaM)
Gen Z Takeaway
BEI nggak tinggal diam setelah keputusan MSCI yang memasukkan pasar saham Indonesia ke dalam konsultasi Standalone Market bikin pasar gonjang-ganjing. Dirut BEI Jeffrey Hendrik bakal meminta klarifikasi langsung kepada MSCI lewat pertemuan online, sekaligus menegaskan bahwa keputusan tersebut mengejutkan bursa, OJK, hingga banyak investor global. Untuk meredam kepanikan, BEI menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) menjadi 7% agar investor punya ruang untuk mencerna informasi sebelum mengambil keputusan. Kebijakan ini dinilai cukup efektif karena penurunan indeks terpantau sekitar 5%, tetapi BEI tetap akan mengevaluasi aturan tersebut sambil menunggu penjelasan MSCI.









