Niat Udah Ada, tapi Kebiasaan Lama Masih Jalan Terus? Ini Kata Psikolog

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Henni Rachma Sari
Rabu, 7 Oktober 2026 | 18:08 WIB
Niat Udah Ada, tapi Kebiasaan Lama Masih Jalan Terus? Ini Kata Psikolog
Niat Udah Ada, tapi Kebiasaan Lama Masih Jalan Terus? Ini Kata Psikolog (Ilustrasi/Gemini AI)

astakom.com, Jakarta - Sudah niat mengurangi main HP sebelum tidur, rajin olahraga, atau berhenti ngemil malam-malam, tetapi ujung-ujungnya balik lagi? Rasanya seperti sudah tahu harus berubah, tetapi tangan dan kaki malah punya agenda sendiri.

Ternyata, persoalannya tidak selalu sesederhana kurang disiplin. Melansir American Psychological Association (APA), psikolog Wendy Wood menjelaskan bahwa banyak perilaku sehari-hari berjalan sebagai kebiasaan yang terbentuk dari pengulangan dalam situasi tertentu. Ketika pola itu sudah terbentuk, kita tidak selalu perlu berpikir panjang untuk melakukannya.

Itulah kenapa mengubah kebiasaan kadang terasa lebih susah daripada sekadar membuat niat baru.

Otak suka rutinitas yang sudah dikenal

Bayangkan rutinitas sederhana bangun tidur, mengambil HP, membuka media sosial, lalu tiba-tiba sudah setengah jam scrolling. Tidak ada rapat khusus di kepala yang memutuskan, “Hari ini saya akan scrolling selama 30 menit.”

Perilaku seperti itu bisa terbentuk karena terus dilakukan dalam konteks yang sama. Menurut Wood, kebiasaan berkaitan dengan memori kebiasaan, yaitu pola yang membuat perilaku tertentu lebih mudah muncul ketika seseorang berada pada situasi yang sudah familiar.

Pemicu kebiasaan juga bisa sangat sederhana. Waktu tertentu, tempat tertentu, benda yang terlihat, atau aktivitas yang baru saja dilakukan dapat menjadi tanda bahwa sudah waktunya melakukan rutinitas tertentu.

Makanya, seseorang bisa saja tidak terlalu memikirkan kopi ketika sedang di rumah. Namun begitu masuk dapur pada pagi hari, tangan otomatis mencari cangkir.

Niat baru belum tentu mengalahkan kebiasaan lama

Di sinilah bagian yang bikin kesel. Kita bisa benar-benar ingin berubah, tetapi keinginan tersebut harus berhadapan dengan pola yang sudah terbentuk sebelumnya. Wood menjelaskan bahwa niat dan proses berpikir tetap penting, terutama ketika menghadapi situasi baru. Namun, ketika perilaku sudah menjadi kebiasaan, perubahan niat saja belum tentu langsung menghapus pola lama.

Karena itu, strategi perubahan perilaku tidak harus selalu dimulai dengan memaksa diri lebih keras.

Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah mengubah kondisi yang mengiringi kebiasaan tersebut. Kalau ingin lebih sering olahraga, misalnya, perlengkapan olahraga bisa disiapkan sejak malam sebelumnya. Kalau ingin mengurangi ngemil, makanan yang biasanya menjadi godaan bisa tidak disediakan di rumah.

Idenya sederhana, buat perilaku yang diinginkan lebih gampang dilakukan dan perilaku lama sedikit lebih merepotkan.

Kenapa memulai di tempat baru kadang terasa lebih gampang?

Pernah merasa lebih mudah memulai kebiasaan baru setelah pindah rumah, masuk sekolah atau kampus baru, atau berganti pekerjaan?

Perubahan seperti itu ternyata bisa mengganggu pola lama. Penelitian yang dirangkum APA menunjukkan bahwa ketika seseorang berpindah lingkungan, pemicu yang selama ini berkaitan dengan kebiasaan mereka juga ikut berubah. Kondisi tersebut dapat membuka kesempatan untuk membentuk rutinitas baru.

Bukan berarti harus pindah kota demi bisa rajin olahraga. Perubahan konteks yang lebih kecil juga bisa dicoba dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, bekerja di meja yang sama setiap hari sambil terus membuka media sosial? Coba jauhkan HP dari jangkauan selama bekerja. Ingin membaca sebelum tidur? Letakkan buku di atas bantal, bukan terselip di rak.

Wood juga menekankan bahwa pembentukan kebiasaan membutuhkan waktu dan tidak ada angka saklek yang berlaku untuk semua orang. Perilaku yang sederhana bisa mulai terasa otomatis setelah dilakukan konsisten selama beberapa bulan, sementara kebiasaan yang lebih kompleks bisa membutuhkan waktu lebih panjang.

Jadi, kalau perubahan belum langsung terasa setelah beberapa hari, itu bukan berarti usaha tersebut sia-sia. (deA/RaM)

Gen Z Takeaway

Kalau selama ini kamu mengira perubahan kebiasaan cuma soal “harus lebih niat”, ternyata ceritanya tidak sesederhana itu. Otak memang cenderung nyaman dengan pola yang sudah familiar. Jadi daripada setiap hari adu kuat sama kemauan sendiri, coba utak-atik situasinya: bikin kebiasaan baik lebih gampang dimulai dan kebiasaan lama sedikit lebih ribet dilakukan. Siapa tahu yang perlu diubah bukan cuma niatmu, tapi juga setting tempat kamu menjalani rutin.

Kebiasaan Tidur Kebiasaan Berita Spill Tips dan kiat-kiat

Infografis

Terkini