Harga Kedelai Ngegas, Pemerintah Spill Opsi Subsidi Buat Penyelamat Tahu-Tempe!
astakom.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso speak up soal kenaikan harga kedelai yang berpeluang buat dapat subsidi harga. Subsidi ini disasar terutama buat kedelai yang dipake para perajin tahu dan tempe.
Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan karena lonjakan harga kedelai impor di pasar domestik yang lagi bikin overthinking banyak pihak.
Pemerintah sekarang lagi ngebut nyiapin langkah mitigasi cepat lewat konsolidasi antar-kementerian biar harga pangan olahan berbasis kedelai ini tetap affordable dan ramah di kantong masyarakat.
Opsi penyaluran subsidi kedelai ini muncul setelah harga bahan baku tahu-tempe tembus angka Rp13.200 per kilogram di pasaran, naik dari patokan sebelumnya. Saat ditemui di kantor Kemendag, Jakarta, pada Selasa (06/10/2026), Budi Santoso atau yang akrab dipanggil Busan ngejelasin situasi real di lapangan.
Kondisi di lapangan
"Harga kedelai sekarang saya cek di kisaran Rp13.200-an dari sebelumnya Rp12.000 per kilogram, dan tadi kami sudah berkomunikasi dengan Kemenko Pangan agar secepatnya diadakan rapat koordinasi," kata Busan kepada awak media, di Kantor Kemendag Jakarta Pusat pada Selasa (06/10/2026).
Langkah taktis ini langsung dikebut demi ngelindungin keberlangsungan usaha perajin tahu dan tempe di tingkat akar rumput.
Ketergantungan impor dan efek domino geopolitik
Lonjakan komoditas ini ternyata punya akar masalah yang cukup mendalam. Data neraca pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) nunjukin kalau kebutuhan kedelai nasional kita itu tembus angka 2,7 juta ton per tahun. Parahnya lagi, lebih dari 90 persen dari total kebutuhan itu harus dipenuhi lewat jalur impor.
Kondisi ini bikin harga kedelai domestik jadi sangat sensitif dan gampang banget kena mental alias terpapar berbagai guncangan global. Mulai dari eskalasi konflik geopolitik dunia, penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat, sampai lonjakan harga minyak dunia yang secara otomatis bikin ongkos logistik perkapalan internasional melonjak drastis. Faktor eksternal ini memang jadi tantangan besar bagi stabilitas harga dalam negeri.
Opsi pengulangan skema
Menghadapi situasi ini, Budi menekankan kalau pemerintah lagi serius mengkaji pengulangan skema bantuan selisih harga komoditas impor yang sempat diterapkan di masa lalu.
Langkah ini diharapkan bisa meredam dampak rembetan dari gejolak geopolitik global. Saat ini, bentuk intervensi lanjutan tersebut tinggal nunggu ketok palu alias keputusan final dari pimpinan tertinggi kabinet.
"Dulu kan pernah diberikan subsidi, nanti kita tunggu arahan pimpinan apakah subsidi atau bentuk intervensi lain di tengah kondisi perang global dan kenaikan harga minyak, karena yang terpenting kita harus meringankan pengrajin tempe agar harga tetap murah dan terjangkau," tuturnya.
Amankan stok lewat cadangan kedelai pemerintah (CKP)
Selain fokus ngurusin opsi subsidi harga, pemerintah juga terus memantau ketersediaan stok fisik di lapangan. Penguatan Cadangan Kedelai Pemerintah (CKP) yang dikelola langsung oleh Perum Bulog dijaga ketat pemantauannya.
Langkah preventif ini disiapkan supaya pasokan bahan baku buat koperasi produsen tahu dan tempe tetap aman, sekaligus mencegah potensi kelangkaan di pasar tradisional. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Harga kedelai lagi ngegas dari sekitar Rp12.000 menjadi Rp13.200 per kg, bikin pemerintah mulai spill opsi subsidi buat bantu perajin tahu dan tempe. Pemerintah juga lagi koordinasi lintas kementerian buat nentuin skema intervensi yang paling pas, termasuk mengulang subsidi selisih harga seperti sebelumnya. Maklum, lebih dari 90% kebutuhan kedelai nasional masih bergantung impor, jadi harga domestik gampang kena efek geopolitik, dolar, sampai ongkos logistik global. Selain subsidi, pemerintah juga terus ngejaga stok lewat Cadangan Kedelai Pemerintah (CKP) yang dikelola Bulog.







