Peluang Besar! Kemenag Dorong 3 Kerjasama Strategis Indonesia–UEA di IIBF 2026
astakom.com, Jakarta – Kerjasama antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) sejauh ini emang udah berjalan dengan sangat bagus. Namun ke depannya, Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, menilai perlu ada penguatan di tiga sektor krusial yaitu pendidikan, literasi keagamaan, dan aksi kemanusiaan.
Hal itu disampaikan Muchlis saat mengisi diskusi budaya bertajuk “Dari Abu Dhabi ke Jakarta: Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan” di ajang Indonesia International Book Fair (IIBF) di Jakarta. Forum bergengsi ini juga dihadiri sejumlah tokoh penting seperti mantan Menlu RI Alwi Shihab, mantan Wamenlu Dino Patti Djalal, hingga jajaran Duta Besar dari UEA, Oman, Yordania, Maroko, serta perwakilan negara sahabat lainnya.
Dalam kesempatan itu, Muchlis memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran pimpinan dan seluruh masyarakat UEA atas jalinan persahabatan yang erat, plus dukungan mereka terhadap dialog antarperadaban. Tak lupa, ia juga menyisipkan doa agar UEA beserta rakyatnya selalu dijaga dari segala ancaman bahaya dan tetap aman tenteram.
Pilar Perdamaian
Menurut Muchlis, narasi perdamaian Nggak boleh berhenti di teori atau sekadar gimmick, melainkan harus diwujudkan dalam program nyata yang dampak positifnya beneran kerasa oleh masyarakat luas. Ia menekankan tiga pilar utama pembangunan damai yaitu kemuliaan manusia (karamah insaniyyah), sikap saling mengenal, dan keadilan. Konsep ini sejalan dengan ajaran Al-Qur'an mengenai ta‘āruf.
“Saling mengenal tidak berhenti pada perjumpaan. Kita perlu mendengar dan memahami orang lain secara benar, sehingga tumbuh kepercayaan dan terbuka ruang untuk bekerja sama,” tuturnya, dikutip oleh astakom pada Jumat (2/10/2026).
Peran Lembaga Agama
Lembaga pendidikan dan keagamaan dinilai memegang peranan paling depan untuk memupuk kebiasaan positif ini. Mulai dari sekolah, kampus, tempat ibadah, sampai majelis taklim punya andil besar dalam melatih masyarakat agar lebih bijak menyikapi perbedaan, selalu double-check atau menyaring informasi sebelum membagikannya, serta menyelesaikan persoalan dengan adil.
Muchlis turut menyoroti perhatian Menteri Agama Nasaruddin Umar yang fokus pada pembaruan Kurikulum Berbasis Cinta serta konsep ekoteologi. Baginya, pemahaman agama masa kini kudu bisa menumbuhkan empati antarmanusia sekaligus kepedulian menjaga alam sekitar.
“Kepedulian kepada manusia dan alam harus hadir dalam cara kita belajar, berdakwah, dan bekerja sama,” ungkap Muchlis.
Lebih jauh, para penyuluh agama, dai, hingga tokoh masyarakat setempat juga dituntut punya kepekaan membaca kondisi sosial terkini (fiqhul waqi’). Kehadiran mereka amat krusial, terutama ketika bermunculan isu atau berita hoaks yang berpotensi memicu prasangka, maupun saat warga membutuhkan penengah untuk meredakan tensi konflik.
Fokus Tiga Sektor
Sebagai langkah konkrit ke depan, Muchlis menyodorkan tiga poin utama yang bisa digarap bareng antara Indonesia dan UEA:
- Literasi & Penerjemahan Karya: Program alih bahasa dan pertukaran buku serta studi ilmiah seputar perdamaian dan toleransi kehidupan bermasyarakat.
- Edukasi & Up-Skilling Tokoh Agama: Pelatihan khusus bagi para penyuluh dan pemuka agama yang berfokus pada dialog inklusif, literasi digital, hingga strategi menangkal ujaran kebencian (hate speech).
- Kolaborasi Kemanusiaan Anak Muda: Pertukaran pengalaman dan aksi sosial langsung di lapangan dengan menggaet generasi muda dari kedua negara.
“Pameran buku ini mengingatkan kita bahwa perdamaian juga dibangun melalui pengetahuan. Buku dan terjemahan memungkinkan masyarakat kedua negara saling mengenal lebih dalam, sementara kerja bersama memberi kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai itu,” jelasnya.
Dorong Aksi Nyata
Muchlis pun menaruh harapan besar agar forum pertemuan ini nggak cuma berakhir jadi talkshow belaka, melainkan langsung dieksekusi jadi aksi nyata seperti penerbitan buku terjemahan, workshop gabungan, hingga aksi sosial kemanusiaan yang melibatkan anak-anak muda.
“Kemitraan akan semakin bermakna ketika gagasan yang kita bicarakan hari ini berlanjut menjadi pekerjaan bersama yang bermanfaat bagi masyarakat,” tutupnya. (nAD/RaM)
Gen Z Takeaway
Bukan cuma sebatas diplomatic talk atau wacana manis di panggung pameran buku, kemitraan RI–UEA kali ini beneran didorong buat makin berdampak nyata lewat action plan anak muda, literasi digital, hingga aksi sosial kemanusiaan secara langsung!








