Solusi Transportasi Terpadu: Hutama Karya Garap Integrated Building Raksasa di Bandara Soekarno-Hatta
astakom.com, Jakarta - PT Hutama Karya (Persero) tengah menggarap proyek pembangunan Integrated Building di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Proyek yang berdiri di atas lahan seluas 18.487 m² dengan total luas bangunan mencapai sekitar 60.000 m² ini berlokasi strategis di antara Terminal 1 dan Terminal 2.
Fasilitas ini dirancang khusus untuk menjadi titik temu serta simpul perpindahan antarmoda (intermodal hub) bagi para pengguna jasa bandara.
Bangunan terpadu ini menyatukan beragam opsi moda transportasi dalam satu kawasan yang saling terhubung. Pengunjung dapat berpindah rute dengan mudah menuju Skytrain, Kereta Bandara, taksi, bus, shuttle bus, angkutan antarkota (travel), hingga kendaraan pribadi. Untuk menunjang kenyamanan, fasilitas ini dilengkapi dengan alur drop-off dan pick-up, area parkir, ruang tunggu penumpang, serta ruang retail komersial.
Dari segi struktur bangunan, Integrated Building terbagi menjadi Gedung Sayap Selatan berketinggian dua lantai dan Gedung Sayap Utara seluas tiga lantai (termasuk area mezzanine).
Pembagian ruang tersebut ditata sedemikian rupa untuk melayani pergerakan penumpang sekaligus mengatur lalu lintas kendaraan antarmoda.
Secara kontraktual dan arsitektural, desain bangunan mengusung perpaduan gaya modern-kontemporer dengan sentuhan kearifan lokal. Hal ini ditegaskan lewat tampilan fasad menggunakan panel Glass-Fiber Reinforced Concrete (GRC) berlubang (perforated) dengan warna oranye-terakota bermotif Mega Mendung khas batik Cirebon. Fasad modular ini dipadukan dengan konsep void yang menghadirkan ruang hijau segar di dalam area bangunan.
Dalam proses konstruksinya, Hutama Karya memanfaatkan besi yang didatangkan dari Surabaya dan suplai beton dari area sekitar kawasan Bandara Soekarno-Hatta, sebagai wujud keterlibatan dan dukungan terhadap penggunaan produk dalam negeri.
Pengerjaan proyek ini memiliki tingkat kompleksitas tinggi mengingat posisi pembangunan berbatasan langsung dengan operasional bandara yang tetap berjalan aktif. Untuk mengatasi tantangan tersebut, diterapkan teknologi Building Information Modelling (BIM) 5D. Penerapan pemodelan digital ini berfungsi untuk mengoptimalkan quantity take off material utama, memetakan keterkaitan antarpekerjaan, mendeteksi potensi benturan (clash), serta menyelaraskan pengerjaan struktur, arsitektur, dan mekanikal, elektrikal, serta plumbing (MEP).
Pj. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menekankan pentingnya manajemen risiko pada proyek di kawasan berdensitas tinggi ini.
“Kondisi tersebut membutuhkan koordinasi dan pengendalian pekerjaan yang baik, mulai dari pelaksanaan konstruksi hingga aspek keselamatan dan keamanan. Hutama Karya menerapkan prinsip Quality, Health, Safety, Security, and Environment (QHSSE) untuk menjaga kualitas pekerjaan sekaligus memastikan proses konstruksi berlangsung secara aman dan tertib,” ujar Hamdani dalam keterangannya dikutip Sabtu (26/09/2026).
Integrated Building ditargetkan dapat mulai beroperasi penuh pada Februari 2027. Kehadiran fasilitas ini diharapkan memperlancar konektivitas antarmoda sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi dan ruang pelayanan publik yang optimal di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, sejalan dengan dukungan terhadap semangat Asta Cita pemerintah dalam memperkuat infrastruktur nasional. (RaM)
Gen Z Takeaway
Hutama Karya lagi cook proyek kece Integrated Building seluas 60.000 m² di antara Terminal 1 dan 2 Bandara Soekarno-Hatta yang ditargetkan launching Februari 2027 mendatang. Hub transportasi ini beneran game changer banget karena bakal connect langsung Skytrain, Kereta Bandara, bus, sampai travel dalam satu gedung modern beroramen batik Mega Mendung yang vibes-nya estetis parah. Walau tantangannya complexbanget karena harus pengerjaan fisik di tengah bustling-nya aktivitas bandara, HK tetep slay berkat bantuan teknologi BIM 5D dan standar QHSSE biar makin efisien dan aman.









