Kunjungi Istiqlal, Sekjen Ulama Al-Azhar Mesir Puji Inisiatif Perdamaian Indonesia

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Henni Rachma Sari
Jumat, 25 September 2026 | 17:45 WIB
Kunjungi Istiqlal, Sekjen Ulama Al-Azhar Mesir Puji Inisiatif Perdamaian Indonesia
Kunjungi Istiqlal, Sekjen Ulama Al-Azhar Mesir Puji Inisiatif Perdamaian Indonesia (Tangkapan Layar Youtube Masjid Istiqlal)

astakom.com, Jakarta – Kehadiran para ulama dunia dalam gelaran Muktamar Imam Masjid di Masjid Istiqlal menjadi penguatan persatuan umat Islam global serta posisi strategis Indonesia di kancah internasional.

Apresiasi dari Al-Azhar

Sekretaris Jenderal Dewan Ulama Senior Al-Azhar (Hai’atu Kibaril Ulama), Prof. Dr. Abbas Shouman, memberikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas undangan serta inisiatif Indonesia yang secara aktif merangkul para imam dan tokoh agama dari berbagai penjara dunia untuk duduk bersama demi kemaslahatan bersama.

Dalam pesannya pada kajian Qabla Jumat di Masjid Istiqlal dalam agenda International Grand Imams Conference (IGIC) 2026, Prof. Dr. Abbas Shouman menyampaikan kalau kehadirannya mewakili Al-Azhar dan Kementerian Wakaf Mesir merupakan bentuk penghormatan tinggi atas dedikasi Indonesia dalam menjaga ukhuwah Islamiyah.

"Kami secara pribadi, mewakili Al-Azhar, serta mewakili Kementerian Wakaf Mesir menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada Indonesia atas undangan untuk berpartisipasi dalam Muktamar Imam Masjid ini," tutur Prof. Abbas Shouman melalui penerjemah di Masjid Istiqlal Jakarta, Jumat (25/09/2026).

Prinsip Kesatuan Umat

Menjelaskan pilar utama persatuan, Prof. Abbas mengutip Surah Al-Anbiya ayat 92. Ia menekankan kalau batasan teritorial dan perbedaan kewarganegaraan sama sekali tidak boleh memecah belah prinsip persaudaraan sesama Muslim.

"Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku." ungkapnya pada surat Al anbiya ayat 92 yang dipaparkan.

"Negara boleh banyak, tetapi umat harus tetap satu. Bersatu dalam usaha untuk berkomunikasi, bersatu padu, dan menentukan tujuan bersama," tegas Sekjen Dewan Ulama Senior Al-Azhar tersebut.

Menurutnya, kesatuan tersebut bukan sekadar wacana formalitas, melainkan wujud ketaatan mutlak hamba kepada Perintah dan Larangan Allah SWT.

Toleransi Tanpa Pemaksaan

Bicara soal toleransi dan hubungan interaksi dengan non-Muslim, Prof. Abbas menegaskan bahwa Islam memiliki manhaj Rabbani yang sangat jelas dan bebas dari pemaksaan. Islam memerintahkan pemeluknya untuk senantiasa berbuat adil dan bersikap harmonis kepada siapa saja yang tidak memusuhi umat Islam.

"Allah SWT tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Oleh karena itu, non-Muslim dapat hidup bersanding dengan rukun dan damai di negara-negara Muslim," jelasnya.

Namun, ia mewanti-wanti agar umat Islam tidak bersekutu dengan pihak-pihak yang secara nyata menindas dan mengusir umat Islam dari negerinya.

Kekuatan demi Perdamaian

Menyinggung kondisi geopolitik dan peradaban, Prof. Abbas mengingatkan kalau aspek ibadah, tasbih, dan zikir harus dibarengi dengan penguasaan asbabul quwwah (faktor-faktor kekuatan dan kemajuan).

Mengutip Surah Al-Anfal ayat 60, membangun kekuatan militer, ekonomi, dan sains bukanlah untuk menindas bangsa lain, melainkan sebagai daya tawar (turhibuna) guna mencegah kedzaliman dan mempertahankan perdamaian sejati.

"Perintah membangun kekuatan bukan untuk menindas agama lain, melainkan agar orang lain tidak berani menindas kita. Ketika umat Islam mampu menyeimbangkan antara kekuatan dan keadilan, di situlah perdamaian dunia dapat diwujudkan dan dijaga," paparnya.

Ia menegaskan kalau sejarah telah membuktikan kekuatan fisik semata tanpa keadilan hanya akan berujung pada kerugian jiwa manusia.

Di akhir tausiyahnya, Prof. Abbas melancarkan muhasabah yang jujur dan mendalam terkait realita terpuruknya kondisi umat Islam saat ini. Mengingat krisis kemanusiaan yang tengah melanda Palestina.

"Saudara-saudara kita di Gaza, Palestina dibantai siang dan malam. Anak-anak kecil dan wanita terbunuh di depan mata dunia. Penyebab utama yang melemahkan kita selama ini adalah perpecahan," tutur Prof. Abbas dengan nada prihatin.

Ia menyerukan agar seluruh elemen umat Islam melakukan evaluasi total, menghentikan perselisihan internal, serta kembali memegang teguh petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah demi mewujudkan kembali kejayaan dan perdamaian yang hakiki.

"Umat Islam kita butuh evaluasi, kembali kepada prinsip Al-Qur'an dan Sunnah, kepada Sunnah Rasulullah SAW," jelasnya. (nAD/RaM)

Gen Z Takeaway

Perbedaan bendera dan kewarganegaraan itu bukan alasan buat kita saling pecah belah. Kuncinya ada di respect antar sesama, tetap adil sama siapa pun, dan fokus ngebangun kualitas diri—mulai dari ilmu, ekonomi, sampai teknologi. Jadi anak muda yang kuat bukan buat flexing atau menindas orang lain, tapi biar punya daya tawar (bargaining power) buat ngelindungin yang lemah dan nyiptain perdamaian yang nyata.

Al Azhar Kairo Mesir IGIC 2026 International Grand Imams Conference

Infografis

Terkini