Kementan Bakal Bangun Tiga Pabrik Tepung Telur dan Daging: Solusi Real buat Peternak Lokal
astakom.com, Jakarta - Pemerintah resmi menyiapkan ekosistem peternakan terintegrasi dari hulu ke hilir demi stop ketergantungan impor dan bikin peternak makin cuan. Ini menjadi salah langkah konkret pemerintah buat memperkuat ekosistem peternakan nasional dengan membangun tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging.
Kebijakan ini dihadirkan sebagai solusi permanen guna memperluas pasar hasil produksi peternak, menjaga stabilitas harga, serta merdeka dari cengkeraman produk impor.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman bilang kalau mega proyek ini merupakan bagian dari strategi besar membangun ekosistem peternakan yang terintegrasi penuh. Mulai dari suplai bahan baku pakan, penguatan produksi petani, hingga penyerapan dan pengolahan hasil produksi dan panen peternak.
“Kami sudah telepon Menteri BUMN dan Menteri Perdagangan. Kita sepakat membangun ekosistem ternak, terutama pembangunan pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging. Insyaallah, mudah-mudahan tahun depan sudah bisa mulai. Targetnya 1,5 tahun selesai, maksimal dua tahun," kata Mentan Amran dalam keterangan resminya, dikutip astakom.com pada Sabtu (10/10/2026).
Cut masalah klasik
Mentan Amran menegaskan kalau kehadiran industri pengolahan ini bersifat fundamental agar masalah klasik seputar pemasaran hasil peternakan tidak terus berulang dari tahun ke tahun. Pemerintah ingin menghadirkan solusi jangka panjang ampuh menyerap kelebihan produksi tanpa harus terus bergantung pada pasar produk segar yang harganya gampang anjlok.
“Ini solusi permanen, fundamental. Kalau pabriknya berdiri, impor tepung telur kita hentikan. Kita sudah sepakat. Harapannya, setelah ekosistem ini berdiri, persoalan yang sama tidak terus berulang,” katanya.
Proyek pembangunan tiga pabrik ini bakal segera ditindaklanjuti melalui studi kelayakan (feasibility study/ FS). Estimasi kebutuhan investasi awal diperkirakan mencapai Rp200 miliar per pabrik, dengan potensi naik hingga Rp250 miliar jika fasilitasnya mencakup lini pengolahan daging. Mentan Amran juga membuka pintu bagi pihak swasta yang ingin berkolaborasi, namun tetap menegaskan bahwa negara hadir di garda terdepan.
“Kalau ada swasta mau bergandengan, silakan. Tapi negara ada di sampingnya,” jelasnya.
Integrasi hulu ke hilir
Integrasi hulu-hilir ini diyakini mendatangkan cuan berlapis. Petani jagung punya pasar yang pasti, peternak aman dari masalah pakan, dan industri pengolahan siap menampung hasil panen saat telur atau daging melimpah. Jadi, kalau stok sedang overload, produknya bisa diolah jadi barang dengan daya simpan lebih luas.
“Keuntungannya adalah meningkatkan kesejahteraan peternak, mengurangi kerugian yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu, dan mengurangi belanja devisa untuk impor. Ini keputusan mendasar, kita bangun ekosistem peternakan yang terintegrasi satu sama lain,” tegas Mentan Amran.
Langkah strategis ini langsung disambut hangat oleh para pelaku usaha. Ii Cahyadi, anggota Pinsar sekaligus pelaku usaha peternakan melalui PT Bereh Poultry Indonesia di Subang, menilai pembangunan pabrik tersebut sudah sangat mendesak demi menyelamatkan pasar peternak lokal. Menurutnya, skala industri sebesar ini mustahil ditangani sendiri oleh peternak kecil atau koperasi.
“Industri itu tidak mungkin ditangani sendiri oleh swasta, peternak-peternak kecil, ataupun koperasi karena membutuhkan skala yang masif. Kita juga harus berhadapan dengan BUMN dari negara lain, baik India maupun China,” katanya.
Peternak excited pemerintah ngasih solusi
Ii Cahyadi pun mengapresiasi respons cepat Mentan Amran dalam menyetujui program ini. Keputusan tersebut membawa secercah harapan baru bagi para peternak di tanah air.
“Alhamdulillah, hari ini beliau langsung memberikan persetujuan. Itu sangat melegakan bagi kami. Jadi, bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi lebih dari itu, program pabrik ini diharapkan bisa mengatasi persoalan penyerapan produk peternak,” kata Cahyadi.
Pada akhirnya, seluruh kebijakan ini bermuara pada satu misi utama: menciptakan industri peternakan yang makin sehat, menguntungkan, dan berkelanjutan. Pemerintah ingin memastikan para peternak mendapatkan harga pakan yang rasional, kepastian pasar, serta perlindungan dari risiko kerugian saat produksi sedang berjalan.
Ekonomi bergerak, konsumsi protein terjaga
Mentan Amran juga menekankan pentingnya menjaga konsumsi protein masyarakat melalui ketersediaan pangan yang beragam, mulai dari ikan, ayam, hingga telur, yang harus berjalan seiring dengan kestabilan harga di pasaran.
“Intinya bagaimana ekonomi bergerak dan bagaimana peternak jangan dipersulit. Pakan tersedia dengan baik, kemudian harga telur dan daging stabil. Kita ingin peternak untung dan kesejahteraannya meningkat,” katanya.
Lewat tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging, pemerintah ngepush transformasi peternakan nasional dari sektor yang bertumpu pada penjualan produk segar menjadi industri terintegrasi yang punya kemampuan mengolah, menyimpan, dan memasarkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Support dari pemerintah, kolaborasi lintas kementerian, keterlibatan peternak, serta peluang kemitraan dengan swasta, penguatan ekosistem ini diharapkan bisa memperkuat pasar domestik, mengurangi ketergantungan impor, dan meningkatkan kesejahteraan petani serta peternak Indonesia. (Shnty/RaM)
Gen Z Takeaway
Pemerintah lewat Kementan bakal membangun tiga pabrik tepung telur dan tepung daging dengan investasi awal sekitar Rp200 miliar per pabrik. Langkah ini jadi solusi jangka panjang buat menyerap surplus produksi, menjaga stabilitas harga, sekaligus menekan impor. Dengan ekosistem peternakan terintegrasi dari hulu ke hilir, peternak lokal diharapkan punya pasar yang lebih pasti dan peluang cuan yang lebih besar.









