Jejak Mario Aji dan Veda Ega Menembus Balap Dunia

Penulis: A. Cuwantoro
Editor: Anri Syaiful
Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:30 WIB
Jejak Mario Aji dan Veda Ega Menembus Balap Dunia
Dua pembalap kebanggaan Tanah Air, Mario Suryo Aji yang bertarung di kelas Moto2 dan Veda Ega Pratama di kelas Moto3, menjadi potret nyata perjuangan Indonesian Heroes. [Kemenpora]

astakom.com, Jakarta — Perjalanan menembus panggung balapan motor tingkat dunia bukanlah jalan pintas yang mudah. Dua pembalap kebanggaan Tanah Air, Mario Suryo Aji yang bertarung di kelas Moto2 dan Veda Ega Pratama di kelas Moto3, menjadi potret nyata perjuangan Indonesian Heroes. Kini, keduanya tampil berlaga di hadapan publik sendiri dalam gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, NTB, pada 9–11 Oktober 2026.

Dibalik megahnya riuk gemuruh mesin di Sirkuit Mandalika, ada kisah kedisiplinan ekstrem, cedera berat yang mengancam karier, hingga pengorbanan masa muda yang terenggut demi mengibarkan bendera Merah Putih di kancah internasional.

Latihan keras sejak kecil dan aturan ketat orang tua

Kecintaan Mario Aji pada dunia balap dibentuk lewat gemblengan fisik sejak bangku sekolah dasar. Sang ayah menerapkan latihan ketat yang tidak biasa dilakukan oleh anak-anak sebayanya.

"Dari kelas satu sampai kelas enam SD, sering latihan. Setiap kali dijemput sama ayah, sudah disiapkan baju lari. Jadi pulang sekolah, yang lain naik angkot, saya lari," kenang Mario, dalam keterangan rilis yang diterima redaksi astakom.com.

Uniknya, meski lihai memacu si kuda besi di atas lintasan balap, Mario dilarang keras mengendarai sepeda motor di jalan raya oleh orang tuanya. "Kalau di jalan raya, saya pernah dimarahi. Sampai sudah punya SIM pun tidak pernah diizinkan naik motor di jalan raya. Tapi kalau di sirkuit, bebas," tambahnya.

Guna menjaga kesehatan mental dan performa di tengah tekanan tinggi Moto2, Mario memilih memandang balapan bukan sebagai beban kerjaan, melainkan hobi yang ia nikmati sepenuh hati.

Di sisi lain, Veda Ega Pratama mengawali kariernya dari lintasan motocross pada usia tujuh tahun. Pembalap muda asal Gunungkidul, Yogyakarta ini kemudian beralih ke ajang road race nasional pada 2018 sebelum akhirnya menembus level Asia pada 2021 dan kini resmi mengaspal di Kejuaraan Dunia Moto3 berkat dukungan penuh keluarga.

Teror cedera berat dan keraguan diri

Langkah kedua pembalap ini menuju ajang dunia dipenuhi ujian fisik yang berat. Mario mengungkapkan bahwa dirinya hampir setiap musim harus berhadapan dengan cedera yang memaksanya berhenti sejenak untuk evaluasi diri.

Ujian tak kalah hebat dialami Veda. Pada 2020, saat pandemi COVID-19 menghentikan berbagai agenda balap, Veda dihantam cedera patah tulang paha. Hanya berselang empat bulan setelah pulih, ia kembali menderita patah tulang kering yang sempat meruntuhkan mentalnya.

"Di situ aku sudah seperti berpikir tidak bisa balap lagi," ujar Veda. Namun, berkat keteguhan hati, ia bangkit hingga mampu menembus Moto3, meski rasa rendah hati dan motivasi untuk terus membuktikan diri tetap ada. "Pastinya ada rasa ragu dan sampai sekarang pun masih bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah bisa. Tapi itu mimpi saya, jadi saya berusaha semaksimal mungkin."

Pengorbanan masa muda dan rindu kampung halaman

Menjadi atlet profesional di level dunia menuntut Mario dan Veda mengorbankan waktu bersama keluarga serta momen berharga di masa remaja. Mario mengaku sudah lima tahun tidak merasakan momen berkumpul saat Hari Raya Lebaran karena jadwal latihan dan balapan yang padat di Eropa.

Sedangkan Veda harus merelakan kehidupan sekolah formalnya. Ia tidak bisa menikmati masa-masa sekolah seperti remaja pada umumnya karena harus menjalani pembelajaran secara daring di tengah jadwal latihan yang padat. Saat menetap di luar negeri, masakan Indonesia, kehangatan keluarga, dan rekan-rekan latihan di kampung halaman menjadi hal yang paling merindukan bagi keduanya.

Lewat semangat The Rise of Local Heroes dan #IndonesiaMendunia yang diusung Pertamina, kehadiran Mario Aji dan Veda Ega Pratama di Sirkuit Mandalika bukan sekadar mengejar posisi finish, melainkan simbol inspirasi bagi generasi muda Indonesia bahwa kerja keras dan ketekunan mampu menembus batas mimpi dunia. (ACwan/aNs)

Gen Z Takeaway 

Proof that hard work hits different! Perjuangan Mario Aji sama Veda Ega Pratama menuju Moto2 dan Moto3 beneran bikin terharu sekaligus bangga. Dari lari sepulang sekolah, absen Lebaran 5 tahun, sampai bangkit dari patah tulang beruntun, mereka ngebuktikeun kalau status Local Heroes itu diraih lewat pengorbanan luar biasa. Respect for both of them!

Mario Suryo Aji Veda Ega Pratama Moto2 Moto3 Mandalika 2026 GP Mandalika MotoGP Mandalika

Infografis

Terkini