Minggu, 31 Agu 2025
Minggu, 31 Agustus 2025

Fakta dan Mitos Fenomena Aphelion 2025, Saat Bumi Berada di Titik Terjauh dari Matahari

astakom, Jakarta – Pada awal Juli 2025, Bumi mengalami fenomena aphelion, yakni posisi terjauh Bumi dari Matahari dalam orbit tahunannya. Meskipun terdengar mengkhawatirkan bagi sebagian orang, para ahli memastikan bahwa dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari, khususnya suhu global, sangat minim.

Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena aphelion tahun ini terjadi pada 6 Juli 2025 pukul 04.06 WIB, saat jarak antara Bumi dan Matahari mencapai sekitar 152,1 juta kilometer. Jarak ini lebih jauh sekitar 5 juta kilometer dibanding saat perihelion, ketika Bumi berada paling dekat dengan Matahari pada awal Januari lalu.

“Aphelion adalah fenomena astronomis tahunan yang terjadi secara alami. Ini tidak menyebabkan penurunan suhu yang drastis, karena pengaruh utama terhadap iklim berasal dari kemiringan sumbu Bumi, bukan jarak ke Matahari,” jelas Koordinator Bidang Diseminasi BMKG, dalam siaran resminya.

Mengapa Bisa Terjadi?
Orbit Bumi berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna. Artinya, ada satu titik dalam orbit di mana Bumi mencapai jarak terjauh dari Matahari (aphelion), dan satu titik di mana jarak itu paling dekat (perihelion).

Fenomena ini tidak berpengaruh besar terhadap musim atau cuaca ekstrem. Justru saat aphelion berlangsung, negara-negara di belahan Bumi utara seperti Indonesia sedang mengalami musim kemarau, yang ditentukan oleh posisi matahari relatif terhadap khatulistiwa, bukan oleh jarak Bumi ke Matahari.

Benarkah Suhu Lebih Dingin?
Isu yang kerap muncul setiap tahun adalah anggapan bahwa aphelion membuat cuaca menjadi lebih dingin. Namun, BMKG menegaskan bahwa suhu rata-rata harian tidak turun signifikan karena fenomena ini. Perbedaan suhu hanya berkisar 1–2 derajat Celsius, bahkan tak terasa bagi sebagian besar orang.

“Penurunan suhu beberapa hari terakhir lebih dipengaruhi oleh angin monsun timur dan faktor lokal seperti kelembapan udara, bukan aphelion itu sendiri,” tambah BMKG.

Fenomena aphelion sering dikaitkan dengan berbagai mitos di media sosial, mulai dari suhu ekstrem hingga gangguan sistem satelit. Faktanya, satelit yang mengorbit Bumi tidak terganggu oleh perubahan jarak ke Matahari, dan tidak ada dampak langsung terhadap gelombang elektromagnetik atau komunikasi global.

Fenomena aphelion merupakan bagian dari siklus tahunan orbit Bumi yang alami dan tidak membahayakan. Masyarakat diimbau untuk tetap menjalani aktivitas seperti biasa tanpa kekhawatiran berlebihan, serta bijak dalam menyikapi informasi viral yang belum tentu sesuai dengan sains.

Feed Update

Tim Ekspedisi Riset Laut Rekam Data Seismik dan Elektromagnetik di Samudra Hindia

astakom.com, Jakarta – Sejumlah periset asal Indonesia dan China berkolaborasi melakukan ekspedisi merekam data seismik dan elektromagnetik di Samudra Hindia dengan menggunakan kapal riset...

Macan Tutul Jawa: Satwa Endemik Indonesia yang Terancam Punah

astakom.com, Jakarta - Macan tutul Jawa ( Panthera pardus melas ) merupakan salah satu satwa endemik Indonesia yang kini berstatus langka dan...

Menyusuri Sesar Baribis, Ancaman Tersembunyi di Bawah Jabodetabek

astakom.com, Jakarta - Gempa yang terasa di Bekasi beberapa waktu lalu kembali menyoroti keberadaan Sesar Baribis. Patahan aktif ini membentang dari Purwakarta, Subang, Karawang,...

RSPPN Soedirman Terima Alat Canggih Stimel-03 untuk Terapi Stroke Berteknologi AI

Rumah Sakit Pusat Pertahanan Negara (RSPPN) Soedirman resmi menerima alat kesehatan canggih bernama Stimel-03, perangkat modalitas untuk menstimulasi pergerakan otot lokal yang dilengkapi teknologi AI STIMELL dari PT Silverstream Indonesia Sehat (SIS).

Terkini

Viral

Videos