astakom.com, Jakarta – Sejumlah periset asal Indonesia dan China berkolaborasi melakukan ekspedisi merekam data seismik dan elektromagnetik di Samudra Hindia dengan menggunakan kapal riset RV Jia Geng atau Tan Kah Kee.
Riset ini bertujuan untuk mengungkap misteri bawah laut terutama terkait kegempaan, yang hingga kini belum banyak diungkap.
Selama melakukan penelitian, Tim Ekspedisi Riset berhasil memasang dan mengambil kembali (recovery) 17 unit Ocean Bottom Seismometer (OBS) dan 24 unit Ocean Bottom Electromagnetic (OBEM) dari Samudra Hindia, Jumat (22/8).
OBS adalah alat perekam data seismik pasif dan aktif. Sementara itu OBEM merupakan alat perekam medan listrik dan medan magnet pasif dan aktif.
Recovery OBS dan OBEM dilakukan pada 19–22 Agustus 2025 dari arah selatan ke utara di Samudra Hindia di Selatan Nusa Tenggara.
Ketua tim periset Indonesia, Dwi Haryanto, mengatakan bahwa 100 persen OBS dan OBEM yang dipasang berhasil diambil kembali.
“Semua instrumen kembali dengan selamat dan data yang diperoleh akan dianalisis lebih lanjut,” ujar Dwi Haryanto, dalam keterangan tertulis dikutip astakom.com, Jumat (29/8).
Proses pemasangan dan pengambilan kedua jenis instrumen ini dilakukan secara bertahap (comment release). Instrumen-instrumen tersebut ditenggelamkan ke dalam laut dengan menggunakan pemberat satu per satu di setiap stasiun atau titik yang telah ditentukan dengan menggunakan kapal.
Setelah itu, pemberat di dasar laut dilepaskan, dan kapal begerak kembali ke tiap titik tersebut sambil menunggu instrumen naik ke permukaan. “Pola tersebut diulang terus hingga seluruh OBS dan OBEM dari setiap stasiun berhasil di-recovery,” Dwi menjelaskan.
Model Proses Tumbukan
Ekspedisi riset kelautan ini merupakan bagian dari riset bersama Marine Scientific Research Collaboration on the Collision Process Between The Java and Australia and Its Impact on Geohazard dengan menggunakan kapal R/V Jia Geng (Tan Kah Kee).
Kegiatan yang berlangsung pada 16 hingga 20 Agustus ini merupakan kerja sama Direktorat Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN dengan The Second Institute of Oceanography People’s Republic of China. Riset ini melibatkan peneliti dari Indonesia dan China. Tim periset Indonesia terdiri dari BRIN, UGM, ITB, dan UI.
Survei OBS dan OBEM ini dilakukan di zona tumbukan Jawa–Australia. Tujuannya yaitu untuk memetakan struktur kecepatan dan resistivitas listrik litosfer secara detail.
Selain itu, survei ini sekaligus mengungkap kondisi subduksi. Hal ini untuk memahami Dengan membandingkan data dari zona tersebut dengan wilayah tumbukan lain di dunia, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan model umum tentang proses tumbukan.
Selain itu, penelitian ini memanfaatkan distribusi gempa bumi alami dan profil refleksi seismik untuk memahami deformasi, pola migrasi magma, serta aliran fluida di zona tumbukan.
Hasil penelitian ini diharapkan memberi pemahaman baru tentang evolusi sistem bumi serta membantu mengidentifikasi dan mengantisipasi bahaya geologi di kawasan subduksi–tumbukan.
Gen Z Takeaway
Belum lama ini, periset Indonesia colab sama China ngadain riset bawah laut. Mereka ngrekam data seismik dan elektromagnetik di Samudra Hindia pingin ngungkapin misteri bawah laut terkait gempa. Para peneliti masang alat yang diberi nama OBS dan OBEM dan ditenggelamkan ke dasar laut. Lalu alat perekam itu diambil lagi buat diteliti rekamannya.