astakom.com, New Delhi — India dan Uni Eropa bersiap mengumumkan kesepakatan perdagangan besar yang telah difinalisasi, sebuah langkah yang berpotensi mengubah peta persaingan ekspor di pasar Eropa dan menjadi sinyal peringatan bagi negara-negara pemasok lain, termasuk Indonesia.
Kesepakatan itu disebut sebagai sinyal politik di tengah menguatnya proteksionisme global. Kesepakatan perdagangan ini akan mengirimkan pesan politik penting kepada dunia bahwa India dan Uni Eropa lebih percaya pada perjanjian perdagangan daripada tarif pada saat proteksionisme meningkat.
“beberapa negara telah memutuskan untuk menaikkan tarif”, kata Presiden Dewan Eropa Antonio Luis Santos da Costa pada hari Senin (26/1).
Sekretaris Perdagangan India, Rajesh Agarwal, menyampaikan pada Senin bahwa negosiasi telah selesai dan perjanjian telah difinalisasi.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Costa berada di Delhi, dan pengumuman resmi diperkirakan dilakukan setelah agenda pertemuan puncak bilateral dengan Perdana Menteri Narendra Modi. Begitupun perjanjian ini bukan semata urusan dagang, melainkan bagian dari arah strategis yang lebih luas.
“india dan eropa berkomitmen untuk bekerja sama dalam membentuk tatanan global baru,” ujar Leyen.
Kedua pemimpin Uni Eropa tersebut tiba pada akhir pekan dan menjadi tamu kehormatan perayaan Hari Republik India pada Senin. Pada Selasa, mereka dijadwalkan bertemu Modi dan menghadiri pertemuan puncak bilateral, setelah itu kesepakatan diharapkan diumumkan secara resmi.
Meski demikian, penandatanganan formal kemungkinan baru dilakukan pada akhir tahun ini, setelah perjanjian tersebut disetujui oleh Parlemen Eropa dan Dewan Eropa. Jika mulai berjalan, kesepakatan itu diproyeksikan memperluas akses pasar untuk ekspor India ke Eropa, sekaligus mempermudah masuknya investasi dan barang-barang Eropa termasuk mobil dan minuman ke India.
“Ini adalah contoh sempurna dari kemitraan antara dua ekonomi utama dunia… Perjanjian ini mewakili 25% dari PDB global dan sepertiga dari perdagangan global,” ucap Modi saat meresmikan konferensi India Energy Week pada hari Selasa.
Bagi Indonesia, dinamika ini menandai potensi perubahan kompetisi di pasar Eropa. Jika India memperoleh jalur akses yang lebih longgar melalui kesepakatan baru, produk India berpeluang menjadi pesaing yang lebih agresif untuk sejumlah komoditas dan sektor yang selama ini juga menyasar pasar Uni Eropa.
Riwayat perundingan menunjukkan perjanjian ini tidak mudah dicapai. Pembicaraan India–Uni Eropa dimulai pada 2007 namun terhenti pada 2013 karena hambatan akses pasar dan tuntutan regulasi, sebelum resmi dimulai kembali pada Juli 2022. Sejumlah isu sensitif seperti akses pasar otomotif India, barang pertanian, serta tarif terkait karbon menjadi poin yang kerap mengunci negosiasi, dan detail final perjanjian akan dibaca analis untuk menilai kompromi yang diambil.
Kesepakatan ini juga muncul ketika India dan Uni Eropa sama-sama mencari pasar alternatif di tengah tekanan kebijakan tarif dari Amerika Serikat. India sedang bergulat dengan tarif 50% yang diberlakukan Presiden Donald Trump tahun lalu, sementara Uni Eropa baru melewati pekan penuh tekanan setelah Trump sempat mengancam eskalasi perang dagang dengan sekutu Eropa terkait polemik Greenland sebelum akhirnya mundur.
Uni Eropa saat ini merupakan mitra dagang terbesar India dalam perdagangan barang. Perdagangan barang bilateral mencapai 136 miliar dolar AS pada 2024–2025 dan hampir berlipat ganda dalam satu dekade. Dalam beberapa bulan terakhir, India juga mempercepat strategi diversifikasi lewat serangkaian perjanjian baru, termasuk dengan Inggris, Oman, dan Selandia Baru, serta pakta dengan blok EFTA yang mulai berlaku.
Di sisi lain, Uni Eropa juga terus memperluas jaringan dagangnya. Awal bulan ini, blok tersebut menandatangani kesepakatan perdagangan dengan Mercosur setelah 25 tahun negosiasi, memperlihatkan percepatan agenda akses pasar di tengah ketidakpastian global.
GenZTakeAway
India lagi ngegas masuk pasar Eropa lewat deal raksasa buat RI ini alarm: kompetisi ekspor bisa makin brutal, jadi kita harus upgrade standar dan nilai tambah kalau nggak mau kesalip di pasar UE.

