Astakom.com, Purwokerto – Di usia 63 tahun, Al Maskur, seorang tukang becak dari Sokaraja Barat, Kabupaten Banyumas, telah menghabiskan hampir satu dekade hidupnya di atas roda. Pekerjaannya adalah potret perjuangan wong cilik yang bertarung melawan terik matahari, hujan, dan yang paling berat adalah ketidakpastian penghasilan.
Maskur tahu betul suka duka menjadi tukang becak. Sukanya datang saat “tarikannya sedang bagus,” tetapi dukanya datang saat ia harus pulang dengan tangan hampa.
“Rasanya jadi tukang becak itu ada suka dukanya, sukanya kalau tarikannya sedang bagus, kalau sedang sepi ya sehari pulang dicuekin istri,” ujarnya sambil dengan bahasa Jawa Banyumas, menggambarkan betapa tipisnya hubungan emosional dengan kondisi dapur di rumah.
Dalam sehari, Maskur kerap hanya membawa pulang uang seadanya, bahkan jauh di bawah upah minimum. “Nggak tentu Pak, suka cuma dapat 10.000, 5.000, pokoknya di bawah 50 ribu lah,” ungkapnya.
Penghasilan yang tak menentu ini memaksa Maskur mencari pekerjaan tambahan demi memastikan istri dan seorang anak yang masih duduk di bangku SD tetap bisa makan.
Maskur terpiih sebagai salah satu penerima becak listik
Di tengah perjuangan tersebut, sebuah kabar datang sebagai angin segar. Maskur terpilih sebagai salah satu dari 280 penerima becak listrik yang dibagikan oleh Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) atas komitmen Presiden Prabowo Subianto.
Bantuan ini menjadi harapan baru agar ia bisa meningkatkan penghasilan dan yang terpenting, meringankan tenaga di usia senja.
Rasa haru Maskur terasa berlipat ganda karena ia memiliki ikatan personal yang menyentuh dengan Presiden Prabowo. Ia masih ingat momen di mana ia berkesempatan bertemu langsung, membawa becak roda tiganya yang masih konvensional.
“Kemarin ketika Pak Prabowo datang ke peresmian sumur bor, alhamdulillah saya datang ke sana bawa becak sendirian. Alhamdulillah ketemu langsung dengan Bapak,” ceritanya.
Pertemuan singkat itu memberikan makna mendalam, seolah perjuangannya di jalanan telah dilihat langsung oleh pemimpin tertinggi. Kini, saat namanya benar-benar masuk dalam daftar penerima bantuan tahap kedua, rasa syukurnya meluap.
“Maka dari itu alhamdulillah Pak Prabowo, ini saya terus terang terima kasih sekali, saya dapat di tahap kedua mudah-mudahan nanti datang becaknya,” ucapnya menahan haru.
Bagi Maskur, becak listrik adalah solusi dua arah- ekonomi dan kesehatan. Dengan tenaga listrik, ia berharap bisa menempuh jarak yang lebih jauh untuk mencari penumpang, sehingga penghasilan bisa meningkat di atas ambang batas Rp50.000 per hari.
“Mudah-mudahan dengan ini kita bisa lebih jauh nyarinya. Semoga lebih ringan, terutama buat kesehatan,” tambahnya.
Bertahan Demi Sekolah Anak dan Kisah Uang “Gede”
Meskipun hidupnya penuh ketidakpastian finansial – sering harus meminjam dari teman untuk mengatasi masalah dana keluarga, Maskur tetap berprinsip “berusaha demi keluarga”.
Di rumah, ia tinggal bersama istri yang bekerja sebagai buruh dan seorang anak yang masih SD. Keduanya adalah motivasi utama Maskur untuk tetap mengayuh becak setiap hari, terlepas dari rasa dicuekin istri saat pulang sepi.
“Prinsipnya kami tetap berusaha untuk menghidupi keluarga. Anak sekolah SD alhamdulillah, ya bagaimana caranya pun tetap kita atasi masalah-masalah dana. Kalau belum ada ya pinjam di kawan dulu,” tutupnya.
Pernah dapat tips gede dari wartawan
Kehidupan Maskur juga dihiasi kisah-kisah kecil yang menunjukkan kemurahan hati tak terduga. Ia mengenang momen langka ketika membawa wisatawan dari Jakarta.
“Dulu saya pernah dapat penumpang dari Jakarta, keliling padahal tidak banyak tapi dikasih 100.000. Alhamdulillah ketemu duit gede,” kenangnya.
Kisah-kisah seperti ini yang membuat Maskur tetap bertahan dan bersyukur, meskipun ia mengakui bahwa ia harus mencari tambahan pekerjaan lain di luar mengayuh becak.
Maskur berharap para tukang becak lain di Banyumas juga mendapatkan kesempatan yang sama. Becak listrik ini adalah harapan kolektif agar semua pejuang roda di usia senja bisa merasakan keringanan yang sama. Kini, senyum Al Maskur siap berputar kembali, didukung oleh tenaga listrik, membebaskannya dari beban otot dan, semoga, dari rasa dicuekin istri. (Usm/ aSP)
Gen Z Takeaway
Kisah Al Maskur ini ngingetin kita bahwa perjuangan orang kecil nggak pernah sederhana—di balik setiap senyum tukang becak, ada cerita tentang keluarga yang harus tetap makan, cicilan hidup yang harus jalan, dan harapan kecil yang terus dijaga. Bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo bukan cuma soal alat kerja baru, tapi tentang membuka peluang, menjaga kesehatan, dan ngasih ruang buat masa depan yang lebih layak.
Buat Gen Z, cerita Maskur adalah reminder bahwa perubahan besar bisa dimulai dari keputusan kecil yang menyentuh satu kehidupan—dan dari sanalah gelombang kebaikan bisa menyebar lebih luas.

