astakom.com, Jakarta – Kabar duka kembali lagi datang dari dunia pendidikan pesantren Indonesia. Satu ruang asrama putri di Pesantren Syekh Abdul Qodir Jailani, Kabupaten Situbondo, ambruk pada Rabu, 29 Oktober 2025 kemarin.
Kejadian ini menyebabkan satu santri meninggal dunia, dan menyebabkan 18 santri luka-luka. Berdasarkan laporan dari kantor Kemenag Situbondo, peristiwa terjadi sekitar pukul 00.30 WIB saat hujan deras disertai angin kencang.
Bangunan Asrama yang berukuran sekitar 48 meter persegi itu roboh ketika 19 santri putri sedang berada di dalamnya. Para santri langsung segera dievakuasi oleh pengasuh pesantren, KH. Muhammad Hasan Nailul Ilmi, dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Dirawat di RSUD Besuk dan RSIA Jatimed
Dari hasil pemeriksaan, tercatat 11 santri mengalami luka-luka. Enam di antaranya mendapat perawatan di Puskesmas Besuki, empat orang di RSUD Besuki, dan satu lainnya dirawat di RSIA Jatimed.
Satu santri bernama Putri Helmikia Okta Viantika meninggal dunia sekitar pukul 05.37 WIB di RSIA Jatimed. Almarhumah kemudian dimakamkan pada pukul 08.00 WIB di daerah asalnya.
KH. Hasan Nailul Ilmi, pengasuh pesantren menjelaskan bahwa saat kejadian terdengar suara gemuruh keras sebelum atapnya rubuh.
“Ini musibah, kami berduka. Dari 19 santri yang sedang berada di lokasi kejadian, satu orang santri pun meninggal,” ujar Hasan, saat dimintai keterangan.
Bantuan Langsung dari Kementerian Agama
Kementerian Agama (Kemenag) berduka atas peristiwa ambruk atap satu ruang asrama putri di Pesantren Syekh Abdul Qodir Jailani, Situbondo. Kemenag prihatin dan akan segera salurkan bantuan Rp200 juta untuk renovasi asrama.
Bantuan akan diantar langsung oleh Direktur Pesantren Basnang Said pada 30 Oktober 2025. “Kami sampaikan duka cita atas peristiwa ini,” terang Dirjen Pendidikan Islam Amien Suyitno di Jakarta, Rabu (29/10/2025).
“Insya Allah Kemenag akan beri bantuan Rp200 juta dan itu akan diantar langsung oleh Direktur Pesantren pada Kamis besok,” sambungnya.
Kemenag juga turut mendoakan seluruh santri yang menjadi korban atas insiden ini.
“Kita doakan semoga santri yang wafat mendapat tempat terbaik di sisi Allah Swt. Santri yang luka semoga lekas sehat dan pulih. Aamiin,” sambungnya.
Dirjen Pendidikan Islam berharap peristiwa sejenis tidak terjadi lagi. Pihaknya telah melakukan proses pendataan agar dapat dilakukan proses afirmasi.
Insiden Sedang Diselidiki oleh Pihak Kepolisian
Kapolres Situbondo AKBP Rezi Dharmawan menyampaikan bahwa pihaknya masih menyelidiki penyebab pasti ambruknya atap bangunan tersebut. Dugaan awalnya mengarah pada faktor cuaca ekstrem, namun hasil pastinya masih menunggu pemeriksaan teknis dari ahli bangunan.
“Sampai saat ini kami masih mendalami penyebab pasti runtuhnya atap bangunan, dan dugaan sementara bisa karena faktor cuaca, tapi kami tunggu hasil pemeriksaan teknis dari petugas dan ahli bangunan,” kata AKBP Rezi saat dimintai keterangan.
Rezi menegaskan, polisi sudah memasang garis polisi di lokasi kejadian sebagai bagian dari proses penyelidikan. Ia juga memastikan seluruh korban telah mendapatkan perawatan medis dan korban meninggal dunia telah dimakamkan dengan baik.
“Kami turut berduka cita atas musibah ini, dan saat ini fokus kami memastikan situasi aman dan proses penanganan berjalan baik,” ujar AKBP Rezi.(aLf)
Gen Z Takeaway
Musibah robohnya asrama putri di Pesantren Syekh Abdul Qodir Jailani, Situbondo, jadi pengingat serius soal pentingnya keamanan fasilitas pendidikan, khususnya di lingkungan pesantren yang menampung banyak santri. Di tengah duka atas kehilangan satu nyawa muda dan belasan santri luka-luka, respons cepat dari Kemenag dan aparat menunjukkan hadirnya empati dan tanggung jawab negara.
Tapi lebih dari itu, tragedi ini juga seolah menampar kesadaran kolektif kita: bahwa keselamatan bukan sekadar soal takdir, tapi juga hasil dari kesiapan dan perhatian terhadap kualitas bangunan serta manajemen risiko di lembaga pendidikan.

