astakom.com, Jakarta – Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantono mendorong agar koperasi petani turut dilibatkan dalam upaya penguatan ekosistem industri bioetanol, yakni sumber energi yang berasal dari nabati.
Ferry menjelaskan, bahwa Kementerian Koperasi (Kemenkop) siap ambil peran dalam di industri bioetanol, sebagai bagian dari upaya pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo dalam mewujudkan kemandirian energi.
“Kemenkop juga memiliki semangat yang sama dalam mengembangkan potensi bioetanol di Indonesia,” ungkap Ferry dalam siaran pers, dikutip astakom.com, Senin (27/10).
Diketahui saat ini, sudah ada beberapa pihak yang siap menapaki produksi bioetanol di Indonesia. Diantaraya Toyota Motor Manufacturing Indonesia (produsen mobil), Pemprov Lampung (penyedia produk pertanian untuk bahan baku etanol), hingga Kementerian Investasi dan Hilirisasi terkait regulasi.
Menkop optimis ekosistem industri bioetanol tak lama lagi bisa segera terwujud karena memang sudah diinisiasi Kementerian Investasi dengan menyiapkan segala regulasinya. Bahkan, Pemprov Lampung sudah menyiapkan lahan ratusan ribu hektar untuk bahan baku, seperti ubi kayu, tebu, dan jagung.
“Regulasi dari Kementerian Investasi sudah ada, serta pihak Toyota juga berkepentingan untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Artinya, kami di Kemenkop tinggal membahas bagaimana model bisnisnya dengan skema inti plasma
dimana koperasi juga terlibat,” papar Ferry.
Dalam skema tersebut, lanjut Menkop, intinya adalah Toyota, sedangkan plasmanya itu para petaninya yang bisa terkonsolidasi melalui koperasi. Diantaranya, koperasi petani ubi kayu, petani tebu, dan koperasi petani jagung.
“Untuk ekosistem ini, bukan Gapoktan, tapi koperasi. Karena, jika Gapoktan tidak merujuk ke satu badan usaha. Harus ada plasma petani yang diselenggarakan melalui koperasi petani, dengan Toyota pada intinya,” terang Menkop Ferry.
Namun berdasarkan pengalaman-pengalaman yang lalu, Menkop mewanti-wanti jangan sampai plasmanya ketinggalan, sedangkan di sisi lain intinya berjalan terlalu cepat. “Harus selalu ada perbaikan dalam ekosistem inti plasma ini,” tandas Menkop.
Menkop Ferry mendukung penuh ekosistem bioetanol ini dalam model koperasi, khususnya nanti dalam operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Menurut Menkop, Kopdes Merah Putih memang diminta oleh Presiden Prabowo Subianto, bukan hanya sebagai tempat untuk menyalurkan dan menjual barang-barang, tapi juga berfungsi sebagai offtaker dari produk masyarakat.
“Kalau itu bisa dilakukan bersama-sama, kita bisa menyediakan alat-alatnya untuk fungsikan Kopdes Merah Putih sebagai offtaker. Saya rasa ini bagus,” ucap Menkop.
Sementara itu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu menyatakan, ke depan Toyota memang akan fokus pada konsep kendaraan yang menggunakan bahan bakar hidrogen dan etanol.
“Dan kabar baik adalah Kementerian ESDM sudah menyebut bahwa kita sudah masuk ke baham bakar E10, atau penggunaan ethanol 10 persen,” kata Todotua dalam kesempatan yang sama.
Artinya, lanjut Todotua, bila dengan E10 maka akan tercipta potensi captive market sekitar tiga juta kiloliter. “Bahkan, bisa mencapai kebutuhan empat juta etanol. Kondisi ini harus kita seimbangkan dengan kekuatan produksi etanol nasional,” kata Todotua.
Selain itu, menurut Todotua, pihak Toyota juga sudah siap untuk memasukkan pengamanan bahan baku terhadap produk hidrogen dan etanol. “Jadi juga akan terlibat dalam industri hulunya di industri etanol,” kata Todotua.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyebut, bahwa PDB Lampung yang sekitar 26 persen merupakan kontribusi sektor pertanian, sedangkan industri olahannya hanya berkisar 17-18 persen. “Jadi, masih sedikit,” ungkapnya.
Di sektor pertanian nasional, singkong merupakan komoditas pertanian dengan produksi terbesar, disusul tebu dan jagung, dengan luas lahan yang mencapai ratusan ribu hektar.
“Ketiga produk tersebut belum dioptimalkan secara maksimal,” kata Rahmat.
Dengan kondisi itu, Gubernur Lampung menyatakan semangatnya meningkatkan potensi pertaniannya untuk masuk ke dalam ekosistem industri etanol sebagai bahan baku.
“Memang, di Lampung ada dua perusahaan etanol, namun masih terbatas dalam menyerap produk pertanian kami. Masih sangat kelebihan pasokan,” ungkap Rahmat Lagi.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Nandi Julyanto menyatakan bahwa pihaknya akan memaparkan hasil studi pihak Toyota terkait etanol.
Mereka juga akan memaparkan contoh-contoh penerapannya di beberapa negara lain, seperti Brazil, India, dan Thailand, yang telah lebih dulu menjalankan industri bioetanol.
“Ini bisa referensi menjadi untuk langkah kita selanjutnya ke depan,” pungkas Nandi.
Gen Z Takeaway
Jadi gini, guys — pemerintah lagi serius banget ngebangun ekosistem bioetanol, alias bahan bakar nabati yang lebih eco-friendly buat masa depan energi Indonesia. Menkop Ferry Juliantono pengin koperasi petani nggak cuma jadi penonton, tapi ikut main di lapangan lewat model bisnis “inti-plasma” bareng raksasa kayak Toyota. Jadi Toyota fokus di produksinya, sedangkan petani (lewat koperasi) jadi pemasok bahan baku kayak singkong, tebu, dan jagung.

