Senin, 1 Sep 2025
Senin, 1 September 2025

Otto Toto Sugiri: Bill Gates Indonesia yang Merintis Internet & Data Center Nasional

astakom, Jakarta – Di kota yang terkenal sebagai “kota kembang” sekaligus pusat pendidikan teknik di Indonesia, lahirlah seorang anak bernama Otto Toto Sugiri. Tak banyak yang membayangkan, puluhan tahun kemudian, anak itu akan menjadi pionir digitalisasi yang mengubah wajah industri perbankan, internet, hingga infrastruktur data nasional.

Berbeda dengan kisah pendiri startup masa kini yang sering menempuh jalur “drop out” dan membangun usaha di garasi, jalan hidup Otto lebih seperti perjalanan panjang seorang insinyur disiplin, tenang, dan penuh perhitungan. Namun justru dari jalur itulah, ia mencetak perubahan terbesar menjadi “arsitek senyap” di balik era digital Indonesia.

Dari Teknisi ke Pionir Software Perbankan
Lulus dari jurusan Teknik Elektro ITB pada 1977, Otto melanjutkan studi magister Teknik Komputer di RWTH Aachen, Jerman, dan menyelesaikannya pada 1980. Saat banyak teman seangkatannya tertarik menjadi pegawai negeri atau bekerja di BUMN, Otto justru memulai karier di sektor swasta sebagai General Manager IT di Bank Bali (1983).

Era 80-an adalah masa awal komputerisasi di Indonesia. Dunia perbankan masih bergantung pada catatan manual dan mesin ketik. Di sinilah Otto memainkan peran penting, memimpin pengembangan dan implementasi software perbankan modern yang menggantikan pencatatan manual dengan sistem digital. Sistem ini bukan hanya soal kecepatan, melainkan juga keamanan data nasabah, transparansi transaksi, dan efisiensi operasional.

Keberhasilan di Bank Bali membuka mata Otto akan satu hal, kebutuhan software di sektor finansial Indonesia sangat besar, namun pemain lokal hampir tidak ada. Dari sinilah lahir ide untuk mendirikan perusahaan sendiri.

Sigma Cipta Caraka, Merintis Industri Software Lokal
Pada 1989, Otto mendirikan PT Sigma Cipta Caraka, atau lebih dikenal sebagai Sigma. Fokus utamanya membangun software perbankan buatan lokal yang sesuai kebutuhan bank-bank nasional.

Langkah ini berani. Saat itu, software bank biasanya diimpor dari vendor asing dengan biaya lisensi mahal dan kustomisasi terbatas. Sigma menawarkan alternatif yaitu solusi yang lebih murah, bisa disesuaikan, dan dibuat oleh insinyur lokal.

Sigma berkembang pesat. Pada akhir 90-an, banyak bank nasional menggunakan sistem buatan Sigma. Perusahaan ini kemudian diakuisisi oleh Telkom dan berganti nama menjadi Telkomsigma, menjadi bagian penting dari transformasi digital Telkom Group.

Otto sendiri memilih mundur dari manajemen harian, namun jejaknya sebagai pionir software banking lokal tetap diingat. Sigma menjadi bukti bahwa industri software karya anak bangsa bukan hanya mimpi.

Indointernet (Indonet): Pintu Gerbang Indonesia ke Dunia
Belum puas dengan kesuksesan di sektor software, Otto menangkap peluang berikutnya dan itu adalah internet.

Tahun 1994, saat mayoritas masyarakat bahkan belum tahu apa itu e-mail, Otto mendirikan PT Indointernet (Indonet). Inilah Internet Service Provider (ISP) pertama di Indonesia yang menyediakan akses internet komersial untuk publik.

Awalnya, pelanggan Indonet adalah kantor, bank, dan perusahaan multinasional yang membutuhkan koneksi ke luar negeri. Perlahan, warnet mulai bermunculan, dan internet menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kota besar.

Peran Indonet di era 90-an sering terlupakan, padahal tanpa ISP pertama ini, banyak infrastruktur dan kultur digital tidak akan muncul secepat itu. Dari belanja online pertama, chat IRC, hingga boom e-commerce, semua berawal dari pionir seperti Indonet.

DCI Indonesia: Menyatukan Internet dan Data dalam Skala Nasional
Visi Otto selalu lebih jauh ke depan. Ketika ISP lain sibuk memperluas jaringan kabel dan bandwidth, Otto sudah berpikir soal fondasi berikutnya yaitu pusat data (data center).

Pada 2011, Otto mendirikan PT DCI Indonesia (DCII). Fokusnya adalah membangun dan mengoperasikan data center berstandar tier-IV tingkat keandalan tertinggi di dunia, dengan uptime lebih dari 99,995%.

Data center adalah “jantung” internet modern. Tanpa pusat data yang andal, semua aplikasi, cloud, dan transaksi digital akan rawan gangguan. Otto melihat celah ini dan Indonesia saat itu masih sangat bergantung pada data center luar negeri, padahal jumlah pengguna internet terus tumbuh.

Investasi DCI Indonesia tidak kecil mencapai ratusan juta dolar untuk membangun gedung, infrastruktur listrik ganda, sistem pendingin, hingga software manajemen. Namun hasilnya terbukti bahwa DCI dipercaya oleh perusahaan global seperti Amazon Web Services, Google Cloud, Alibaba Cloud, dan juga ribuan startup lokal.

IPO Spektakuler dan Lonjakan Nilai
Pada Januari 2021, PT DCI Indonesia resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham DCII. Harga sahamnya melonjak lebih dari 10.000% dalam beberapa bulan, memecahkan rekor di bursa.

Kesuksesan IPO ini membuat Otto Toto Sugiri masuk daftar miliarder versi Forbes, dengan perkiraan kekayaan mencapai US$7–8 miliar.

Namun, lebih dari sekadar kekayaan pribadi, langkah IPO membuka jalan bagi DCI untuk ekspansi. Perusahaan ini kini mengoperasikan lebih dari 10.000 rak server dan menambah kampus data center baru untuk mendukung permintaan yang melonjak.

Pionir yang “Diam-diam” Berperan Besar
Menariknya, nama Otto jarang muncul di panggung media. Ia lebih dikenal di kalangan engineer, banker, dan pelaku industri. Julukan “Bill Gates-nya Indonesia” lebih sering diberikan oleh media bisnis daripada klaim pribadinya.

Di balik layar, Otto adalah figur yang gemar menghabiskan waktu dengan keluarga dan membaca. Ia tidak aktif di media sosial, jarang tampil di seminar publik, dan lebih suka membiarkan karya dan perusahaan yang ia dirikan berbicara.

Kontribusi Nyata dan Penghargaan Negara
Pada 2023, Otto menerima Satyalancana Pembangunan bidang Teknologi Informasi dari Presiden Jokowi. Setahun kemudian, ia mendapat Bintang Jasa Utama salah satu penghargaan sipil tertinggi di Indonesia.

Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kontribusinya dari membangun software perbankan yang memudahkan jutaan nasabah, menyediakan akses internet pertama, hingga mendirikan data center lokal yang membuat layanan digital lebih cepat dan aman.

Dampak Ekonomi dan Sosial
Tanpa software banking modern, banyak bank nasional mungkin tak mampu bersaing dengan pemain asing. Tanpa Indonet, perkembangan internet Indonesia bisa lebih lambat satu dekade. Dan tanpa DCI, layanan cloud yang kita pakai hari ini mulai dari e-commerce, fintech, hingga media streaming mungkin masih harus bergantung ke server di Singapura atau Hong Kong.

Artinya, Otto tidak hanya membangun perusahaan, tetapi juga mempermudah jutaan UMKM, startup, dan pelaku industri digital. Ia ikut membuka lapangan kerja baru, mempercepat transformasi digital pemerintah, dan menghemat devisa negara yang biasanya habis untuk menyewa server luar negeri.

Dalam dunia teknologi, pencapaian sering diukur dari inovasi produk aplikasi, algoritma, atau gadget baru. Otto Toto Sugiri berbeda ia membangun infrastruktur.

Infrastruktur digital seperti data center, jaringan internet, dan software perbankan adalah pondasi yang sering tak terlihat namun tanpa itu, tak akan ada e-commerce, fintech, big data, atau AI.

Dengan pendekatan engineer sejati, Otto meninggalkan warisan yang tahan lama, sistem yang bekerja, server yang menyala tanpa henti, dan data yang selalu tersedia.

Dari perjalanan Otto Toto Sugiri, kita belajar bahwa inovasi bukan selalu soal “produk” viral, melainkan juga soal membangun ekosistem.

Ia membuktikan, meski tak banyak bicara di depan publik, seorang insinyur bisa mengubah negara cukup dengan visi, kesabaran, dan keberanian untuk berinvestasi di masa depan.

Dan setiap kali kita membuka aplikasi, mentransfer uang, atau menonton video streaming tanpa buffering, mungkin kita tak sadar di balik layar, ada sosok Otto Toto Sugiri dan timnya yang sudah merintis jalan sejak puluhan tahun lalu.

Feed Update

AI Ubah Wajah Perfilman, Lebih Efisien Tapi Jadi Tantangan Etika dan Profesi Kreatif

astakom.com, Yogyakarta – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin merambah ke berbagai sektor, termasuk industri kreatif dan perfilman. Jika sebelumnya produksi film identik...

Ancaman Q-Day: Dunia Digital Hadapi Transisi Kriptografi Pasca-Kuantum

astakom.com, Jakarta – Para pakar keamanan siber memperingatkan bahwa dunia digital tengah berpacu dengan waktu menghadapi ancaman Q-Day, yaitu saat komputer kuantum mampu membobol...

Sri Mulyani Bantah Sebut Guru sebagai Beban Negara, Ngaku Jadi Korban Deepfake

astakom.com, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati meluruskan isu yang menuding dirinya menyebut guru sebagai beban negara. Klarifikasi ini disampaikan Sri Mulyani...

Deretan Game Besar yang Akan Rilis: GTA VI, Metal Gear Solid Delta, hingga Assassin’s Creed Hexe

Astakom.com, Jakarta – Jika paruh pertama 2025 sudah menghadirkan game-game terbaik, maka sisa tahun ini hingga 2026 dipastikan akan menjadi ajang rilis besar yang...

Terkini

Viral

Videos