astakom.com, Jakarta — Film Agak Laen: Menyala Pantiku! benar-benar lagi di mode menyala. Melalui unggahan Instagram resmi @imajinari.id, rumah produksi Imajinar, yang dikutip Senin, (26/1/2026).
Pengumuman itu disampaikan lewat postinga video dengan caption santai khas Imajinari, “Apa? Kelen pada nungguin? 👀 Nihh ya… sampe hari ini udah 10,900,394 pasukan yang mampir ke Wisma Kasih bareng para ketua.”
Angka tersebut langsung bikin warganet heboh dan jadi perbincangan hangat di media sosial.
Agak Laen: Menyala Pantiku! kian dekat dengan rekor Avengers: Endgame
Capaian 10,9 juta penonton ini membuat Agak Laen: Menyala Pantiku! kian dekat dengan rekor Avengers: Endgame, yang selama ini masih bertengger sebagai film terlaris di bioskop Indonesia. Selisih jumlah penontonnya kini disebut hanya tinggal puluhan ribu.
Fakta ini terasa “agak laen” karena Agak Laen bukan film superhero, bukan juga blockbuster Hollywood, melainkan komedi lokal dengan gaya absurd dan dialog receh yang justru sukses menarik jutaan penonton ke bioskop.
Tetap ajak penonton gas terus
Tak berhenti di angka, Imajinari juga tetap memanaskan euforia lewat unggahan tersebut. Ajakan “Kita gaskan lagi, pasukan!” jadi penegasan bahwa perjalanan Agak Laen: Menyala Pantiku! di bioskop masih terus berlanjut, meski akhir pekan telah lewat.
Antusiasme penonton yang masih tinggi dinilai jadi modal kuat bagi film ini untuk terus menambah jumlah penonton dalam beberapa hari ke depan. Dukungan dari mulut ke mulut, media sosial, hingga jadwal tayang yang masih padat, membuka peluang Agak Laen untuk terus melaju dan mencetak rekor baru.
Komedi lokal yang jadi fenomena
Kesuksesan Agak Laen: Menyala Pantiku! menegaskan bahwa film komedi Indonesia bukan sekadar hiburan ringan, tapi sudah menjelma jadi fenomena budaya pop.
Mulai dari jargon film, potongan dialog viral, sampai meme yang berseliweran, semuanya ikut memperpanjang umur hype film ini.
Dengan pendekatan cerita yang dekat dengan keseharian dan promosi yang relate dengan audiens muda, Agak Laen berhasil membuktikan bahwa film lokal bisa berdiri sejajar—bahkan menantang—rekor film global.

