astakom.com, Bekasi— Setiap tahunya, ribuan Perguruan Tinggi di Indonesia meluluskan jutaa-an sarjana. Menurut data penelusuran di internet, tahun 2023-2025 diperkirakan ada sekitar 1,3- 1,9 juta lulusan Sarjana di Indonesia.
Dari jumlah juta-an Sarjana itu, pasti diantaranya ada yang menempuh studi dibidang pendidikan. Dengan orientasi menjadi tenaga pengajar.
Apakah jumlah lulusan sarjana pendidikan tersebut berbanding lurus dengan jumlah lowongan pengajar yang ada?
Data tadi belum termasuk lukusan dari luar negeri yang kembali ke Indonesia lho..
BACA Yuk!
Kisah Guru Sekolah Rakyat: Rifki Nurwan Aziz
Namanya Rifki Nurwan Aziz, adalah anak muda lulusan Perguruan Tinggi dari Australia. Kisahnya memilih jalan menjadi pengajar di Sekolah Rakyat menarik untuk kita simak.
Sekaligus menjadi contoh nyata, bagaimana anak muda berpendidikan tinggi dalam memilih jalan pengabdian di tengah masyarakat. Lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang sempat melanjutkan studi ke Australia ini, kini mendedikasikan dirinya sebagai pengajar di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi.
Dalam wawancaranya dengan astakom.com, Rifki ternyata memang tertaik menjadi bagian langsung dari perjuangan Presiden RI Prabowo Subianto dalam mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas bagi semua anak bangsa, terutama mereka yang datang dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Rifki sejalan dengan Visi Presiden Prabowo
“Program dari Pak Presiden ini punya tujuan besar: memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan* tegas Rifki.
Ia melanjutkan, “Saya ingin menjadi bagian dari perjuangan itu — memberikan motivasi dan semangat agar anak-anak bisa percaya diri dan meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Rifki dengan antusias, saat ditemui di Kompleks Sentra Pangudi Luhur, Bekasi, pekan ini.
Sudah lebih dari tiga bulan Rifki mengajar di SRMA 13 Bekasi. Ia menyaksikan transformasi luar biasa pada para siswanya. Anak-anak yang awalnya pemalu, canggung, dan enggan berinteraksi kini perlahan berubah menjadi lebih percaya diri, aktif, serta berani tampil di depan kelas.
“Pertama kali melihat anak-anak, mereka itu seperti tidak ada harapan untuk bisa berkembang — malu-malu dan sulit berbaur. Tapi dengan berjalannya waktu, Alhamdulillah anak-anak sekarang menjadi percaya diri,” ungkap Rifki yang juga dipercaya menjabat Wakil Kepala Sekolah SRMA 13 Bekasi.
Menurutnya, suasana belajar yang kondusif dan dukungan penuh dari pemerintah telah membuka pintu kesempatan yang sebelumnya seakan tertutup rapat bagi anak-anak dari keluarga pemulung, buruh kasar, hingga pekerja harian lepas.
Potensi dan Cita-cita
Lebih jauh, Rifki menuturkan bahwa para siswa kini mulai menemukan minat dan bakat mereka masing-masing. Ada yang menunjukkan bakat di bidang seni seperti paduan suara, ada pula yang menonjol dalam kegiatan paskibra, dan ada yang berprestasi di olahraga tradisional pencak silat.
“Dulu mereka membisu, tidak ada kreativitas. Sekarang senyumnya mulai lebar, semangat belajarnya tumbuh. Karena ekonomi bukan lagi halangan untuk mereka bisa mencapai cita-cita,” tambah Rifki, yang mengajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN).
Hasil dari kerja keras siswa dan guru pun mulai terlihat. Kelompok paduan suara SRMA 13 Bekasi pernah tampil di Istana Negara saat upacara HUT ke-80 Republik Indonesia, sebuah pencapaian yang membanggakan sekaligus membuktikan potensi besar yang lahir dari program Sekolah Rakyat.
Mengubah Lingkungan
Salah satu cerita yang sangat membekas di hati Rifki adalah kisah Jumaro, siswa kelas 1E. Berasal dari keluarga pemulung di Bantar Gebang, Jumaro memendam mimpi besar untuk memperbaiki lingkungan tempat tinggalnya.
“Jumaro ingin menjadi biologis. Dia bercita-cita kuliah di IPB untuk belajar cara membuat lingkungan Bantar Gebang lebih bersih dan wangi. Katanya, ‘Sekarang baunya menyengat sekali, saya ingin sekolah tinggi supaya bisa memperbaikinya,’” tuturnya.
Cerita ini menunjukkan betapa kuatnya semangat anak-anak meski mereka tumbuh di tengah keterbatasan. Rifki meyakini bahwa mimpi besar mereka bisa terwujud dengan konsistensi belajar dan dukungan yang berkelanjutan.
“Saya yakin cita-cita mereka bisa tercapai. Jangan menyerah, semangat terus belajar. Pelan-pelan saja, pasti bisa,” ujarnya penuh haru.
Pendidikan Hilangkan Rantai Kemiskinan
Rifki menilai, program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo benar-benar tepat sasaran. Program ini bukan hanya menyediakan pendidikan gratis dan berasrama, tetapi juga memberikan kesempatan bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk mengembangkan diri, berani bermimpi, serta memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
“Terima kasih, Pak Presiden Prabowo. Program ini sangat baik dan tepat sasaran. Bagi mereka yang menganggap ekonomi sebagai penghalang terbesar untuk menggapai cita-cita, Sekolah Rakyat telah membuktikan bahwa pendidikan bisa memutus rantai kemiskinan,” tutupnya.
Bagi Rifki, pengabdiannya di SRMA 13 Bekasi adalah panggilan hati. Ia percaya bahwa setiap anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan berkualitas tanpa terkecuali. Kisah-kisah perubahan murid-muridnya menjadi bukti nyata bahwa dengan pendidikan, masa depan bisa diubah, dan mimpi bisa diwujudkan.(Usm/aRSp)
Gen Z Takeaway
Cerita Rifki Nurwan Aziz, guru muda lulusan UPI Bandung yang sempat menimba ilmu di Australia, jadi bukti kalau ilmu terbaik itu bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk kembali ke masyarakat. Dengan mengajar di Sekolah Rakyat, Rifki ikut mewujudkan mimpi Presiden Prabowo Subianto, memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan..

